Sekolah Organisasi #3 disampaikan pada saat Mubes KMNU FK UGM di Padukuhan Pogung Lor pada 17 Desember 2016 oleh M. Dliyaudin, Presidium Nasional 5 KMNU Pusat dari Fakultas Kehutanan UGM. Sebelum menyampaikan materinya, Mas Udin memperkenalkan jargon yang hampir selalu menjadi pemantik semangat KMNU,
Siapa kita… KMNU!
Pancasila… JAYA!
NKRI…. HARGA MATI!
Sebelum mengenal KMNU, supaya runtut mari mengenal NU terlebih dahulu. Latar belakang pendirian NU adalah sarana untuk memperbaiki martabat bangsa yang sejalan dengan kemunculan organisasi-organisasi pra kemerdekaan seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah, dsb. Berawal dari Nahdhatut Tujjar dan Taswirul Afkar yang merupakan kumpulan pemuda-pemuda pesantren.
NU memiliki andil yang cukup besar dalam dunia Internasional, salah satunya yaitu ketika muncul gagasan dari Raja Saudi Arabia, King Saud untuk memberlakukan madzhab tunggal di Mekkah setelah merebut tanah hijaz (Makah Madinah) dari tangan Turki Utsmani.
Setelah keruntuhan Kekhalifahan Turki Ottoman, perebutan tanah hijaz dan gagasan pemberlakuan aturan-aturan baru oleh Kerajaan Saudi, organisasi–organisasi islam kaum modernis (Muhammadiyah dan PSII-HOS Cokroaminoto) dan tradisionalis (Pemuda dan tokoh pesantren) mengadakan Muktamar Al-Islam dengan agenda membahas rencana penerapan gagasan baru tersebut salah satunya penggunaan madzab tunggal di Mekah Madinah, dibongkarnya makam nabi dan tempat bersejarah di sekitar kakbah, dsb. Pada muktamar tersebut, kaum modernis menyatakan setuju dan kaum tradisional menolak. Akhirnya ulama-ulama tradisionalis memutuskan untuk mengirimkan perwakilan ke Hijaz untuk menyampaikan keberatan atas gagasan tersebut dan diwakili oleh KH Wahab Chasbullah. Hasilnya hanya makam nabi yang tidak jadi dibongkar.
Waktu berlalu, pada tahun 1954, NU mendirikan badan otonom sebagai wadah bagi pelajar-pelajar NU yaitu IPNU dan IPPNU. Lalu pada tahun 1955, sempat juga dibentuk organisasi KMNU di solo. Tak berselang lama, KMNU meredup karena banyak ditentang oleh pengurus dan kader IPNU dan IPPNU yang tidak ingin tersaingi eksistensinya. Kemudian, seiring berjalannya waktu, mantan kader IPNU dan IPPNU yang telah menjadi mahasiswa merasa tidak memiliki wadah untuk bergerak di tataran universitas, maka dibentuklah PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia).
Waktu terus berjalan dan akhirnya KMNU yang dulunya ada dan hilang kini mulai muncul lagi yang puncaknya pada tahun 2015 lalu melaksanakan Munas Pertamanya di Jogjakarta dengan diikuti oleh 11 KMNU dalam negeri dan 1 KMNU Malaysia dengan kesepakatan didirikanlah KMNU Pusat sebagai koordinator dari KMNU sedunia. Namun, KMNU bukanlah badan otonom yang berada dibawah PBNU. KMNU adalah organisasi yang independen, terbentuk oleh kemauan mahasiswa sendiri yang berfungsi untuk merangkul mahasiswa NU bersama PMII.
KMNU Pusat memiliki 5 presidium yang terdiri dari Presidium Pusat bidang inspektorat jendral (audit), administrasi publikasi, keuangan ekonomi, kaderisasi, dan pengabdian masyarakat. KMNU Pusat terbagi menjadi 2 regional. Regional 1 meliputi Malaysia, Sumatera, dan Jawa bagian Barat. Sedangkan regional 2 meliputi Jogja, Jateng dan Jawa Timur.
Di UGM sendiri, KMNU ada sejak tahun 2001 awal mulanya ada di Fakultas Pertanian yang lambat laun menjadi KMNU UGM. Dalam konteks saat ini, KMNU Fakultas yang ada adalah KMNU FK UGM yang berada dibawah naungan KMNU UGM namun mempunyai otonomi sendiri dalam mengelola organisasinya.
Menjadi Mahasiswa NU Gadjah Mada yang Progresif Mengakar
Maksudnya adalah kita harus bisa memaksimalkan potensi diri sebagai kader KMNU dengan senantiasa berusaha meraih yang terbaik dalam bidang yang sedang ditekuni, ada yang menjadi ketua organisasi di jurusan, fakultas, bahkan universitas, ada yang sering juara lomba baik akademik (PKM, misalnya) maupun non akademik, ada yang jadi asisten dosen, dan lain sebagainya. Bawalah nama NU setinggi-tingginya agar Mbah KH Hasyim Asyari dan para pendiri yang lain bangga serta tertarik untuk mengikuti bahkan menjadi pengurus KMNU maupun banom NU yang lain.
Semangat KMNU, Ayo Gabung KMNU
(Fatimah Puspitasari dan Fajrul Falah Farhany/acp)