Habib Luthfi dan Komunitas Motor

Sekitar satu jam yang lalu aku yang baru turun dari angkutan umum Cirebon hendak berjalan kaki menuju rumah yg jaraknya sekitar 600 meter. Bagi ku yang diajarkan “pelit” sedari kecil, jarak segitu masih terjangkau untuk ditempuh dengan berjalan kaki. Hujan yang merintik juga tak masalah lah untuk menarungi jalan yang mungkin oleh sebagian orang dianggap jauh bila tak terbiasa jalan kaki. Baru jalan sekian meter sudah ada yang memanggilku, dia berusaha sekuat pita suaranya untuk membuat kuping ku yang tengah tertutup headset, sehingga aku pun tak sadar kalau tengah dipanggilnya. Setelah sadar ternyata orang yang memanggilku itu ternyata tetanggaku, yang dikenal sebagai sang aktivis komunitas motor. Aku kemudian dimintanya duduk disampingnya sembari mengobrol ringan.

Seperti biasa setiap kami berjumpa dia lebih banyak memegang kendali obrolan. Dia selau membicarakan hal yang membuatku bisa mengenang masa lalu dan berangan-angan untuk kedepan, ya obrolan ketika kami memulai masa kecil hingga kisah hidupnya sekarang. Beberapa kisahnya kerap mengejutkan dan memberikan inspirasi bagi ku. Tak dinyana, klimaks dari obrolan kami adalah bahwa dia salut dengan sosok Habib Luthfi Bin Yahya yang tidak pernah pilih-pilih dalam berdakwah. Dia kemudian bercerita bahwa belum lama komunitas motornya mengadakan acara besar di Pekalongan dan konon bersamaan waktunya dengan jadwal Majlis Habib Luthfi. Kemudian dari pihak Habib Luthfi dengan kerendah hatiannya menawarkan “acara sampean dulu yang diadakan atau acara kami?”. Singkat cerita, dari pihak Habib Luthfi menerima kalau acara komunitas motor yang didahulukan kemudian selepas acara komunitas motor, para anggota komunitas tersebut belum “bubar” dan tak lama kemudian sebagian dari mereka terisak-isak karena Habib Luthfi ndawuh yang intinya “saya sih priatin dengan kondisi kalian semua, di dunia saja sudah tidak enak, apalagi di akhirat?” Sang Habib kemudian memasukkan sedikit nasihat2nya secara halus bagi mereka. Beberapa anggota komunitas tersebut memang ada yang tatoan, urakan, dan memiliki indikator lain yang membuat kebanyakan orang nyinyir dan tidak mau merangkul mereka. Namun,ulama besar sekelas Habib Luthfi yang kapasitasnya tidak hanya diakui oleh ulama nusantara tetapi juga ulama mancanegara (sekarang sedang berlangsung Jatman Event Konefernsi Ulama Internasional Bela Negara atas prakarsa beliau dan Jatman) mau mengakui keberadaan mereka, mau peduli dengan kondisi mereka, dan masih mengharapkan mereka untuk menjadi insan yang lebih baik cukup menyentuh bagi mereka. Lalu bagaimana dengan kita? Jangankan mikirin orang lain, ke diri sendiri aja kerap nggak kasihan. (Arief/Etha)

Langit Cirebon dikala malam, 13022016 pukul 23.20

Arief Rizqillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *