KMNU UGM : Live and Life in the different country (Talkshow KISWAH)

Yogyakarta, KMNU Online

KMNU UGM (18/3). KISWAH (Kajian Ahlussunah Wal Jamaah) pada tahun ini sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya. Tema yang diangkat berfokus pada kajian Islam Kontemporer. Latar belakang diadakanya kajian ini adalah karena kita tahu betapa luasnya ilmu islam. Islam tidak hanya mengatur tentang peribadatan ritual seperti sholat, puasa, zakat dan sebagainya. Lebih dari itu “Islam is the way of life”, mengatur sangat  mendetail  mulai dari bangun tidur, cara makan, cara masuk dan keluar dari kamar mandi sampai cara tidur. Islam juga mengatur tentang perdagangan, tata negara, sains dan masih banyak lagi.

Sebagai tema pembuka sekaligus launching kajian tour de faculty tema yang diangkat adalah “Live and lfe in the different country”. Kehidupan mahasiswa muslim di luar negri memang menarik untuk dikaji. Apalagi jika negara tersebut adalah negara yang mayoritas agamanya bukan Islam. Untuk dapat bertahan disana tentunya perlu kreatifitas dalam menjalani kehidupan agar nilai – nilai Islam juga tetap terjaga. Dari mulai hal yang paling umum yaitu makanan sampai menjaga ritual keseharian seperti sholat. Dalam kajian ini KISWAH mendatangkan dua narasumber yang pernah mengenyam pendidikan di luar negeri yang mayoritas warganya bukan Islam. Mereka adalah Rangga Almahendra, mahasiswa doctoral of International Business & Management. WU, Austria dan Dini Astika Sari, mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Gadjah Mada yang mengikuti program student exchange di Nanyang Technological University di Singapura.

Pengalaman mengikuti study exchange program bagi Dini Artika Sari adalah pengalaman unik mengingat sebelumnya dia selalu berada di lingkungan pondok pesantren. Pertama kali menginjakan kaki di bandara Singapura membuatnya berdecak kagum karena lingkungan bandara dan sekitarnya begitu bersih. Warga di sana memang begitu disiplin dalam menjaga kebersihan. Nilai ini sudah ada di dalam ajaran islam namun kita sebagai penduduk yang mayoritas Islam belum bisa mengaplikasikannya dengan optimal.

Keunikan yang berbeda dengan pendidikan  di Indonesia adalah mahasiswa tidak perlu mengisi presensi. Kesadaran akan kebutuhan pendidikan sangat tinggi, jadi tidak perlu ada presensi mereka pasti datang karena pendidikan adalah kebutuhan bagi mereka. Fakta ini berbeda dengan kondisi di negara kita yang ada istilah TA (Titip Absen). Namun, mahasiswa disana berrpakaian sangat minim dan dipandang tidak sopan menurut Dini, “jika di Indonesia mungkin mereka sudah dikeluarkan dari kelas karena berpakaian tidak sopan” tuturnya.

Hidup di negara yang mayoritas penduduknya bukan muslim membuat Dini ditarik untuk mengenalkan Islam kepada  mereka, “Saya tidak berniat untuk berdakwah, tetapi kondisi ini menarik saya untuk berdakwah, karena ini adalah dakwah yang nyata tentang mengenalkan keindahan islam kepada orang yang belum tahu tentang Islam”. Dalam menjalani ibadah disana tidak perlu menutupi keislaman. Cukup bersikap terbuka, “mahasiswa non-Islam di Nanyang memang kritis, mereka selalu bertanya, mengapa harus sholat? Mengapa harus memakai hijab?”. Kata Dini tanggapi saja dengan lembut dan santai, kenalkan dengan syariat Islam yang indah. Jika bingung akan menjawab apa, dalih demokrasi bahwa kita punya hak kebebasan untuk kiita jalani maka mereka akan menghormati.

Sikap terbuka akan keislaman membuat Dini justru terlindungi. Semisal dalam barbeque party, coklat yang di Indonesia halal , di sana menggunakan “rum” yang membuatnya tidak halal lagi. Hal seperti ini dia sendiri tidak tahu, tetapi temannya yang memberi tahu, “kamu jangan  makan coklat itu, di dalamnya ada rum, tidak halal untukmu”. Masih banyak lagi jenis makanan yang demikian, kelihatanya halal tetapi tidak. Dari sini teman – temannya yang memberi tahu kandunganya. Penyebutan daging babi dengan nama lain, ini yang perlu diperhatikan, salah satu nama lainnya adalah pog.  Selain itu di Singapura juga terdapat tempat makan yang piring dan makanannya ada tanda halal atau haram. Warna piring dibedakan, untuk yang halal berwarna biru dan untuk yang tidak halal berwarna kuning.

Menjalankan kewajiban sholat Dini punya cara yang unik. Mengingat tempat di Singapura jarang terdapat mushola maka bagi muslimah sepertinya triknya adalah selalu membawa koran, sajadah kecil, tissue dan mukena. Peralatan tersebut bisa dijadikan alternatif sholat dimana saja. Tissue untuk membersihkan diri dan tempat sholat, Koran sebagai alas dan sajadah ditaruh diatasnya untuk menghindari najis. Sanking susahnya mencari tempat sholat mereka sholat dimana saja. Pernah suatu ketika sholat di area kecil di bawah tangga, bergantian dengan temannya yang juga muslim. Mereka tidak berjamaah karena areanya hanya cukup untuk satu orang.

Pengalaman seru lain hidup di luar negri adalah dari Rangga Almahendra. Dia terbang ke Austria ditemani istrinya Hanum Salsabiela Rais, putri dari Amin Rais. Kisahnya mungkin sudah sering kita ketahui dari novel dan film mereka yang berjudul “99 Cahaya di Langit Eropa”. Namun cerita dari narasumbernya langsung terasa lebih nyata. Rangga bercerita tentang istrinya yang memilih keputusan menemani suaminya. Hanum harus meninggalkan pekerjaannya sebagai wartawan yang sebelumnya juga sebagai dokter gigi lulusan FKG UGM. Pilihannya untuk menemani suami membuahkan hikmah – hikmah besar tentang perjalanan spiritual di negri yang justru mayoritas bukanlah Islam.

Dataran Eropa terdapat Isalmophopia terjadi karena Islam diangggap dekat dengan terorisme. Padahal hanya 1 % islam yang dominan kekerasan selebihnya adalah Islam yang damai. Pandangan seperti itu yang membuat sulit ketika orang islam menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Terutama dalam hal berhiijab bagi perempuan, ia akan sulit dalam pergaulan apalagi mencari pekerjaan. Mereka menganggap hijab adalah bentuk pengasingan dan penjara kebebasan perempuan. “Padahal saat tragedi WTC di Amerika ada lebih dari 80 muslim yang menjadi korban, lebih dari itu Iran, Palestina juga terkena dampaknya” ujar Rangga. Media adalah pengaruh besar bagi Islamophobia, di media lebih banyak diceritakan Islam keras, terorisme, ekslusifitas dan stigma negatif lain. Islam damai cenderung tidak di ekspos

Saat itu Rangga dan Hanum diundang untuk menghadiri pesta ulang tahun. Kebiasaan disana setiap tamu harus mempersembahkan sesuatu untuk yang berulang tahun. Akhirnya Rangga dan Hanum mempersembahkan sebuah lagu, Hanum memainkan piano dan Rangga yang melantunkan lagunya. Dari momen tersebut tamu lain sangat terheran – heran. Ternyata perempuan muslimah bisa memainkan piano dengan bagus. Pandangan mereka perempuan muslimah berhijab adalah kaum terbelakang dan bodoh. Dari sana ada keunikan dan ketertarikan tersendiri.

Menurut Rangga, pengalaman hidup di negara lain terdapat beberapa fase. Fase pertama adalah honey moon phase, saat ini adalah masa – masa indah. Setiap hari terasa berlibur dan mengagumi lingkungan sekitar. Berfoto dan jalan – jalan akan menjadi hal yang sering dilakukan sambil mencoba hal baru. Fase ini berlangsung sekitar 3 – 6 bulan pertama. Fase kedua adalah culture shock phase, masa ini adalah masa yang tidak menyenangkan. Perasaan home sick akan terus membayangi, tidak betah dengan sekitar. Rekreasi sambil berfoto – foto tak lagi manis.. Fase terakhir adalah adjustment phase, pada fase ini individu mulai menyesuaikan diri. Terdapat dua kemungkinan dari penyesuaian ini, hasil adaptasi yang paling bagus dinamakan adabtages stage yaitu individu mampu mnyesuaikan diri dengan lingkungan tanpa menghilangkan jati dirinya. Rangga dan Hanum berhasil melewati ini karena mereka percaya diri mengatakan “ya, saya muslim” serta menjalani kehidupan islami di tengah mereka. Hasil yang buruk dinamakan broken stage, yaitu keadaaan dimana individu melebur dengan dunia mereka dan kehilangan jati dirinya. Sebagai contoh muslimah yang justru melepas hijabnya karena tidak kuat dengan pandangan sinis. Contoh lain, muslim justru ikut – ikutan mabuk atau makan makanan yang haram.

Setiap hari umat muslim menyampaikan salam yang mengandung makna mendoakan kebaikan dan keselamatan serta mengajak perdamaian. Berapa banyak salam yang telah disamaiakan sesama muslim. Dari hal kecil ini kita bisa belajar mengenalkan Islam dari hal sederhana. Mereka selalu berusaha berbuat baik dari hal kecil kepada tetangga, teman atau sekitar. Tak perlu menutupi keislamaman untuk berbaur dengan mereka yang non – Islam. Cukup dengan melakukan  kebaikan – kebaikan kecil yang merajut keindahan Islam itu sendiri. Ituah yang diterapkan sepasang suami istri ini. Selalu berbuat baik kepada sesama sehingga mengenalkan Islam yang rahmatan lil alamin. Hanum pernah berkata “berbuat baik itu mudah, tinggal kita mau atau tidak”.

Falahunnisa Nurul Azmi – KMNU UGM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *