Jelaga Munas: Semangat Opick, Santri Kecil Pesantren Nurul Huda

Udara sejuk dan pemandangan asri disuguhkan Pondok Pesantren Nurul Huda, Ciumbeliet, Bandung. Pondok yang dijadikan lokasi pelaksanaan Munas ke-2 KMNU. Pagi itu saya dan beberapa kawan KMNU lainnya hendak ke kamar mandi. Beranjaklah kami menuju kamar mandi yang dibangun berderet khas kamar mandi pesantren. Ketika langkah kaki hampir sampai di tempat yang kami tuju, ada sesosok tubuh mungil yang menarik perhatian kami. Seorang santri kecil, namanya Opick. Lucu dan imut. Meski masih berumur lima tahun, pagi ini dia piket membersihkan empat kamar mandi pesantren bersama seorang seniornya.

Dengan tangan mungilnya, dia angkat satu ember berukuran sedang dari kolam luar untuk menyiram teras kamar mandi yang sudah penuh busa sabun cuci. Sedikit gontai dan hampir tak seimbang. Kakinya tetap berjalan gigih membawa beban seember air yang diambilnya. Wajahnya penuh semangat, menyongsong fajar mentari. Membuat hati tercenung, tiba-tiba iba. Rasa kagum pun merasuk.

Dahsyat nian ini bocah. Hati kami tak tahan. Ingin tahu lebih tentangnya. Sementara Shofa Junaidi Rahmat, rekan KMNU, menggantikan posisi Opick mengangkat ember, kami memandangi wajah polosnya.

“Opick dari Cimahi,” balasnya ketika kami tanya dari mana ia berasal.

“Sudah lama di pondok ini? Betah, ya?”

“Baru lima bulan. Alhamdulillah, kerasan.” Simpul senyum mulai merekah dari raut yang nampaknya sudah sedikit lelah.

“Wahh, hebat, ya Opick. Terus kapan mau pulang lagi ke Cimahi?”

“Nanti, setelah istighotsahan,” ujarnya, sudah fasih mengucapkan budaya ritual kaum santri yang satu ini.

“Lah, kapan itu? Setelah lima tahun lagi, ya?” Pancing kami, ingin melihat lebih ekspresi wajahnya.

“Iya,” jawabnya singkat dan lugu tanpa keberatan, membuat kami terkesiap, dan tidak percaya, apakah benar anak sekecil itu bertekad dan mampu tidak pulang dari pesantren selama itu?

Saking girangnya hati, kami hampir lupa mau mandi. Perbincangan dengan Opick si Santri Kecil itu pun masih berlanjut.

“Opick sudah mandi?”

“Sudah, A’. Sebelum shubuh tadi.”

Dusssss, kami makin menciut. Lagi-lagi kami merasa ‘dijewer’ dengan kepolosan dan rajinnya anak ini dan membandingkannya dengan diri kami. Kami sangat takjub dengan pondok yang mendidik Opick dan kawan-kawan santri disini. Nama pondoknya saja membuat siapa pun berkesan, “Pondok Pesantren GRATIS Nurul Huda”. Kata gratis sengaja kami tulis kapital semua, menggambarkan mata yang terkejut saat melihatnya terpampang di gerbang masuk pesantren saat kami tiba di sini, tepat pukul satu dini hari Jumat tempo hari (22/01/06).

Pesantren yang bersahabat dengan alam dan mendedikasikan pendidikan untuk anak-anak yatim-piatu dari berbagai wilayah, khususnya Jawa Barat, ada juga dari luar Jawa. Mereka yang putus sekolah, tapi belum putus harapan untuk masa depan yang cemerlang. Sekarang mereka digembleng di istana Ilahi yang berdikari, berdiri tanpa kucuran dana hibah dari pemerintah setempat. Anti proposal. Cukup Allah-lah muara segalanya yang mencukupi. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh pengasuh pesantren ini, Ustadz Mansyur.

Santri-santri kecil tiada memiliki ayah/ibu dididik sedemikian rupa disini. Pukul tiga dini hari sudah dibangunkan. Berdzikir dan beribadah hingga fajar menyingsing. Melantunkan nama-nama indah Allah, sesekali menyimak petuah sang pengasuh murabbi. Selain menjamah kitab-kitab kuning dasar seperti Safinah Najah dan Ta’lim Muta’allim, Opick dan santri-santri di sini juga diajarkan hidup mandiri dan dewasa sejak dini, membersihkan lingkungan pesantren secara bergilir tiap hari dan berkhidmah untuk pesantren.

Yang lebih mengherankan bangunan Pesantren Nurul Huda ini cukup eksotik dan terbilang megah. Berteman dengan alam dan ramah lingkungan. Bangunan gedung pesantren dibangun dengan gaya bangunan menyesuaikan kontur lokasi yang berada di lereng bukit. Selama berada di pesantren ini, siang malam telinga kami selalu ditemani kicauan burung-burung dan gemericik aliran air sungai yang mengalir deras di samping pesantren. Tak terbayangkan sebelumnya. Untuk menuju lokasi pondok saja, kami tak bisa mengendarai mobil. Jangankan mobil, motor pun terkulai-kulai bagai memanjat dasar langit, lalu turun sangat curam. Ditambah jalan yang ada begitu sempit, kanan-kiri jalan sudah sangat padat dengan rumah-rumah masyarakat Ciumbuleuit, Bandung ini. Butuh perjuangan untuk sampai ke pesantren ini.

Kami bertanya-tanya,”Ya apa cara membangun pondok ini, ya? Apa mungkin pesantren ini ada sebelum rumah-rumah desa ini terbentuk?” Atau jangan-jangan kami saja yang masih sangat awam tentang perkara bangun-membangun. Bukan jangan-jangan, memang sebenarnya demikian.

Semua kekaguman ini, lalu, mengerucut pada sosok sang pengasuh pondok gratis ini, Al Ustadz KH. Mansyur. Tabah, sederhana, dan begitu tulus dalam berkhidmah untuk masa depan santri-santri yatim ini. Itulah sosok beliau yang mengagumkan bagi kami.

Akhirnya, di sini, kami berdoa dan berjelaga saat siang mulai berkelebat,
“Duhai Ilahi, sebagaimana Engkau indahkan semesta alam, maka makin indahkan-lah si kecil Opick, para santri dan pondok-pondok pesantren mulia semacam ini.
Amiin” (Haris Alfian)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *