Rabu, (27/7), Acara konferensi hari pertama meliputi pembukaan di gedung A. Djunaid hingga siang hari yang kemudian langsung berlanjut konferensi sampai malam hari. Beliau Al Habib Luthfi bin Yahya menyampaikan petuahnya pada saat pembukaan dan penutupan hari tersebut. Pada penutupan beliau menyampaikan dengan keras dan tegas mengenai kemirisan umat Islam hari ini yang selalu bertikai masalah khilafiyah. Menurutnya, itu bahasan kuno, ketinggalan, tidak ada manfaatnya dan hanya menimbulkan pertikaian.
Masing-masing negara mempunyai metode dakwah yang berbeda. Setiap negara mempunyai kekurangan dan kelebihan. Setiap negara juga terdiri dari suku – suku dan adat istiadat yang jelas berbeda. Kemudian, bagaimana peran pendakwah di negara ini. Apakah pendakwah bisa membangkitkan para ilmuwan untuk menyelesaikan masalah-masalah di dunia? Lalu mengapa masih saja membahas tentang ikhtilaf ? Sedangkan di sana ilmuwan non-Islam sudah berhasil membangun Ilmu kedokteran, Ilmu atom, Nuklir, dan karya besar lainya.
Di sini, orang muslim minum obat dengan baca “bismillah” terlebih dahulu, tetapi di sana orang non-muslim membuat obat tersebut tanpa bismillah. Kapan kita bisa minum obat dengan basmalah dan yang membuat obat juga dengan basmalah. Mereka menggali ilmu pengetahuan besar-besaran yang sejatinya semua ada dalam Al – Quran. Dan sampai kapan kita membahas ikhtilaf dalam Ad-Diin? Beliau berharap Fakultas Kedokteran terbesar ada di negara Islam. Begitu juga dengan ilmu lain yang ada di dalam Al – Quran, muslimlah yang harus menguasai. Sampai kapan dunia Islam seperti ini terus? Kita malu pada Allah dan Rosulullah SAW.
Besar harapan Al Habib agar dapat menanamkan di masing-masing negara pentingnya kebangkitan ilmu pengetahuan kaum muslim dan berhenti terus-terusan membahas pertikaian karena ikhtilaf. Karena ini adalah bagian dari perjuangan Agama. Jika kita merasa kaum mereka harusnya malu kepada kita, maka sebenarnya terbalik, harusnya kita yang malu kepada mereka karena mereka lebih maju. Ini adalah suatu pukulan besar yang harus kita sadari.(Fela)
Oleh : Maulana Al Habib Luthfi bin Toha bin Yahya, pada pengantar penutup Konferensi Ulama Internasional hari pertama di Hotel Santika, Pekalongan.