Peranan Temulawak dalam Pertumbuhan Ternak (Kajian Metabolisme dan Gut Health)

Fitobiotik atau yang dikenal sebagai phytogenic feed additive merupakan feed additive yang mengandung senyawa bio-aktif turunan tanaman yang diharapkan dapat berperanan memaksimalkan produktivitas ternak dengan cara memperbaiki sifat pakan, meningkatkan kinerja produksi ternak, maupun memperbaiki kualitas produk hasil ternak. Fitobiotik dapat dipakai sebagai pemacu pertumbuhan alami atau non-antibiotik growth promotor, turunan dari tanaman obat-obatan, rempah-rempah, atau tanaman lainnya (Windisch et al., 2007).

Hasmehi and Davoodi (2010) berpendapat bahwa fitobiotik merupakan pakan tambahan yang dapat digunakan sebagai strategi pakan untuk meggantikan antibiotic growth promotors. Efek dari penggunaan fitobiotik terhadap kinerja produksi ternak adalah meningkatkan kecernaan pakan, sehingga produktivitas ternak meningkat.

Temulawak mengandung senyawa aktif tetrahydrocurcuminoid (Osawa et al., 1995), curcumindemethoxycurcumin, dan bismethoxycurcumin (Wuthiudomler et al., 2000). Selain itu, temulawak juga mengandung sejumlah senyawa metabolit sekunder, seperti alkaloid, flavonoid, triterpenoid, glikosida, dan fenolik (Hayani, 2006). Dijelaskan lebih lanjut oleh Hayani (2006) bahwa temulawak juga mengandung minyak atsiri (3,81%), pati (41,45%), serat (12,62%), dan abu (4,62%). Senyawa-senyawa metabolit sekunder temulawak berperan dalam membantu proses pencernaan makanan dan aktivitas farmakologinya berperan dalam meningkatkan sistem imun tubuh (Al-Sultan, 2003).

Mekanisme kerja senyawa aktif temulawak dalam saluran penernaan terdiri dari mekanisme sebagai antimikroba, menurunkan pH saluran pencernaan hingga level gastric juiceserta menstimuli sekresi dari gastric juice. Adanya mekanisme kerja dari temulawak inilah yang akan meningkatkan produktivitas dari ayam broiler.

Mekanisme senyawa aktif temulawak sebagai antimikroba

Kandungan senyawa aktif yang terdapat dalam temulawak berupa kelompok curcuminoid (Wuthiudomler et al., 2000). Selain itu, temulawak juga mengandung sejumlah senyawa metabolit sekunder, seperti alkaloid, flavonoid, triterpenoid, glikosida, dan fenolik (Hayani, 2006). Senyawa aktif yang terdapat dalam temulawak merupakan natural antibiotic atau dapat dikatan sebagai antibiotik alami. Peranan antibiotik dalam tubuh adalah sebagai senyawa yang membuntuh mikroorganisme biotik dalam saluran pencernaan, baik bakteri pathogen atau apathogen. Apabila populasi bakteri pathogen yang berkurang dalam saluran pencernaan maka dapat membantu meningkatkan kinerja dari saluran pencernaan. Sebaliknya apabila bakteri apatogen berkurang dalam saluran pencernan maka tentu akan mengganggu kinerja dari saluran pencernaan unggas tersebut. Sistem pencernaan yang terganggu membuat absorbsi nutrient akan kurang optimal, sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan ternak.

Hasil penelitian Bawana et al. (2011) menunjukkan bahwa senyawa aktif curcumin pada temulawak dapat menghambat pertumbuhan bakteri pathogen seperti, S. aureus, B. subtilis, E. coli, dan P. aureginosa. Senyawa kurkumin dapat merusak struktur dinding sel bakteri, merusak peptidoglikan dan pentrasi dinding sel, sehingga menyebabkan terganggunya struktur sel organel dan membuat sel lisis. Aktivitas antibakteri kurkumin pada  B. subtilis melibatkan perturbing GTPase yang mangkatifkan FtsZ protofilamen sehingga berperanan penting dalam sitokinesis bakteri. Gangguan ini dapat mematikan bakteri dan menghambat profelirasi sel bakteri dengan menghambat dinamika perakitan FtsZ di cincin Z. Selain itu kurkumin juga dapat menghambat permukaan bakteri sortase protein A dan mencegah adhesi sel ke fibronektin, sehingga bertindak sebagai antibakteri angen terhadap S. aureus.  Mekanisme antibakteri juga ditunjukkan dengan penahanan dinding sel baketri sel, yaitu dengan melalui sel dan menembus didalam sel. Ketika kurkumin berada didalam sel dapat mengganggu struktur organel sel.

Peranan senyawa aktif sebagai antimikroba terdiri dari 2 mekanisme, yaitu:

1. Mengurangi populasi mikroba patogen dalam saluran pencernaan.

Mikroba patogen dapat berkompetisi dalam penggunaan available micronutient (mikronutrient tersedia) dalam saluran pencernaan. Apabila populasi mikroba patogen dalam saluran pencernaan berkurang maka mikronutrient teredia dalam saluran pencernaan dapat diserap secara optimal oleh mikro vili usus halus. Nutrient yang diserap optimal dapat dimanfaatkan dalam tubuh untuk memenuhi kebutuhan pokok dan untuk produksi tubuh. Kondisi ini tentu membuat produktivitas ternak meningkat, diiringi denga meningkatknya produktivitas karkas.

2. Mengurangi produksi toksin dalam saluran pencernaan

Toksin dalam saluran pencernaan berasal dari bakteri patogen. Adanya toksin dalam saluran pencernaan membuat sel goblet memproduksi mukosa dalam jumlah yang banyak untuk melindungi vili-vili usus dari toksin. Produksi mukosa yang berlebih dalam saluran pencernaan membuat vili-vili usus halus tertutup oleh mukosa dan dapat menghalangi absorbsi mikronutrien. Senyawa aktif pada temulawak yang bersifat sebagai anti mikroba dapat membunuh bakteri patogen dalam saluran pencernaan, sehingga produksi toksin dalam saluran pencernaan berkurang. Hal ini membuat absorbsi mikronutrien dalam saluran pencernaan akan berkurang karena vili-vili usus halus tidak tertutup oleh mukosa. Absorsi mikronutrient yang optimal akan meningkatkan kinerja pertumbuhan ternak yang akan diiringi oleh peningkatkan produksi karkas.

Mekanisme senyawa aktif temulawak dalam penurunan pH

Senyawa aktif temulawak berperran dalam menrunkan pH saluran pencernaaan hingga level gastric juice masih bekerja. Penurunan pH ini bertujuan untuk membunuh bakteri patogen dalam saluran pencernaan karena bakteri patogen tidak tahan pada suasana asam dalam saluran pencernaan. Selain itu susana asam yang masih dalam gastric juice dapat memaksimalkan kerja enzim dalam saluran pencernaan. Kondisi asam pada saluran pencernaan unggas dapat menstimuli sekresi enzim-enzim pencernaan. Kondisi ini akan membantu proses pencernaan dalam tubuh ayam. Enzim yang bekerja aktif  akan membantu proses pencernaan dalam tubuh karena proses pencernaan dalam tubuh dipengaruhi oleh kerja enzim.

Mekanisme senyawa aktif temulawak dalam sekresi gastric juices

Saluran pencernaan yang memiliki pH hingga titik gastric juices akan berkaitan erat dengan kerja organ saluran pencernaan, terutm organ-organ viseral saluran pencernaan. Suasana asam pada gastric juices akan menstimuli enzim-enzim pencernaan untuk disekresikan. Dinding lambung  mensekresikan pepsinogen yang bila dalam suasana asam akan mengubah pepsinogen menjadi pepsin. Adanya pepsin akan mencerna protein menjadi pepton, dimana pepton merupakan bentuk intermediet dari protein untuk memecah protein menjadi asam amino. Berbagai jenis asam amino yang telah dipecah akan diabsorbsi oleh vili-vili usus halus. Peranan asam amino dalam tubuh sangat penting yaitu sebagai bahan dasar penyusun pertumbuhan ternak. Semakin bayak asam amino yang tercerna dalam tubuh makan produktivitas ternak akan semakin meningkat.

Peningkatan produksi karkas dengan peberian temulawak

Mekanisme meningkatnya produksi karkas dengan pemberian temulawak adalah dengan meningkatknya kapasitas absorbsi nutrient dengan kondisi saluran pencernaan yang semakin baik. Pertumbuhan ayam broiler akan lebih baik bila diiringi dengan meningkatnya kapasitas absorsi nutrien. Sjumlah nutrient yang terserap akan dimetabolisme dalam tubuh. Hasil metabolisme dalam tubuh adalah senyawa-senyawa yang akan dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan produksi tubuh. Hal terpenting adalah pemenuhan kebutuhan pokok dari tubuh ayam. Kebutuhan pokok akan digunakan untuk kelangsungan hidup ayam broiler. Bila kebutuhan pokok sudah terpenuhi maka akan digunakan dalam produksi tubuh. Hasil akhir dari produksi adalah produktivitas ternak yang akan menghasilkan karkas dengan produksi yang optimal.

Sundari et al. (2014) menyatakan bahwa kurkumin memiliki kemampuan untuk transform metabolisme asam arakidonat (AA) kedalam EPA dan DHA sebagai antiinflamasi. Selain itu, senyawa kurkumin juga mampu menghambat siklooksigenase dan lipooksigenase karena konversi dari AA kedalam PGE2 dan LTB proinflamasi. Asam arkidonat akan diblok oleh kurkumin dengan aktifnya enzim delta-5-desaturase yang mengkatalis AA dan EPA, sehingga akan meningkatkan sintesis DHA. Selain itu, kurkumin juga berperan dalam menghambat hiperkolesterol dengan cara menurunkan aktivitas reduktase HMG CoA. Kondisi ini dapat mensekresikan insulin dalam tubuh. Aktifnya insulin dalam tubuh dapat menghambat sintesis kolesterol dalam  tubuh. Kurkumin dalam tubuh dapat meningkatkan reduksi mRNA encoding plasma NPC1L1 dari sintesis yang mentranspor kolesterol dalam membran sel, sehingga dapat membentengi kolesterol dalam enterosit.

Referensi:

Al-Sultan, S.I. 2003. The effect of curcuma longa (turmeric) on overall performance of broiler. International Journal of Poultry Science. 2: 351-353.

Bhawana, R.K. Basniwal, H.S. Buttar, V. K. Jain,  and N. Jain. 2011. Curcumin Nanoparticles: Preparation, Characterization, and Antimicrobial Study. J. Agric. Food Chemistry. 59: 2056–2061.

Hashemi, S.R. and H. Davoodi. 2010. Phytogenics as new class of feed additive in poultry industry. Journal of Animal and Veterinary Advances. 9: 2295-2304.

Hayani, E. 2006. Analisis kandungan kimia rimpang temulawak. Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian. Pusat Pertanian dan Pengembangan Peternakan. Pp. 309-12.

Osawa, T., Y. Sugiyama, M. Iayoshi, and S. Kaawakishi. 1995. Antioxidative activity of tetrahydrocurcuminoids. Bioscience, Biotechnology, and Biochemistry. 59: 1609-1612.

Sundari, Zuprizal, T. Yuwanta, and R. Martien. 2014.Effect of nanoencapsule level on broiler performance and fat deposition. International Journal of Poultry Science. 13: 31-35.

Windisch, W.M., K. Schedle, C. Plitzner, and A. Kroismary. 2007. Use of phytogenic products as feed additive for swine and poultry. Journal of Animal Science. 86: E140-148.

Wuthi-Udomlert, M., W. Girisanapan, O. Luanratana, and W. Caichompoo. 2000. Antifungal activity of Curcuma longa grown in Thailand. The Southeast Asian Journal of Tropical Medicine and Public Health. 1: 178-182.

Etha ‘Azizah Hasiib

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *