Saluran pencernaan merupakan pemabatas antara unggas dan ligkungan, serta berfungsi untuk mencerna makanan dan menyerap nutrient yang dibutuhkan untuk kesehatan dan memastikan pada waktu yang bersamaan mengeluarkan racun dari tubuh. Pertumbuhan dan perkembangan saluran pencernaan dan kesehatannya sangat penting untuk mendukung perkembangan dan kesehatan dari organisme didalamnya (Choct, 2009). Kesehatan saluran pencernaan digambarkan sebagai keseimbangan dinamis yang memiliki interaksi komplek antara kualitas nutrisi, populasi mikroflora, dan mukosa usus, serta memastikan fungsi utama dari saluran pencernaan dan keberadaan patogen (Conway, 1994). Sebagai konsekuensinya, menjaga keseluruhan kesehatan memerlukan saluran pecernaan yang bebas dari penyakit, seperti dysbacteriosis, infeksi, inflamasi (Wilson et al., 2005).
Unggas yang sehat secara umum memiliki karkateristik saluran usus yang berfungsi dengan baik. Hal ini merupakan dasar untuk meningkatkan eifiseinsi konversi ransum untuk kebutuhan pokok dan pertumbuhan atau produksi. Karakteristik terpenting dari usus yang befungsi dengan dengan baik adalah keseimbangan dari populasi bakteri didalamnya. Keseimbangan ini berkaitan erat dengan saluran usus ketika ternak diperlakukan dalam kondisi stress seperti infeksi bakteri, temperatur lingkungan yang tinggi, pergantian pakan, dan transportasi (Jin et al., 1997). Beberapa kerusakan saluran penernaan disebabkan oleh bakteri patogen yang mengganggu kesehatan saluran pencernaan, dengan cara menekan efisiensi penyerapan nutrisi. Bentuk subklinis dari infeksi adalah necrotic entritis (NE) yang akan merusak secara lebih cepat dan infeksi jangka pendek. Selain itu, kesehatan saluran penceernaan dapat berpengaruh terhadap jalannya penyerapan nutrien, mobilisasi dan fungsi perkembangan organ, pertumbuhan jaringan dan sistem imun (Kelly dan Conway, 2001).
Beberapa penlitian menduga bahwa pathogenic microflora dalam saluran pencernaan dapat menurunkan absorbsi nutrient dengan cara meningkatkan ketebalan mukosa saluran pencernaan, laju digesta pakan, meningkatkan kebutuhan nutrisi inang dengan cara meningkatkan kembali penebalan mukosa saluran pencernaan dan berkompetisi untuk memperoleh energi dan protein (Apajalahti et al., 2004). Perkembangan pathogenic microflora dapat ditekan dengan cara penambahan antibiotik. Pemberian antibiotik dalam pakan dapat menghambat pertumbuhan exogenous pothogen, sehingga meningkatkan efisiensi nutrisi, kinerja pertumbuhan, dan status kesehatan unggs (Miles et al., 2006). Thomke dan Elwinger (1998) mendeskripsikan bahwa antibiotik dapat mengontrol pertumbuhan dan proliferasi mikroflora dalam saluran pencernaan, namun antibiotik tidak dapat mengontrol pertumbuhan dengan berbagai mekanisme. Antibiotik dibedakan menurut kemampuannya untuk mempengaruhi kerja penyakit tertentu atau meningkatkan pertumbuhan dan efisiensi pakan.
Penggunaan antibiotik sebagai feed additive dapat memberikan efek residu karena efek dari bakteri resisten secara nyata lebih luas dari pada manfaat yang diperoleh dari penggunaan antibiotik sebagai feed additive (WHO, 2003). Efek residu tidak hanya berdampak pada ternak, tetapi juga pada manusia. Sebagai konsekuensi dari semua penggunaan antibiotik, industri perunggasan harus menemukan alternatif untuk pengganti antibiotik. Alternatif yang diberikan harus ramah lingkungan dan melindungi ternak dan manusia yang mengonsumsi produk hasil ternak (Cabuk et al., 2006).
Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah fitobiotik. Phytogenic feed additive atau yang dikenal sebagai fitobiotik merupakan senyawa turunan tanaman yang masuk ke dalam diet untuk meningkatkan produktivitas ternak dengan cara memperbaiki sifat pakan, meningkatkan kiner produksi ternak, maupun memperbaiki kualitas produk hasil ternak. Fitobiotik merupakan growth promotore alami atau non-antibiotic growth promotore, turunan dari tanaman obat-obatan, rempah-rempah, atau tanaman lainnya (Windisch et al., 2007). (Etha ‘Azizah Hasiib*)
Sumber Pustaka
Apajalahti, J., A. Kettunen, and H. Graham. 2004. Characteristics of the gastrointestinal microbial communities, with special reference to the chicken. Worlds Poultry Science Journal. 60: 223-232.
Cabuk, M., M. Bozkurt, A. Alcicek, Y. Akbas, and K. Kucukyilmaz. 2006. Effect of a herbal essential oil mixture on growth and internal organ weight of broilers from young and old breeder flocks. South African Journal of Animal Science. 36: 135-141.
Choct, M. 2009. Managing gut health through nutrition. British Poultry Science. 50: 9-15.
Conway, P.L.1994. Function and regulation of the gastrointestinal microbiota of the pig. In : Souffrant,W.B., Hagemeinster, H. (Eds.), Proceedings of the VI International Symposium on Digestive Physiology in Pigs. EAAP Publication No 80 Dummerstoff, pp. 231-240.
Jin, L.Z., Y.W. Ho, N. Abdullah, and S. Jalaludin. 1997. Probiotics in poultry: modes of action. World’s Poultry Science Journal 53, 351-368.
Kelly D. and S. Conway. 2001. Genomics at work: the global gene response to enteric bacteria. Gut 49, 612-613.
Miles R.D., G.D. Butcher, P.R. Henry, and R.C. Littel. 2006. Effect of antibiotic growth promoters on broiler performance, intestinal growth parameters, and quantitative morphology. Poultry Science. 85: 476-485.
Thomke, S. and K. Elwinger. 1998. Growth promotants in feeding pigs and poultry. III. Alternatives to antibiotic growth promotants. Annales de Zootechnie. 47: 245-271.
Wilson,J., G. Tice, M.L. Brash, and S. St Hilaire. 2005. Manifestations of Clostridium perfringens and related bacterial enteritides in broiler chickens. Worlds Poultry Science Journal 61, 435-449.
Windisch, W.M., K. Schedle, C. Plitzner, and A. Kroismary. 2007. Use of phytogenic products as feed additive for swine and poultry. J Anim Sci published online Dec 11, 2007.
World Health Organization (2003). Impacts of antimicrobial growth promoter termination in Denmark. In Document HO/CDS/CPE/ZFK/2003.1. pp. 1-57. WHO, Foulum, Denmark.
*) penulis merupakan mahasiswa Prodi Ilmu Peternakan UGM dan Depnas Puskom KMNU Nasional