Dalam rangka meningkatkan persediaan dunia akibat peningkatan penduduk, Presiden Soeharto menyanangkan gerakan revolusi hijau. Hal ini dilakukan pada tahun 60-an untuk meningkatkan penyediaan pangan yang diringi dengan meningkatnya jumlah penduduk. Beberapa ahli berpendapat bahwa revolusi hijau merupakan sebuah gerakan massal dan massif dalam peningkatan hasil produksi pertanian, khususnya padi dan gandum. Perubahan yang dilakukan berupa perubahan fundamental dalam penggunaan teknologi di bidang pertanian yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pertanian hingga tiga kali lipat (dari produksi pertanian pada saat itu) hanya dengan penambahan 30% areal tanam (Pingali 2012). Penggunaan paket teknologi saat itu sudah berevolusi hijau dan mungkin hingga kini dampaknya bisa kita rasakan. Paket teknologi yang diberikan berupa penggunaan bibit unggul, pupuk buatan, serta sistem pertanian yang monokultur. Bibit unggul merupakan salah satu teknologi berupa rekayasa genetik yang bila diaplikasikan dapat meningkatkan produktivitasnya. Penggunaan bibit unggul tentu harus diiringi dengan pemberian pupuk yang menyokong pertumbuhan tanaman. Paket pupuk buatan digunakan bertujuan untuk membantu mempercepat pertumbuhan. Selain itu, tanaman juga diberi pestisida untuk menanggulangi hama penyakit yang menyerang tanaman. Sistem pertanian difokuskan pada sistem monokultur, sehingga pola penanaman lebih mudah dalam manajemen penamanan dan pemanenan.
Hasil yang diperoleh saat itu sangat signifikan, sehingga dapat mengubah wajah Indonesia dari negara pengimpor beras menjadi negara berkecukupan pangan, dari yang rawan pangan menjadi swasembada, dari petani berskala kantung menjadi skala karung, dan yang telah mengantarkan presiden Soeharto pada tahun 1984 maju membawa wibawa agung untuk sekedar bertutur sapa dengan elit dunia di panggung FAO. Menarik sekali ceritanya, dan sayang saya belum mengalaminya, karena saya lahir generasi 90an dan tentu belum bisa melihat dan merasakan dampaknya secara langsung.
Menilik cerita indah revolusi hijau, ia ibarat bakteri ragi yang mampu mengubah karbohidrat menjadi etanol yang racun baginya, yang menghasilkan sesuatu yang kelak membunuhnya. Disamping dampak positif dalam peningkatan penyediaan pangan. Revolusi hijau telah sedikit banyak menyumbangkan keterpurukan cerita indah pertanian kita. Revolusi hijau dianggap mengalami kegagalan karena telah meninggalkan bekas kegelapan berupa hilangnya plasma nutfah terbesar kita (Indonesia yang megabiodiversitas), kualitas lahan mengalami penuruanan, kondisi lingkungan yang memprihatinkan. Ketergantungan pada pupuk kimia dan pestisida dapat mengganggu ekosistem, serta dapat menurunkan produktivitas pertanian stagnan. (Hasan Bisri/Etha)
Penulis merupakan mahasiswa Departemen Proteksi Tanaman IPB.