Macam-Macam Puasa

Di dalam kitab Sirr al-Asrār karya Syaikh Abdul Qadir Jailani, beliau membagi puasa menjadi 3 tingkatan yaitu puasa syariat, puasa thariqat, dan puasa haqiqat. Puasa syariat yaitu menahan diri dari makan, minum dan jimak (berhubungan badan) di siang hari. Sedangkan puasa thariqat yaitu menahan seluruh anggota badannya dari seluruh yang diharamkan, seluruh yang dilarang dan seluruh yang tercela seperti ujub, riya dan lainnya di waktu siang dan malam hari, sehingga ketika seseorang melakukan hal-hal tersebut maka puasanya (puasa thariqat) dianggap batal. Puasa syariat dibatasi oleh waktu yaitu pada bulan ramadhan, sedangkan puasa thariqat adalah selamanya, seumur hidupnya.

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:

رب صائم ليس له من صيامه الا الجوع والعطش
“Banyak orang yang berpuasa, yang didapat dari puasanya hanyalah lapar dan dahaga”

Maka karenanya dikatakan, banyak orang yang berpuasa tetapi hakikatnya tidak berpusa (mufthir), dan banyak orang yang tidak berpuasa tetapi hakikatnya ia berpuasa karena menahan seluruh anggota badannya dari hal-hal yang dilarang dan dari menyakiti manusia sebagaimana Allah berfirman “Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan membalas terhadapnya (puasa)”.

Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda:

للصائم فرحتان، فرحة عند الافطار، وفرحة عند رئيته
“Bagi orang yang berpuasa terdapat dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika melihat Rabbnya”

Bagi ahli syariat, yang dimaksud dengan ifthār (berbuka) dan ru’yah (melihat) yaitu berbuka puasa dengan makan dan minum ketika magrib dan melihat hilal pada malam Idul Fitri sedangkan bagi ahli thariqat berbuka yang dimaksud adalah memakan hidangan-hidangan dan segala kenikmatan yang ada di surga dan dapat melihat Allah di hari kiamat dengan penglihatan sirr (ruh al-quds).

Adapun puasa haqiqat yaitu menahan fuād (ruh al-sulthāny) dari sesuatu selain Allah dan menahan sirr dari cinta menyaksikan selain-Nya. Sebagaimana Allah berfirman “Manusia itu sirr-Ku dan Aku sirr-nya”. Sirr itu dari nūr Allah, ia tidak akan condong kepada selain-Nya dan tidak ada bagi sirr yang dicintai, disukai dan dicari di dunia maupun di akhirat selain Allah SWT, sehingga ketika ia mencintai selain kepada Allah maka puasanya menjadi rusak dan wajib mengqada puasanya itu dalam keadaan kembali mencintai. Termasuk ke dalam golongan manakah puasa kita saat ini? (ن/AM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *