Bandung, KMNU Online
KMNU UPI, (16/3) Pematerian yang pertama membahas mengenai dalil-dalil Ahlussunah Wal Jamaah yang disampaikan oleh Agus Zamzam Nur, S.Pd. Mengisahkan bahwasanya, Allah SWT adalah zat yang maha pencipta dan penguasa alam semesta, yang menciptakan semua makhluk, maka dari itu sifat-sifat Allah itu berbeda dengan sifat-sifat makhluknya. Dan manusia itu sendiri tidak berhak untuk memikirkan bagaimana dzat Allah itu sendiri karena seberapa keras manusia itu berfikir maka tidak akan sampai kedzatnya, tetapi kita sebagai manusia yang dikaruniai akal fikiran di beri kebebasan untuk memikirkan (mentaddaburi) ciptaan-Nya. Dan karena itu Allah juga menurunkan Utusannya (Rosul) untuk membantu dan meluruskan akal fikiran dan akhlak manusia. Agama Islam adalah agama yang terakhir yang dibawa oleh Rosul terakhir (Nabi Muhammad SAW), tetapi fenomena sekarang ini banyak sekali penyimpangan-penyimpangan di dalam hal aqidah, salah satunya adalah munculnya firqoh-firqoh dalam Islam seperti syiah, khawarij, murji’ah, mu’tazilah, qodariyah, dan lain-lain. Dan dari semua golongan itu menyatakan bahwa “Golongan kamilah yang kelak akan selamat”. Tentu pernyataan dari setiap golongan ini membingungkan dan akan melahirkan sebuah pertanyaan “sebenarnya pemahaman dari golongan mana yang akan selamat”. Kata kunci untuk menghilangkan kebingung itu sekaligus untuk menjawab pertanyaan diatas adalah sabda Nabi Muhammad SAW : “ما أنا عليه و أصحابي” yang artinya adalah : “yang menjadi peganganku dan para sahabatku”. Ringkasnya seperti yang sabdakan Rasulullah bahwasannya yang akan selamat kelak adalah golongan Ahlussunnah wal jama’ah yaitu golongan yang senantiasa mengikuti sunnah-sunnah Rosul dan sahabatnya.
Selanjutnya untuk Pemateri yang kedua membahas mengenai hiistoritas dan Futuritas ASWAJA yang disampaikan oleh : M. Ilham Gilang, S.Pd. Telaah terhadap Ahlussunnah Wal Jamaah (ASWAJA) sebagai bagian dari kajian keislaman merupakan upaya mendudukkan ASWAJA secara proporsional. Bukannya semata-mata untuk mempertahankan sebuah aliran tertentu secara subyektif. Sebab rumusan dan konsep pemikiran teologis, Dalam hal ini ASWAJA, sangat dipengaruhi oleh suatu problematika teologis dan sosiologis pada masanya. Berangkat dari pemikiran di atas maka pertanyaan yang muncul kemudian adalah; mengapa ASWAJA dikenal dan diinternalisasikan oleh kaum Nahdliyyin. Bagaimana gerak pemikiran ASWAJA yang dikembangkan oleh kaum Nahdliyyin lalu bagaimana ASWAJA merespon tantangan zaman. Menurut KH. Sa’id Agil Siradj, Ahlussunnah Wal Jamaah adalah orang-orang yang memiliki metode berfikir keagamaan yang mencakup semua aspek kehidupan yang berlandaskan atas dasar-dasar moderasi, menjaga keseimbangan, dan Toleransi. Jika ASWAJA dipahami dengan benar dan menjadi acuan bertindak dalam kehidupan maka mampu memfilter pengaruh globalisasi dan masuknya budaya luar yang dapat memicu munculnya sikap adopsi budaya yang negative seperti tidak toleran terhadap perbeadaan, kekerasan dan berbagai macam sikap negative lainnya yang kesemuanya dapat menodai karakter kelompok Islam ASWAJA yang dikenal memiliki sikap kearifan, moderat, menghargai budaya lokal, menghargai perbedaan, dan anti kekerasan.