KH. Idrus Romli: Memperkokoh Ajaran Aswaja itu Penting

Kuala Lumpur, KMNU Online

Dalam Dialog Aswaja bertajuk “Masa Depan Aswaja di Nusantara: Harapan dan Tantangan”, KH. Idrus Ramli berbicara tegas dan lantang tentang perlunya memperkokoh ajaran Ahlu al-Sunnah wal-Jama’ah (Aswaja) di bumi Nusantara.

Selain Syiah dan aliran lainnya, diskusi terbuka tersebut secara khusus menyorot tentang perkembangan beberapa kelompok puritan. Dialog Aswaja yang berlangsung di komplek Kulliyah of Islamic Revealed Knowledge and Human Sciences (IRKHS) International Islamic University Malaysia (IIUM) tersebut berlangsung cukup menarik. Latar belakang peserta yang cukup heterogen membuat diskusi tidak hanya dipenuhi pertanyaan pro, namun tanggapan, klarifikasi, kritik yang bernada kontra pun muncul ke permukaan.

Secara umum, Idrus Ramli menyerukan bahwa masyarakat Nahdliyyin harus menyadari keadaan mereka yang semakin terjepit. Untuk itu, ia memaparkan tantangan besar Aswaja melalui empat pendekatan: ekonomi, media, propaganda, dan intelektual/keilmuan.

“Perjuangan (mempertahankan aqidah Aswaja) ini harus kita lakukan dari berbagai segi, mulai dari ekonomi, media, propaganda yang benar, dan pemantapan intelektual di tingkat kader-kader muda,” tandas aktivis Aswaja Center Jatim ini.

Terkait masalah khilafah Islamiyyah yang secara massif dipropagandakan oleh salah satu organisasi sosial keagamaan, beliau menyatakan secara eksplisit bahwa untuk Negara Indonesia di masa sekarang ini, NKRI adalah pilihan terbaik untuk kemaslahatan masyarakat, bangsa dan Negara. Bahkan pengusung Khilafah ini secara ideologis hamper sama dengan Muktazilah dan Syi’ah. Aliran-aliran ini sama-sama tidak beriman terhadap Qadla` dan Qadar.

“Segala aktivitas manusia tidak ada kaitannya dengan takdir, dan takdir tak ada sangkut paut dengannya,” tulis Taqiyyuddin An-Nabhani (1914-1977 M), the founding father Hizbut Tahrir, dalam master piece-nya, Asy-Syakhshiah Al-Islamiyyah.Ini dari ideloginya, belum ke fiqhnya yang menghalalkan meraba dan berjabat tangan wanita bukan mahram (Lihat: An-Nidzam Al-Ijtima’i fil Islam hal 53 karya lain Taqiyyuddin).

Oleh karena itu, umat Islam kini harus berhati-hati dengan jargon-jargon yang terlihat sangat religi, namun ternyata isi ajarannya begitu jauh dari norma-norma agama.

Begitu juga dengan paham yang menolak bermadzhab, beliau juga dengan tegas menyatakan bahwa bermadzhab itu suatu keniscayaan. Propaganda “kembali pada Quran dan Sunnah” sesungguhnya masih dipenuhi pertanyaan, dan dalam kasus tertentu bisa disalahkan.

“Apakah mereka mengira bahwa ketika bermadzhab berarti bahwa kita tidak mengikuti Qur’an dan Sunnah? Apakah juga berarti bahwa para imam madzhab itu tidak mengikuti Qur’an dan Sunnah?” tanya beliau kritis. Sejarah menunjukkan, lanjutnya, bahwa tidak semua orang Islam, bahkan sejak era Sahabat, mampu mengambil hukum langsung dari Qur’an dan Sunnah. Dan jika hal tersebut dipaksakan, justru akan membahayakan. Pada posisi inilah, terletak pentingnya bermadzhab kepada salah satu dari sekian madzhab-madzhab yang ada.

Ditambah dengan realita para penyeru propaganda ini. Bila kita cermati dalam-dalam, kita akan semakin tahu yang dimaksud dengan Al-Quran dari jargon “Kembali ke Al-Quran” hanyalah ayat tiga surat Al-Ma`idah. Bahwa Islam sudah sempurna, tidak perlu hal-hal baru lagi. Namun, nampaknya mereka belum paham apa yang dimaksud dengan “sempurna” dalam ayat ini. Maksud sempurna dalam ayat tersebut adalah dalil-dalil agama Islam itu sudah sempurna, sehingga apapun yang baru di kemudian hari bisa dipertimbangkan dengan dalil-dalil tersebut: bila sesuai dengannya, maka kita terima; bila tidak sesuai, kita tolak. Bukannya Islam menolak seluruh yang baru secara membabi buta. Tidak! Sedangkan, kembali ke hadits/sunnah yang mereka gelorakan juga hanya pada hadits “Kulla bid’atin dlalaalah”.

“Makanya,” kesan Ustadz Idrus, “jadi da’i mereka itu mudah sekali. Cukup hafal ayat tiga Al-Ma`idah dan hadits ini sudah bisa berkoar-koar di media-media Islam.” Selorohnya, membuat para hadirin sedikit cekikikan.

Sedangkan menjadi juru dakwah di kalangan kita, menurutnya, sangatlah sulit. Sebab, dalil-dalil kita banyak, sangat kompleks. Hampir setiap ‘amaliyah, punya dalil-dalilnya tersendiri. Mestinya, kita harus lebih percaya diri dan berhak menyandang ahlus sunnah, dan merekalah ahludl dlalalah.

Secara khusus, ia menyatakan bahwa perbedaan antara Aswaja dan Wahhabi tidak hanya terletak pada level ‘amaliyyah (syari’ah). Tidak sesimpel yang dikemukakan oleh Prof. Dr. KH. Musthofa Ali Ya’qub melalui karyanya. Namun, perbedaan kita terletak pada level aqidah. Dalam ranah tauhid, Aswaja merupakan ahlut tanzih (mensucikan Allah dari segala kekurangan-kefana`an, “Tiada sesuatupun seumpama Allah”), sedangkan mereka sudah tergolong mujassimah-musyabbihah, mengklaim Allah bertempat, memiliki muka, dua tangan, dua mata, dan seterusnya.

“Oleh karena itu, Wahhabi bukanlah Ahlus Sunnah waljama’ah, baik secara ‘aqidah maupun ‘amaliyyahnya.” tegas Ust. Idrus, mengakhiri jawaban atas pertanyaan salah satu peserta.

Kesempatan berikutnya, peserta lain mengungkapkan bahwa tantangan Aswaja tidak hanya dari luar. Tantangan internal juga harus diwaspadai, seperti adanya friksi NU “garis kanan-garis kiri”. “Garis Lurus,” celetuk para audiens. Dan di akhir ungkapannya, ia juga mengidolakan Al-AlBani yang sangat berkhidmah pada hadits, sehingga dijadikan rujukannya untuk mendeteksi status hadits.

Ust. Idrus pun merespon. Iapun membenarkan tantangan internal Aswaja tidaklah kecil. Kepada kader-kader muda sekaranglah masa depan Aswaja kelak, makanya harus memberdayakan potensi dan peduli pada perkembangan-perkembangan terkini. Adanya NU garis lurus, Sarkub, MediaMuslimNews, Muslim Moderat, dan media-media lainnya merupakan kreatifitas anak-anak muda NU kultural sekarang, yang mesti diapresiasi, dan juga perlu dibimbing.

Sedangkan untuk Al-Albani, Ust. Idrus membedahnya lebih dalam. Dalam ilmu hadits, sanad merupakan hal mutlak yang harus dimiliki seorang pakar hadits. Dan sangat disayangkan seorang Al-Albany tak memiliki satu sanad haditspun, sebab ia mempelajari hadits secara otodidak, tanpa guru. Karena otodidak, banyak kontradiktif dalam karya-karyanya. Sayyid Hasan Ali As-Seggaff telah mengompilasi kontradiktif yang mencapai angka ribuan tersebut dalam karyanya, Tanaqudlat Al-Albani Al-Wadlihah. Selain itu, beliaulah pakar hadits yang menyamakan status hadits dla’if dengan palsu (mawdlu’), padahal pakar-pakar hadits dari dulu jelas-jelas membedakan dua status hadits tersebut.

Sebenarnya, ada lagi pembicaraan yang tak kalah seru dari ini. Seorang mahasiswi asal Malaysia ikut menyumbangkan pertanyaan di akhir dialog. Tentang konsep “trinitas” Tauhid Wahhabi, apakah benar merupakan embrio bagi lahirnya teroris Muslim? Dengan singkat, sebab waktu yang tak mengizinkan, Ust. Idrus membenarkannya dan tidak bisa menjelaskannya secara detail. Hanya inti-intinya saja. Pertama, konsep pembagian tauhid menjadi tiga tersebut tidak memiliki dasar legal dari Al-Quran maupun As-Sunnah, bahkan bertentangan dengan kedua sumber tersebut. Kedua, dengan dalih Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyyah, mereka mengkafirkan para peziarah kubur, yang bertawassul-bertabarruk sebab tidak mengesakan Allah Swt. Dan pendekatan Tauhid al-Asma` wash Shifat menjatuhkan mereka ke dalam ideologi mujassimah/musyabbihah yang sudah disinggung pada permulaan. Untuk lebih jelas teori dan terapan ketiga bagian Tauhid ini, sila baca di link ini: http://www.idrusramli.com/2014/kesesatan-konsep-tauhid-trinitas-wahabi/.

Demikianlah sekelumit catatan Dialog Aswaja bersama KH. M. Idrus Ramli. Meski dari segi ekonomi, media, dan propaganda, kita masih terjepit, namun, lanjut Ust. Idrus, kekuatan intelektual/keilmuan/akademik Aswaja lebih absah dan hujjahnya lebih kuat. Dengan pendekatan akademik inilah, harapan Aswaja di bumi Nusantara akan semakin kokoh dan menyebar luas, menerangi umat Islam seantero dunia. Amiin (Aziz)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *