Imam Nawawi al-bantani dalam kitab nurudholam menjelaskan, saya memuji Allah dengan lisan atas nikmat ini beserta hormat saya kepada Allah. Saya berikrar dan beri’tikad bahwa segala pujian itu tetap pada Allah. Kiyai Nadhim membuka kitab dengan pujian kepada Allah, karena memenuhi hak dari segala sesuatu yang wajib baginya yaitu syukur nikmat berupa mandhumah ini. Kata hamdu menurut bahasa bermakna pujian dengan lisan atas anugrah yang suka rela dengan tujuan penghormatan, baik penghormatan tersebut dengan perbandingan ataupun tidak. Pembagian pujian itu ada 4 : Pujian qodim li qodim, yaitu Allah memuji dzat-Nya sendiri. Pujian qodim li hadist, seperti Allah memuji Nabi Muhammad SAW Pujian hadits li qodim, seperti manusia memuji Allah Pujian hadist li hadist, seperti perkataan Nabi Muhammad yang memuji Abu bakar. Adapun kata hamdu menurut istilah berarti perbuatan yang muncul dari penghormatan atas sang pemberi nikmat. Penghormatan tersebut baik berupa penuturan dalam lisan, kecintaan dalam hati, ataupun pengamalan dengan anggota badan. Kata al-qodim dalam bait diatas artinya dzat yang ada, yang mana bagi-Nya tanpa awal dan tidak akan hilang. Kata …