Kartini lahir tak serupa percikan cahaya, dialah obor yang menyulutkan bara
Kartini bukan hanya symbol emansipasi wanita, dialah pembaharu peradaban bangsa
Gagas dan idenya terus menerus diagungkan
Demi manusia, demi kebangkitan kaumnya
Nuranilah penuntunnya
Tetap teguh ia berjalan, meski belenggu adat masih saja memberatkan
Kartini tampil selamatkan kaumnya yang terlilit ketertindasan
Dia hadir tuk mengangkat kita dari jahil dan kebutaan
“Min adz-dzulumaati ilaa an-nuur”
Seberkas cahaya mulai tampak nyata
Kartini bahagia memainkan perannya sebagai guru muda
Menuntun para putrid bangsa keluar dari lorong kegelapan yang menyeramkan
Hingga akhirnya hari itu tiba
Sebuah sangkar emas siap menanti kedatangannya
Sedari dulu, menjadi dewasa adalah hal yang (memang) paling ia benci
Sebab masa itulah yang akan merenggutnya dari pusaran mimpi
Kembali, ia terbelenggu oleh adatnya sendiri
Sahabat Nahdliyyin wa bil khusus Nahdliyyat di manapun berada. Hari ini sebagian besar dari kita merayakan miladnya seorang tokoh bangsa. Ibu kita Kartini, begitulah sepenggal lagu nasional karangan W.R Supratman yang semasa kecil dulu sering kita dendangkan tiap tanggal 21 April. Ya! Tepat hari ini kita merayakannya kembali.
Pemandangan pagi ini mungkin sedikit berbeda. Di berbagai sekolah dan perkantoran, banyak kita temui para siswi, remaja putri bahkan ibu-ibu mengenakan kebaya dan berdandan dengan cantiknya. Mereka merayakan Hari Kartini. Tidak ada yang salah memang, itu adalah bagian dari euforia perayaan hari ini. Namun, coba sejenak kita telusuri sejarah. Merayakan kelahirannya, akan lebih terasa bermakna jika kita mampu menyelami kehidupan dan kepribadian beliau juga. Sehingga yang diharapkan dari perayaan ini bukan hanya sebatas simbolis belaka.
Mengenang sosok seorang Kartini, tentu tak bisa terlepas dari kata emansipasi. Namun, apakah arti sebenarnya dari sebuah emansipasi itu sendiri? Apakah berarti bahwa perempuan harus bisa tampil mengungguli para lelaki? Ataukah dilihat dari kemampuannya menjalankan pekerjaan pria? Saya pikir tidak. Semangat yang diusung Kartini bukan semata-mata seperti itu. Beliau memperjuangkan hak pendidikan kaumnya. Begitu cerdasnya beliau memikirkan masa depan para perempuan pada masa itu dimana perempuan masih dianggap inferior dibanding lelaki. Dan salah satu jalan untuk dapat memperbaiki keadaan adalah melalui pendidikan.
Pendidikan menjadi hak asasi setiap manusia, termasuk perempuan tanpa terkecuali. Sahabat mungkin masih ingat dengan kisah seorang gadis belia dari negeri Pakistan, Malala Yousafzai. Suaranya telah berhasil mengguncangkan dunia pada tahun 2013 silam ketika ia menggaungkan hak perempuan di negerinya untuk bisa mengenyam pendidikan. Di negeri Indonesia ini, kita patut bersyukur karena perempuan mendapat hak yang sama untuk belajar. Kita tidak perlu bergelimang darah untuk sekadar mendapatkan buku dan pena. Maka, marilah kita gunakan kesempatan yang telah Allah berikan ini dengan sebaik-baiknya. Dua hal di dunia ini yang mungkin paling ditakutkan oleh mereka yang tak menghendaki perubahan adalah perempuan dan pendidikan. Sebab dari perempuan yang terdidik inilah akan lahir para pemimpin bangsa yang hebat.
Begitu banyak nilai yang bisa kita ambil dari selarik kisah perjalanan hidup seorang Kartini. Bagaimana beliau memiliki semangat yang tinggi untuk bisa bersekolah seperti kakak laki-lakinya. Beliau enggan bila harus terus hidup dalam kebodohan. Bahkan daya kritisnya sempat membawa beliau pada pertanyaan mendasar yang menjadi awal sebuah tindakan besar dari seorang Ulama sekaliber Kiai Sholeh Darat. “Apa arti ayat yang kubaca ini Kiai? Selama ini aku membacanya tapi aku tak mengetahui sedikitpun tentang artinya.” Pertanyaan itu yang kemudian menumbuhkan inisiatif Kiai Sholeh Darat untuk menulis Tafsir Alqur’an pertama kali dalam bahasa jawa. Dan demi mengelabui para penjajah kala itu, Sang Guru menuliskannya dengan huruf arab yang sekarang ini lebih kita kenal sebagai huruf pegon. Bahkan hingga sekarang, huruf pegon masih menjadi sebuah khazanah tersendiri dalam pembelajaran tradisional ala pesantren di bumi Nusantara ini. Subhanallah…
Perjuangan Kartini pada akhirnya harus ditumbangkan oleh adatnya sendiri. Pada masa itu, seorang perempuan seusianya sudah harus dinikahkan. Ia sempat berontak meminta kebijaksanaan dari ayahandanya. Namun tetap saja, suaranya terpaksa dibungkam. Cobalah kita bandingkan dengan kondisi sekarang, perempuan Indonesia sudah lebih leluasa dalam mengatur hidupnya. Mereka tak lagi terbelenggu adat seperti yang dialami Kartini. Kesempatan kini terbuka lebih luas, tinggal mau atau tidak kita memanfaatkannya. Kisah Kartini telah menjadi tonggak awal untuk kehidupan yang lebih baik bagi perempuan Indonesia. Perjuangannya bagaikan sebuah prolog yang harus kita lanjutkan isinya.
Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan kita semua dalam mencari ilmu dan belajar dari mana saja. “Dia memberikan hikmah kepada siapa saja yang dikehendakinya. Dan barangsiapa yang dikaruniai hikmah, maka sungguh ia telah dikaruniai kebaikan yang berlimpah. Dan tidak ada yang dapat mengingat, kecuali orang – orang yang diberi pemahaman.” (QS. 2: 269)
Akhir kalimat, Selamat Hari Kartini untuk para Nahdliyyat! Seperti apakah kita akan merayakannya? Semoga tidak hanya sebatas euforia sementara. Semoga kita dapat meneruskan semangat dan perjuangan beliau. Segala kebaikan yang ada pada diri beliau, semoga dapat kita tauladani bersama.
Teruntuk beliau, R.A Kartini… Alfaatihah~ (Fzy)