اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَ يُكَافِئُ مَزيْدَهُ.
“Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, pujian yang sebanyak jumlah nikmat-Nya bahkan lebih dari itu.”
SYARAH :
Secara bahasa al-hamdulillah (اَلْحَمْدُ لِلَّهِ) adalah mubtada’ dan khabar, sedangkan rabbil ‘alamin (رَبِّ الْعَالَمِيْنَ) adalah sifat bagi Allah. Al-Hamdu اَلْحَمْدُ)) artinya ungkapan pujian atas perbuatan yang dilakukan secara sukarela. Kata tersebut lebih luas maknanya dari kata kata asy-syukur (اَلشُّكُوْرُ) yang bermakna terima kasih. LafadzAllah (اَللَّهُ) bermakna Dzat yang berhak disembah dengan benar. Hanya berbeda dengan Ilah (إِلَهُ), sebab kata Ilah bias digunakan untuk semua dzat yang bias disembah manusia baik secara benar maupun batil.
Kata Rabb (رَبِّ) bermakna sang pemilik, majikan, yang disembah, yang memperbaiki, yang mengatur, yang menambal, yang mengurus. Sedang kata ‘alamin (العَالَمِيْنَ), jamak dari kata ‘alam (عَالَم) yang bermakna segala sesuatu selain pencipta. Meliputi manusia, jin, benda mati, dan sebagainya.
Kalimat hamdalah walau berisi pujian atas nikmat dan karunia namun Rasulullah ﷺ mencontohkan dalam berbagai keadaan walau ditimpa musibah sekalipun. Rasulullah ﷺ ketika mendapat anugerah mengucapkan :
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَات
“Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan nikmat-Nya dan menyempurnakan segala kebaikan”
Sedangkan ketika tertimpa musibah atau cobaan beliau mengucapkan :
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ
“Segala puji bagi Allah dalam berbagai keadaan”
Ini menunjukkan bahwa hamdalah bukanlah bukti kesyukuran semata, tapi bukti keridlaan dan kehambaan seseorang terhadap Allah. Bahkan disalah satu hadits, Rasulullah ﷺ bersabda :
خَيْرُ الدُّعَاءِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ
“Sebaik-baik doa adalah Alhamdulillah”
Oleh : Al-Faqir ilallah Adhli Al-Karni