Takzim dan ber-khidmat kepada Guru sudah menjadi tradisi di kalangan pesantren. Mencium tangan guru atau ulama merupakan tradisi yang sudah terbiasa dan itu tidak dipertentangkan lagi kecuali oleh sebuah pemahaman yang muncul belakangan. Memang masih banyak yang keliru memahami kata takzim (penghormatan tinggi) dan kata ibadah. Salah pemahaman ini yang menyebabkan campur aduk kedua istilah tersebut. Sikap pengagungan disamakan dengan penyembahan.
Berdasarkan pengertian salah ini mereka berpendapat bahwa bersikap khidmad dan bersikap rendah diri di depan pusara Rasulullah Saw. Pusara orang-orang shaleh, mencium tangan orang-orang shaleh dan para wali, para penguasa maupun orang kaya yang shaleh, dianggap juga sebagai sikap berlebih-lebihan (ghuluw). Tindakan ini “mereka” percayai dapat menyeret orang kepada sesembahan selain Allah SWT (syirik).
Dua orang yahudi bertanya kepada Rasulullah saw tentang sembilan ayat yang diturunkan kepada Nabi Musa as, Nabi Muhammad Saw menjelaskan dengan rinci tanpa kurang satu apapun. Kemudian kedua orang yahudi tersebut mencium tangan dan kaki Baginda Saw. (HR. Nasa’I, Ibnu Majah dan Tirmidzi)
Abu al-Syaikh dan Ibnu Mardhawih meriwayatkan dari sahabat Ka’ab bin Malik, bahwa ia berkata, “Ketika turun ayat tentang (diterimanya) taubatku, aku mendatangi Rasulullah dan mencium tangan dan lututnya”.
Dari Buraidah ra, “Sesungguhnya seorang laki-laki telah datang kepada Rasulullah Saw. Lantas mencium tangan dan kaki Beliau Saw”. (HR. Al-Hakim dalam kita al-Mustadrak dan men-shahih-kannya)
Diriwayatkan oleh Imam Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari al-Saddi berkenaan dengan firman Allah SWT,
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu bertanya (kepada Nabi SAW) perkara-perkara yang jika diterangkan kepada kamu akan menyusahkan kamu “(QS. Al Maidah, 101).
Setelah mendengar ayat ini, Syaidina Umar r.a bangun menuju Nabi Saw dan mencium kaki baginda Rasulullah saw.
Di dalam kitab Sharim al-Maslul oleh Ibnu Taimiyyah yang mengambil riwayat hadist dari Ibnu al-Arabi dan al-Bazzar, “Sesungguhnya seorang lelaki menyaksikan mukjizat sebatang pohon datang kepada Rasulullah saw., kemudian kembali ketempat semula. Lelaki itu berkata sambil berdiri kemudian terus mencium kepala, tangan dan kaki Rasulullah saw.” Menurut riwayat Ibnu al-Arabi, “Lelaki tersebut meminta izin kepada Nabi Saw untuk mencium beliau. Nabi saw pun mengizinkan. Maka lelaki tersebut kemudian mencium kepala dan kaki Baginda saw”.
Disamping takzim kepada Nabi dengan mencium tangan dan kaki Nabi, diantara sesama sahabat juga melakukan hal yang sama.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitabnya al-Adab al-Mufrad (hadist nomor 976) dengan sanad shahih bahwa Sahabat Ali bin Abi Thalib mencium tangan dan kaki Abbas bin Abdul Muthalib. Padahal Syaidina Ali juga sahabat yang mulia, karena Sayidina Abbas disamping pamannya juga seorang yang shaleh.
Dari Shuhaib, ia berkata, “Saya melihat Sahabat Ali mencium tangan sahabat Abbas dan kakinya” (HR. Bukhari).
Dari Ibnu Jad’an, ia berkata kepada Anas bin Malik, “Apakah engkau pernah memegang Nabi dengan tangan ini?”. Sahabat Anas berkata, “Iya”. Lalu Ibnu Jad’an mencium tangan Anas tersebut (HR. Bukhari dan Ahmad).
Masih riwayat lain tentang sikap ta’zim para sahabat kepada sahabat lain dan tradisi ini diwariskan secara terus menerus sampai kepada zaman sekarang.
Diriwayatkan dengan sanad yang shahih bahwa Imam Muslim mencium tangan Imam Bukhari. Imam Muslim berkata kepadanya, “Seandainya anda mengizinkan, pasti ku cium kaki anda”. Tidak mungkin Imam Muslim mau mencium tangan dan kaki Imam Bukhari kalau tindakan tersebut salah, sebagaimana pemahaman dangkal dari satu kelompok yang muncul akhir-akhir ini.
Berdasarkan riwayat yang kami sampaikan di atas bahwa takzim kepada ulama apalagi Guru Mursyid sebagai Ulama Pewaris Nabi adalah tradisi yang telah ada sejak zaman nabi, terpelihara terus menerus sampai sekarang ini.
Sesuai hukum alam, air hanya mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah, begitu juga dengan karunia Allah SWT Maha Akbar, Maha Agung, Maha Positif hanya bisa mengalir ke hati para hamba-Nya yang selalu merendah, selalu takzim kepada para kekasih-Nya. (ن / Eff)
Wallaahu a’lam