Percaturan pariwisata diranah internasional telah mengakui bahwa Indonesia merupakan salah satu destinasi pariwisata yang cukup diperhitungkan, baik yang bersifat kebudayaan (culture), nilai-nilai sejarah (history), maupun kependidikan (education). Destinasi tempat pariwisata diseluruh penjuru negeri memiliki memiliki keanekaragaman yang tersebar dan cukup melimpah, mulai dari situs-situs bersejarah baik yang ter-expose maupun tidak, spot-spot panorama keindahan alam, serta beranekan kegiatan adat yang kental akan nuansa dan ciri khas budaya Indonesia.
Sektor pariwisata merupakan salah satu sumber penghasil devisa potensial. Perkembangan pariwisata di Indonesia akhir-akhir cukup pesat, hal ini tidak terlepas dari segala bentuk promosi yang dilakukan oleh pemerintah dan didukung dengan tersedianya potensi alam dan budaya yang cukup melimpah sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi investor maupun wisatawan baik domestik dan mancanegara. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), secara keseluruhan jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia pada tahun 2011 mencapai 7,65 juta orang atau meningkat 9,24 persen jika dibandingkan wisatawan mancanegara 2010 sebesar 7,00 juta, selanjutnya berdasarkan penelitian terhadap wisatawan mancanegara yang akan meninggalkan Indonesia (Passenger Exit Survey-PES) yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, menunjukkan mengalami penurunan sebesar 2,49 persen dibanding tahun sebelumnya, yaitu dari 8,04 hari menjadi 7,84 hari. Seiring dengan peningkatan jumlah kunjungan dan pengeluaran wisatawan mancanegara per kunjungan, penerimaan devisa pariwisata pada tahun 2011 mencapai US$8,6 miliar atau naik 13,16 persen jika dibanding penerimaan devisa tahun sebelumnya yang mencapai US$7,6 miliar.
Peningkatan kunjungan wisatawan tersebut masih tergolong memusat (centre) pada beberapa wilayah yang berada di luar Pulau Jawa. Tujuan kunjungan wisata masih didominasi dengan tempat wisata yang menyuguhkan keindahan alam sekaligus memiliki kearifan lokal pada masyarakatnya. Salah satu pengembangan wisata di Indonesia yang mengalami peningkatan cukup signifikan adalah kunjungan wisata berbasis agrowisata, yang didalamnya terdapat serangkain proses agrobisnis (pertanian, perikanan, peternakan, dan perkebunan) yang dipadukan dengan aspek wisata. Potensi pariwisata berbasis agrobisnis dan kearifan lokal ini sangat layak untuk dikembangkan dalam rangka mendorong peningkatan aktivitas pariwisata secara global serta memperkuat sendi-sendi subsektor peternakan khususnya, dan sektor pertanian umumnya. Seluruh rangkaian kegiatan pertanian subsektor peternakan dari hulu (budidaya peternakan) sampai hilir (pasca panen peternakan) atau ketika on-farm sampai off-farm termasuk didalamnya aktivitas peternakan yang berada di wilayah pedesaan memiliki daya tarik tersendiri baik bagi pengembang pariwisata dan wisatawan yang “demam” akan bidang pertanian khususnya subsektor peternakan.
Sebutan Indonesia sebagai negara agraris merupakan salah satu modal awal yang cukup besar yang harus dioptimalkan hasilnya sebagai ujung tombak sumber pendapatan negara, selain itu sektor pertanian subsektor peternakan di Indonesia merupakan sektor yang memiliki kontribusi tinggi dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Bagaimana tidak? Mayoritas penduduk Indonesia bertempat tinggal di daerah pedesaan dengan mata pencaharian yang bertumpu pada sektor pertanian, sehingga sektor pertanian merupakan lapangan kerja yang produktif dalam menyediakan pendapatan yang pada akhirnya dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Kebijaksanaan pemerintah (goverment policy) yang diterapkan terkait pembangunan pertanian secara garis besar berorientasi pada peningkatan produksi hasil pertanian melalui penerapan beberapa teknologi dan bersifat mengikat terhadap segala proses produksi yang dilakukan. Tujuan dari penerapan kebijakan tersebut adalah ketersediaan pangan yang cukup diikuti dengan meningkatnya pangan dalam negeri melalui pencapaian swasembada pangan baik daging, susu, dan telur yang akan berdampak terhadap menurunnya nilai impor pangan. Berdasarkan uraian tersebut, maka diperlukan salah satu terobosan atau upaya untuk memperkuat sektor pertanian yang sangat berdampak terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Salah satu gagasan dan merupakan alternatif yang bisa dikembangkan adalah pengembangan pertanian pedesaan melalui integrasi antara nilai-nilai wisata dan budaya (culture) yang terkandung disektor pariwisata dan proses-proses di sektor pertanian (agriculture).
Pembangunan dan pengembangan pedesaan. Prinsip pembangunan pada dasarnya adalah berasal dari rakyat, dilaksanakan oleh rakyat, serta ditujukan untuk kepentingan rakyat. Prinsip tersebut hendaknya digunakan dalam pembangunan dalam berbagai aspek, seperti aspek politik, ekonomi, sosial budaya, aspek pertahanan dan keamanan, dan sektor pertanian termasuk subsektor peternakan. Pembangunan perdesaan merupakan interaksi antara potensi yang ada dan dimiliki oleh masyarakat serta dorongan dari pihak luar untuk mempercepat pembangunan perdesaan secara berkesinambungan dan merata menuju kemandirian yang tinggi dalam segala aktivitas di pedesaan tersebut. Berdasarkan uraian tersebut, pembangunan perdesaan akan terkait dengan proses perubahan yang terjadi pada tataran nasional dan global yang akan berdampak terhadap kehidupan masyarakat di pedesaan.
Pembangunan tersebut akan berjalan dengan baik apabila ada beberapa hal yang mendukung, antara lain: peran serta atau partisipasi (full employment) artinya semua pelaku ekonomi ikut serta dalam kegiatan ekonomi, homogenitas artinya semua pelaku ekonomi memiliki faktor produksi dan mempunyai kesempatan berusaha dan kemampuan menghasilkan (produktivitas) yang sama, rasionalitas yaitu prinsip efisiensi atau bekerjanya mekanisme pasar artinya interaksi antar pelaku ekonomi terjadi dalam keseimbangan yang mengakibatkan imbalan yang diterima oleh masyarakat seimbang dengan pengorbanan yang dikeluarkan.
Beberapa negara di dunia yang mengembangkan sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan, tak luput juga mengandalkan potensi budaya sebagai salah daya tarik wisata. Keinginan untuk memanfaatkan budaya sebagai daya tarik wisata mulai muncul tahun 1963 ketika Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (United Nations) mengadakan konferensi tentang International Travel and Tourism di Roma. Dalam Laporan Konferensi Roma itu UNESCO menyajikan laporan bertajuk The Cultural Factors in Tourism yang isinya selain menekankan pentingnya pariwisata untuk mempromosikan perdamaian, persahabatan antarnegara, laporan itu juga sebagai deklarasi penegasan tentang pentingnya negara-negara untuk melestarikan (preserve) dan mempromosikan (promote) budaya dalam pembangunan ekonomi negara tersebut.
Beberapa kajian ilmiah menyebutkan bahwa, sektor pertanian termasuk subsektor peternakan didalamnya memiliki peranan yang sangat penting dalam pembangunan dan perekonomian Indonesia, hal ini dikarenakan sektor pertanian merupakan basic atau landasan pembangunan ekonomi yang didapat dari sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM). Proses pertumbuhan pada sektor pertanian mampu mempengaruhi sektor lain. Kondisi ini menyebabkan suatu keharusan akan campur tangan dari pemerintah yang berguna untuk menjembatani program pembangunan daerah pada sektor pertanian sebagai leading sector poros utama dari kebijakan yang akan dibuat. Program pembangunan daerah pada sektor pertanian yang tertuang dalam petunjuk teknis seperti, kegiatan on-farm yang didukung dengan kebijakan untuk peningkatan produksi melalui program intensifikasi pertanian. Program tersebut bermuara pada pengadaan pangan nasional dengan manfaat ganda yaitu mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Peranan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi sangat penting karena sebagian besar anggota masyarakat di negara-negara Indonesia menggantungkan hidupnya pada sektor tersebut. Hal ini jika dilakukan dengan pengarahan dan pengawasan yang sungguh-sungguh dengan tujuan memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya. Peran pertanian sebagai tulang punggung perekonomian nasional terbukti tidak hanya pada situasi normal, tetapi terlebih pada masa krisis ekonomi sekalipun.
Sistem pertanian di Indonesia menyumbang 2,48 persen terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) secara nasional, namun jumlah petani gurem di Indonesia juga semakin meningkat. Usaha pertanian dikembangkan dengan cara usaha tani intensifikasi juga dengan mengembangkan sektor off-farmnya. Industrialisasi pertanian diharapkan mampu menjawab tantangan globalisasi dan persaingan komoditi dan mendapatkan value added dari sektor pertanian perlu dilakukan pengolahan hasil-hasil pertanian menjadi industri olahan, disamping meningkatkan pendapatan keluarga petani juga akan membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat dan membuka peluang ekspor.
Sistem pertanian di pedesaan dengan mayoritas penduduknya bermata-pencaharian petani yang didukung dengan kearifan lokal, namun beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah kesejahteraan petani keterjaminan dari sisi ekonomi yang relatif rendah. Menurut beberapa pengamat pedesaan, kesejahteraan dan keterjaminan tersebut ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain: kepemilikan terhadap obyek produktif pertanian yang terbatas, selain tenaga kerja yang dimiliki, dengan kata lain hanya ada tenaga kerja yang akan mengolah obyek pertanian, terbatasnya akses terhadap transfer ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi yang mendukung kegiatan tersebut, terbatasnya akses terhadap dukungan layanan pembiayaan, kondisi pasar yang kurang kondusif terhadap hasil pertanian, serta ketidakmampuan, kelemahan, atau ketidak-tahuan petani sendiri.
Berdasarkan beberapa uraian diatas, sudah saatnya untuk memberikan kesegaran dalam hal pertimbangan kebijakan. Salah satunya saling mengintegrasikan beberapa komponen utama antara lain wisata, budaya, serta agriculture subsektor peternakan sebagai satu kesatuan hal yang akan memberikan dampak luar biasa terhadap sistem pertanian dan segala kegiatan pertanian tersebut menuju Indonesia berkemandiriaan pangan. Satyaguna Rakhmatulloh