Apa yang ada di benak anda ketika ditanya tentang peristiwa Isra’ Mi;raj? Tentu jawaban anda adalah Subhanallah, menakjubkan, luar biasa, dan sejenisnya. Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan suatu misteri. Sampai saat ini para pemikir dan ilmuan masih bertanya-tanya apakah yang sebenarnya terjadi pada peristiwa tersebut. Kali ini saya akan mengajak anda berefleksi tentang peristiwa Isra’ Mir’aj pada taraf filsafati dan menemukan hikmah di balik peristiwa itu.
Nabi Muhammad pada peristiwa Isra’ Mi’raj melakukan perjalanan dari Masjidil Haram Makkah ke Masjidil Aqsha Palestina, hingga ke Sidratul Muntaha. Peristiwa Isra’ Mi’raj hanya terjadi dalam satu malam. Di sisi lain, jarak yang ditempuh Nabi Muhammad dalam perjalanan tersebut tidaklah dekat. Pertanyaannya, kendaraan seperti apa yang membawa Nabi Muhammad bisa menjangkau jarak yang sangat jauh tersebut? Teknologi macam apa yang mampu membawa Nabi Muhammad melakukan Isra’ Mi’raj hanya dalam satu malam? Sedangkan kita tahu pada masa itu kendaraan yang dimiliki manusia hanya kuda dan unta. Kita akan berefleksi tidak untuk menjawab pertanyaan tersebut, melainkan untuk memahami betapa Maha Canggihnya Allah.
Berbicara tentang teknologi, saya mempunyai sebuah analogi. Jika anda bertanya pada manusia pada abad ke 5 Masehi tentang kendaraan kereta, maka mereka akan menjawabnya sebagai kendaraan yang ditarik oleh kuda atau hewan sejenisnya. Selanjutnya coba anda tanyakan kepada manusia era sekarang, saya yakin mereka tidak hanya menjawab bahwa kereta adalah kendaraan yang ditarik oleh seekor hewan, tetapi mereka juga menjawab dengan pemahaman lain bahwa kereta adalah kendaraan yang berupa gerbong-gerbong dan ditarik oleh sebuah lokomotif. Kereta berupa gerbong tidak akan dapat dipahami oleh manusia abad ke 5 M karena mereka tidak pernah melihat kendaraan semacam itu pada masanya, sehingga ini akan menjadikan manusia era sekarang mengkalim peradaban masa kini jauh lebih canggih daripada masa lalu.
Dari analogi tersebut saya menarik sebuah prinsip bahwa peradaban di masa lalu adalah primitif menurut perpektif manusia di masa kini. Selanjutnya saya juga tentunya boleh mengatakan bahwa masa kini adalah primitif menurut perspektif manusia di masa depan. Paradigma manusia masa kini tidak dapat menjangkau paradigma masa depan, karena paradigma manusia masa kini hanya dibentuk oleh apa yang dilihat, didengar, dan dirasakan pada peristiwa masa kini.
Jika dihubungkan dengan peristiwa Isra’ Mi’raj, maka kita akan mendapatkan jawaban bahwa Nabi Muhammad menggunakan kendaraan super canggih yang bisa menjangkau jarak jauh dengan waktu yang sangat singkat. Isra’ Mi’raj bukanlah bualan belaka. Peristiwa ini benar-benar terjadi dan sangat logis. Jika para pemikir dan ilmuan belum mendapatkan jawaban tentang peristiwa tersebut, maka kita dapat menjawab secara spekulatif bahwa paradigma kita sekarang belum bisa menjangkau kedahsyatan peristiwa Isra’ Mi’raj karena kita adalah manusia primitif menurut manusia masa depan. Tidak mustahil jika manusia masa depan melalui penelitian-penelitian lebih lanjut mendapatkan jawaban ilmiah tentang apa yang terjadi pada peristiwa Isra’ Mi’raj.
Terkait dengan bertemunya Nabi Muhammad dengan Allah SWT kita juga dapat menalar secara logis. Telah kita ketahui bahwa Allah ada tidak pada ruang dan waktu, sedangkan eksistentsi Nabi Muhammad sebagai manusia ada pada ruang dan waktu. Bagaimana Allah dan Nabi Muhammad bisa bertemu? Keduanya bertemu pada dimensi yang berbeda. Akal kita tidak dapat membayangkan bagaimana bentuk Allah yang berbeda dengan makhlukNya dan ada tidak pada ruang dan waktu, karena imajinasi kita hanya dibatasi oleh apa yang kita temui di bumi saja.
Paradigma dan imajinasi kita hanya dibentuk oleh apa yang dapat kita lihat secara empiris. Tidak percaya? Coba anda temukan seseorang yang tinggal di pedalaman dan tidak pernah tahu tentang dunia luar, lalu ajaklah ia ke kota dan bawalah ia untuk melihat teknologi-teknologi yang canggih di era sekarang. Pasti ia akan takjub dan mengatakan bahwa ia tidak pernah membayangkan dalam pikirannyanya hal-hal yang ia lihat tersebut. Masih tidak percaya? Coba bayangkan anda kembali ke Abad 5 dan katakan kepada manusia di era itu bahwa anda baru saja berkomunikasi melalui sebuah alat dengan seseorang yang berada di benua lain. Saya yakin anda akan dikira sebagai orang gila karena paradigma mereka tidak dapat menjangkau kecanggihan teknologi yang ada pada era sekarang.
Jangan terburu-buru mengatakan bahwa sesuatu itu tidak logis karena boleh jadi logika kita tidak mampu menjangkau sesuatu itu. Sesuatu yang tidak dapat diverifikasi validitasnya secara ilmiah bukan berarti sesuatu itu tidak ada atau tidak benar. Terhadap sesuatu yang tidak dapat kita jangkau oleh akal, kita sebagai makhluk yang serba terbatas hanya mampu berkata, “Allah itu Maha Canggih!”(Ahmad Musyaddad)