Belajar dari Beringin, Sang Pohon Keramat

Beringin (Ficus benjamina) adalah sebuah pohon yang sangat akrab dengan budaya asli Indonesia. Tumbuhan ini seringkali dianggap suci, mempunyai kekuatan magis dan mampu melindungi penduduk sekitar. Beberapa orang tua menyebut tumbuhan ini sebagai pohon “keramat” dan melarang anak-anak bermain dan merusak tambuhan tersebut.

Sampai saat ini masih banyak masyarakat yang mengidentikkan kata keramat dengan hal-hal berbau klenik, padahal kata keramat berasal dari kata karomah dalam Bahasa Arab yang memiliki arti mulia atau istimewa. Umumnya kata keramat diimbuhkan pada makam orang-orang yang dianggap sebagai wali oleh penduduk sekitar. Sekarang yang menjadi pertanyaan, apakah beringin pantas disebut sebagai pohon keramat?

Pohon beringin mempunyai beragam manfaat bagi lingkungan sekitar dan yang paling menonjol adalah kemampuannya dalam mengkonservasi air tanah. Banyak sumber mata air yang lokasinya berada di sekitar pohon beringin dan umumnya air tanah keluar tepat dari sela-sela akar pohon beringin. Mata air tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk berbagai kegiatan sehari-hari, mulai dari minum, mandi, mencuci, hingga mengairi sawah.

Tampaknya atas dasar kemanfaatan itulah orang-orang tua menyebut beringin sebagai pohon keramat. Mereka melarang anak-anaknya untuk tidak bermain di dekat pohon beringin agar pohon tidak rusak. Karena jika pohon beringin rusak, dikhawatirkan bisa berimbas pada mata air disekitarnya. Mungkin karena susah menjelaskan tentang konservasi air tanah kepada anak-anak, maka disusunlah cerita-cerita mistis untuk menakut-nakuti anak kecil. Hasilnya pun menakjubkan, cerita-cerita mistis tersebut dipercaya dan terus diceritakan dari generasi ke generasi.

Selain itu pohon beringin juga menjadi simbol dari Pancasila sila ke-3 “Persatuan Indonesia”, yang memiliki makna bahwa pohon beringin merupakan pohon yang besar di mana banyak orang bisa berteduh di bawah naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu, pohon beringin memiliki sulur dan akar yang menjalar ke mana-mana namun tetap berasal dari satu pohon yang sama, seperti halnya keragaman suku bangsa yang menyatu dibawah nama Indonesia.

Meskipun berukuran besar, namun buah pohon beringin berukuran sangat kecil sehingga tidak akan membahayakan siapapun yang bernaung di bawahnya. Tajuknya yang lebat sangat rindang dan bisa menjadi tempat tinggal berbagai satwa. Akar pohon beringin juga sangat kokoh, sehingga batangnya tidak mudah tumbang jika diterpa angin kencang.

Berdasarkan sedikit uraian diatas, tidak berlebihan kiranya jika pohon beringin dijuluki sebagai pohon keramat mengingat begitu besar manfaat yang diberikannya bagi lingkungan sekitar. Kini tugas kita sebagai khalifah fil ardi adalah mempelajari serta menjaganya agar tetap lestari dan kemanfaatannya bisa dirasakan oleh generasi yang akan datang. Karena ukhuwah Islamiyah bukan hanya antar sesama umat Muslim, tapi juga antar muslim dengan lingkungannya. (Muhammad Dliyauddin, KMNU UGM)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *