Dampak revolusi hijau justru telah membuat petani tidak mandiri, semua harus beli, pupuk, benih, pestisida. Tak seperti dahulu, ketika petani masih belum tahu cerita revolusi hijau, mereka pakai pupuk sendiri (pupuk kandang), benih sendiri, dan tanpa pestisida, kalaupun menggunakan pasti dengan pestisida hayati. Saat itu ekosistem masih terjaga dan mekanisme alam dengan sendirinya mengatur apa yang ada di dalamnya. Sekarang, harga hasil panen tidak nentu dan cenderung murah, padahal cost produksi cukup tinggi. Akhirnya, sektor ini seakan tidak menjanjikan. Yang lebih mengkhawatirkan bukan generasi petani sekarang, tapi 10, 20 tahun kedepan, ketika anak-anak mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan profesi kepertanian ayahnya, akhirnya menjual lahan subur warisan nenek moyangnya. Pada akhirnya pemerintah menjerit (atas nama konversi lahan). Kalau sudah begini, siapa yang bisa di salahkan. Kearifan lokal Indonesia dengan ribuan budaya yang arif, termasuk budaya bertaninya. Mereka punya cara sendiri untuk bertani dan bahkan telah terbukti mampu beradaptasi terevolusi hijauadap spesifik lingkungannya Tiba-tiba datanglah revolusi hijau, mereka …