POT (Pengajian Online Taqrib) #5: Shalawat

Dengan menyebut nama Allah, Pemberi Kasih Yang Maha Kasih,

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam,

Shalawat teriring salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya.

Mushannif (pengarang kitab) berkata:

Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin an-nabi, wa aalihi at-thaahiriina wa shahaabatihii ajma’iina

“..Dan semoga Allah bershalawat kepada junjungan kami, Muhammad (nabi), keluarganya yang suci dan seluruh sahabatnya”

Makna Kata An-Nabi, Aalih (Keluarga Nabi), dan Shahaabatih (Sahabat Nabi)

Pengarang kitab memilih kata nabi dibandingkan rasul karena mengikuti firman Allah pada surat al-Ahzab, ayat 56 yang menyebutkan kata nabi, walaupun jika dilihat dari sisi keutamaan, rasul lebih utama dari pada nabi. Berbeda dengan Imam Izzuddin ibn Abd as-Salam yang berpendapat nabi lebih utama dibandingkan rasul karena kenabian berkaitan dengan khaliq sedangkan kerasulan berkaitan dengan makhluk, kenabian berpaling dari makhluk menuju khaliq sedangkan kerasulan berpaling dari khaliq menuju makhluk untuk memberikan petunjuk. Para ulama berbeda pendapat dalam memberikan definisi nabi. Ada yang berpendapat bahwa nabi adalah orang yang mendapatkan wahyu, dan tidak diperintahkan untuk menyampaikannya ada juga yang berpendapat nabi adalah seorang yang menyampaikan syariat nabi sebelumnya tanpa dibebani syariat yang baru.

Kata aalihi yang secara bahasa berarti keluarga nabi yaitu kerabat-kerabat nabi yang beriman dari Bani Hasyim dan Bani Muthallib. Sebagian ahli hakikat berpendapat bahwa tidak ada kemutlakan dalam penetapan makna aalihi, sehingga kata aalihi dapat bermakna kerabat-kerabat nabi, orang-orang yang bertakwa dan orang-orang muslim, sesuai dengan makna yang dikehendaki oleh orang yang membaca shalawat. Shalawat atas keluarga nabi merupakan suatu anjuran, Rasulullah saw. bersabda ketika ditanya mengenai bagaimana cara bershalawat kepada Nabi, “Katakanlah allahumma shalli ‘alaa muhammadin wa ‘alaa aalihi.”

Shahaabah merupakan bentuk jamak dari kata shaahib yang secara bahasa berarti orang yang sudah lama menjadi teman. Sahabat nabi merupakan  orang-orang yang bertemu (berkumpul) dengan rasulullah dalam keadaan beriman dan ketika mati pun dalam keadaan beriman kepada rasulullah. Sahabat nabi bagaikan bintang-bintang di langit kepada siapa pun kita mengikutinya maka akan memperoleh petunjuk.

Shalawat Kepada Nabi

Shalawat merupakan ibadah  yang utama bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa shalawat lebih utama dibandingkan seluruh ibadah. Allah berfirman “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah kalian atas Nabi dan sampaikanlah salam penghormatan kepada-Nya” (al-Ahzab:56). Allah berfirman “Wa rafa’naa laka dzikraka”  yang berarti tidaklah Aku (Allah) disebut melainkan engkau (Muhammad) disebut bersama-Ku. Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa segala ibadah yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya berlaku hanya bagi hamba-Nya saja berbeda dengan shalawat, Allah bershalawat yang berarti Allah juga melakukan ibadah shalawat, kemudian Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman agar bershalawat kepada Nabi, sehingga wajar rasanya jika shalawat lebih utama dibandingkan ibadah lain, dan wajar rasanya jika para pengarang kitab selalu mengiringi pembukaan kitabnya dengan shalawat atas Nabi setelah basmalah dan hamdalah begitu juga pengarang kitab taqrib. Shalawat yang redaksinya dari Allah merupakan rahmat, dari malaikat merupakan istigfar (permohonan ampunan) sedangkan dari manusia yaitu doa.

Ibnu Abdil Hakam berkata “Aku bermimpi bertemu As-Syafi’i, kemudian aku pun bertanya, apa yang telah Allah perbuat terhadapmu?” Imam Syafi’I pun menjawab “Allah telah memberikan nikmat kepada ku, mengampuniku, dan membawaku masuk ke dalam surga layaknya pengantin.” Kemudian aku (Ibnu Abdil Hakam) bertanya, “Bagaimana engkau bisa memperoleh hal demikian?” Imam Syafi’I menjawab “Dengan sebab bacaan shalawatku (wa shallallahu ‘alaa muhammadin ‘adada maa dzakarahu adzdzaakiruuna, wa ‘adada maa ghafala ‘an dzikrihii al ghaafiluuna) di dalam kitab Ar-Risaalah

Imam Izzuddin ibn Abd as-Salam rahimahullah berkata bahwa shalawat bukanlah syafa’at dari kita untuk Rasul, karena orang seperti kita tidak bisa memberikan syafa’at kepada orang seperti Rasul, akan tetapi Allah memerintahkan kita untuk membalas kebaikan orang yang memberikan nikmat dan kebaikan kepada kita, sehingga jika kita tidak mampu membalas kebaikan Nabi, maka Allah memerintahkan supaya mencintainya, dan bershalawat atasnya. Mudah-mudahan dengan shalawat kita atas Nabi dapat membalas kebaikan Nabi yang telah berbuat baik dan mengutamakan kita, dan tidak ada kebaikan yang lebih utama dari pada kebaikan Nabi. Nabi bersabda: “Barang siapa yang bershalawat terhadapku dengan satu shalawat maka Allah akan ‘bershalawat’ kepadanya dengan sepuluh shalawat”.

Manfaat shalawat akan senantiasa kembali kepada orang yang membacanya. Semoga kita semua dapat membiasakan diri memperbanyak bacaan shalawat atas nabi dan mudah-mudahan memperoleh syafaatnya kelak di hari kiamat. Allahumma shalli wasallim wa baarik ‘alaih. (Santri Kobong)

Wallahu a’lamu bis shawab

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *