Santri NU itu wajib taat kepada pimpinan organisasi (PBNU). Karena hanya dengan cara itulah suatu organisasi bisa berjalan dengan baik dan terarah. Sejak dulu hingga sekarang NU adalah organisasi dengan jumlah massa terbesar di Indonesia. NU berkomitmen untuk mendakwahkan ajaran Islam yang damai dan ramah serta selalu menekankan tentang pentingnya semangat cinta tanah air.
Bukan rahasia lagi jika banyak pihak yang tidak menyukai NU karena kebesarannya. Beragam cara mereka gunakan untuk meruntuhkan NU, mulai dari menuduh warga NU sebagai pelaku bid’ah, aliran sesat dan seterusnya. Tapi tampaknya masyarakat NU sudah kebal sehingga cara seperti ini tidak lagi efektif.
Sekarang cara terbaru yang digunakan oleh pihak-pihak itu untuk meruntuhkan NU adalah dengan cara menjauhkan warga NU dari pimpinannya. Jika sudah terpisah jauh maka warga NU ibarat bebek yang kehilangan induknya sehingga mudah disetir dan diprovokasi untuk tujuan-tujuan tertentu.
Bagaimana caranya? Yaitu dengan cara menghembuskan fitnah-fitnah kepada pimpinan NU. Dengan cara itu diharapkan warga NU menjadi curiga dan kehilangan respek terhadap pimpinan NU. Akibat fitnah-fitnah itu maka pimpinan NU akan kehilangan wibawa dan segala perkataannya tidak ditaati lagi oleh warga NU.
Oleh karena itu warga NU wajib melakukan konfirmasi (tabayyun) jika menemukan berita-berita negatif tentang pimpinan NU. Karena saat ini berita-berita fitnah dan adu domba yang menyudutkan NU sudah memenuhi internet. Perlu hati dan logika yang jernih dalam memilah dan memilih berita yang berseliweran di media sosial. Salah satu cara untuk mendapatkan berita yang benar tentang NU adalah menjadikan situs resmi NU sebagai rujukan utama, bukan malah mengambil informasi dari situs-situs lain yang tidak jelas siapa pengelolanya. Semoga Allah SWT selalu menjaga kita dari segala distorsi informasi informasi tentang NU yang beredar baik di dunia nyata maupun dunia maya.
(Muhammad Dliyauddin/NB)