Belum lama ini ramai sekali komentar-komentar masyarakat di media sosial mengenai foto spanduk larangan mensalatkan jenazah pendukung salah satu calon gubernur yang dianggap menistakan agama, ada yang pro ada pula yang kontra. Hal demikian karena orang yang mendukung calon gubernur tersebut dianggap sebagai seorang yang munafik yang mayatnya haram untuk disalatkan, namun bagaimana seseorang tahu jika pendukung calon gubernur tersebut itu meninggal dalam keadaan munafik, padahal nifaq itu sendiri merupakan urusan hati, tidak ada yang tahu kecuali gusti Allah?
Munafik merupakan kata yang terambil dari kata nâfaqa nifâq yang berarti pura-pura. Orang munafik berarti orang yang berpura-pura pada agamanya, maksudnya apa yang di ucapkannya tidak sesuai dengan apa yang di-i’tikadkan-nya atau dapat dikatakan, lain di mulut lain di hati, berkata iman namun nyatanya tidak iman. Orang-orang munafik sudah ada pada zaman Rasulullah dimana ketika itu Rasul diberitahu oleh gusti Allah siapa orang-orang munafik disekitarnya. Walaupun demikian Rasul tidak pernah menceritakan kepada para sahabat siapa orang-orang munafik selain kepada Hudzaifah sehingga para sahabat tetap mensalati orang yang dianggap munafik karena sahabat tidak tahu dengan pasti apakah mereka benar-benar munafik atau tidak.
Ada suatu kisah menarik yang di riwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim dari Usamah bin Zaid bin Haritsah Radhiyallahu ‘anhuma ia berkata,
“Rasulullah SAW mengutus kami dalam sebuah pasukan perang untuk menyerang orang-orang kafir Marga Huraqah, bagian dari suku Juhainah. Kami menyerang mereka di waktu pagi dan kami mengalahkan mereka. Saya dan seorang sahabat Anshar mengejar seorang anggota Bani Huraqah yang melarikan diri. Ketika kami mengepungnya, tiba-tiba ia mengucapkan ‘Laa Ilaaha Illa Allah’ (Tiada Ilah Yang berhak disembah selain Allah). Sahabat Anshar itu pun menahan dirinya. Adapun saya menusuk orang tersebut dengan tombakku sampai saya menewaskannya.”
Usamah bin Zaid melanjutkan ceritanya, “Ketika kami tiba di Madinah, berita tersebut sampai kepada Nabi saw. Maka beliau bertanya kepadaku, ‘Wahai Usamah, apakah engkau tetap membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah?’ Saya (Usamah) menjawab, “Wahai Rasulullah, ia mengucapkannya sekedar untuk melindungi dirinya”,
namun beliau saw tetap bertanya, “Apakah engkau tetap membunuhnya setelah ia mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah?”
Saya (Usamah) berkata, “Beliau saw. masih terus mengulang-ulang pertanyaan itu, sehingga saya berangan-angan andai saja saya belum masuk Islam sebelum hari itu.”
Dalam riwayat Muslim, Rasulullah saw. bertanya kepada Usamah bin Zaid:
“Apakah ia sudah mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah, namun engkau tetap saja membunuhnya?”
Maka Usamah bin Zaid menjawab:
“Wahai Rasulullah, dia mengucapkannya karena takut kepada senjata kami.”
Namun Rasulullah saw. bersabda:
“Kenapa engkau tidak membelah dadanya, sehingga engkau mengetahui apakah hatinya mengucapkan Laa Ilaaha Illa Allah karena ikhlas ataukah karena alasan lainnya?”
Usamah berkata:
“Beliau terus-menerus mengulang pertanyaan itu kepada saya sehingga saya berharap andai saja saya baru masuk Islam pada hari itu.”
Dari riwayat tersebut maka tidak seyogyanya seorang muslim menuduh saudaranya sebagai seorang yang munafik, karena keimanan dan kemunafikan seseorang hanya gusti Allah yang tahu, bahkan Nabi pun tidak tahu isi hati manusia kalau bukan karena Allah yang memberitahu beliau.
Mengutip perkataan Imam Ghozali dalam kitab Bidayah al-Hidayah
“Janganlah engkau memvonis syirik, kafir atau munafik kepada seseorang ahli kiblat (orang Islam). Karena yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati manusia hanyalah Allah SWT. Jangan pula engkau ikut campur dalam urusan hamba-hamba Allah dengan Allah SWT. Ketahuilah, bahwa pada hari kiamat kelak engkau tidak akan ditanya : ‘mengapa engkau tidak mau mengutuk si Anu? Mengapa engkau diam saja tentang dia?’ Bahkan seandainya pun kau tidak pernah mengutuk Iblis sepanjang hidupmu, dan tidak menyebutnya sekalipun, engkau pun tidak akan ditanyai dan tidak akan dituntut oleh Allah nanti di hari kiamat. Tetapi jika kau pernah mengutuk seseorang makhluk Allah, kelak kau akan dituntut”
Menutup tulisan ini, Tuhan itu Allah yang mengetahui isi hati manusia bukan saya kamu atau dia. Nabi terakhir itu Nabi Muhammad yang menerima wahyu dari Allah bukan saya, kamu atau dia. Lalu siapakah saya kamu atau dia sehingga berani-beraninya memvonis orang lain munafik?
Wallâhu a’lamu bis showâb
(Mochamad Bukhori Zainun, S.T., Sarjana Teknik Penerbangan, KMNU ITB/Eff)