Dari Ibnu Abbas radiallahu ‘anhumaa berkata bahwa suatu ketika Jibril datang kepada Rasulullah dan menuturkan cerita seorang hamba yang bernama Syam’un Al-Ghazi. Ia berperang melawan orang-orang kafir selama seribu bulan hanya dengan menggunakan senjata berupa jenggot unta. Dikisahkan ketika Syam’un memukulkan jenggot unta tersebut kepada orang-orang kafir, maka seketika itu juga orang-orang kafir terbunuh, sudah banyak sekali korban-korban berjatuhan di tangan Syam’un dengan senjata yang aneh itu. Jika Syam’un haus maka dari senjata itu keluar air yang segar dan ketika Syam’un merasa lapar maka dari senjata aneh tersebut tumbuh daging sehingga ia memperoleh makan dan minum dari jenggot unta tersebut.
Menghadapi kekuatan Syam’un yang tak tertandingi, orang-orang kafir merasa kewalahan, segala cara telah mereka kerahkan namun tidak pernah membuahkan hasil. Akhirnya mereka mendatangi istri Syam’un yang juga kafir dan membujuknya untuk bekerja sama membunuh Syam’un
”Kami akan memberikanmu harta yang banyak jika kamu dapat membunuh Syam’un,” kata seorang kafir yang mencoba membujuk istri Syam’un.
”Aku tidak mampu membunuhnya,” jawab istri Syam’un
“Kami akan memberikanmu tali yang sangat kuat. Dengan tali tersebut ikatlah kedua tangan dan kakinya pada saat ia tidur dan kami akan membunuhnya,” kata seorang kafir lagi
Akhirnya istri Syam’un pun menyanggupi dan berhasil mengikatkan tali pada kaki dan tangan Syam’un. Ketika terbangun dari tidurnya Syam’un terkejut melihat kaki dan tangannya sudah terikat tali.
“Siapa yang mengikat aku dengan tali ini ?” tanya Syam’un
“Aku yang mengikatkan tali itu, aku ingin menguji kekuatanmu,” jawab istrinya
Ternyata Syam’un bisa melepaskan diri dari ikatan tersebut. Mengetahui hal itu, orang-orang kafir mendatangi istri Syam’un kembali untuk memberikan rantai besi supaya istri Syam’un mengikatkan rantai tersebut pada tubuh Syam’un. Istri Syam’un pun menyanggupi dan berhasil mengikatkan rantai pada kaki dan tangan Syam’un.
“Siapa yang mengikatku dengan rantai ini ?” tanya Syam’un ketika terbangun dari tidurnya
“Aku yang mengikatkan rantai itu, aku ingin menguji kekuatanmu,” jawab istrinya
Syam’un pun menarik tangannya dan dengan seketika rantai yang membelenggu tangan dan kakinya terputus.
“Wahai istriku aku adalah seorang wali Allah, tidak ada yang mampu melumpuhkan kekuatanku di dunia ini kecuali rambutku ini”
Mendengar perkataan Syam’un, malam harinya istri Syam’un memotong rambut Syam’un dan mengikat badannya dengan rambut tersebut.
Pagi harinya Syam’un merasa heran karena melihat tubuhnya terikat kembali, tetapi ketika ia menarik tangannya, ikatan yang mengikat tubuhnya tidak terputus. Melihat kondisi Syam’un yang tak berdaya, istrinya segera menemui orang-orang kafir dan menceritakan apa yang terjadi. Maka mereka segera menemui Syam’un dan membawanya ke tempat penjagalan manusia. Lalu Syam’un pun diikat di tiang bangunan (tempat penjagalan manusia), dan mereka mencungkil mata Syam’un serta memotong kaki, tangan dan lidah Syam’un.
Namun Allah SWT tak membiarkan seorang wali-Nya menderita seperti itu terlalu lama. Allah lalu berfirman kepada Syam`un “Apa pun yang engkau kehendaki akan aku kabulkan ?”
Syam’un pun menjawab, “Aku menghendaki agar Engkau memberi kekuatan kepadaku, sehingga aku mampu meruntuhkan tiang bangunan dan reruntuhannya menimpa mereka.”
Allah SWT pun memberikan kekuatan luar biasa kepadanya. Lalu Syam’un menggerakkan tubuhnya, hingga menyebabkan tiang bangunan menjadi patah dan hancur berantakan, disusul ambruknya seluruh badan bangunan tersebut dan menimpa orang-orang kafir, termasuk istri Syam’un sehingga mereka semua tewas.
Adapun Syam’un diselamatkan oleh Allah SWT, bahkan Allah mengembalikan seluruh anggota tubuhnya seperti semula. Setelah itu Syam’un beribadah kepada Allah SWT, malamnya ia isi dengan shalat, siangnya ia isi dengan puasa dan berperang di jalan Allah selama seribu bulan. Mendengar cerita tersebut para sahabat menangis karena menginginkan anugerah yang diperoleh Syam’un.
Salah seorang diantara para sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau mengetahui pahala Syam’un?” “Aku tidak mengetahuinya” jawab Rasul.
Allah SWT kemudian menurunkan surat al-Qadar melalui malaikat Jibril as. Pada surat tersebut Allah menjelaskan bahwa ibadah yang dilakukan seseorang pada malam Qadr (salah satu malam di bulan Ramadhan), itu lebih baik dari pada ibadah yang dilakukan laki-laki tersebut (Syam’un) selama seribu bulan. (Bukhori Zainun)
Sumber: Kitab Durratun Nasiin