Ayat Politik dan Politik Ayat

Al-Quran sebagai pedoman hidup umat Islam merupakan kitab suci yang sangat indah nan agung. Banyak sekali di dalamnya terkandung kisah-kisah umat terdahulu, muamalah, sains, ekonomi, dan masih banyak lagi kandungan Al-Quran. Oleh karenanya, ada pendapat yang mengatakan Al-Quran merupakan kitab suci yang menjadi penyempurna bagi kitab-kitab sebelumnya. Al-Quran selalu enak untuk dibaca, kandungannya tak lekang dimakan oleh zaman. Dalam Al-Quran juga banyak disebutkan ayat-ayat tentang politik, atau ayat politik.

Ayat politik berarti ayat yang memiliki kandungan tentang politik. Misalnya saja potongan ayat yang berbunyi “Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah, Rasul, dan Ulil Amri diantara kalian”. Dari ayat politik tersebut secara langsung Al-Quran menganjurkan kepada umat Islam untuk turut serta dalam politik tidak acuh tak acuh terhadap politik apalagi jika sudah menyangkut ke-mashlahat-an umat manusia. Contoh ayat politik lainya yaitu “wa amruhum syuuraa bainahum” yang artinya dan urusan mereka dimusyawarahkan di antara mereka sehingga lahirlah lembaga seperti MPR dan DPR. Mempelajari dan mengkaji ayat politik dan hadits politik merupakan sesuatu yang sangat penting di zaman sekarang ini dan harus merujuk kepada kitab tafsir dan penjelasan para ulama tentunya terlebih bagi orang yang ingin mendalami politik. Jangan sampai ayat politik berubah menjadi politik ayat karena memahaminya dengan pendapat atau opini semaunya sendiri.

Politik ayat berarti suatu strategi dengan menggunakan ayat-ayat tertentu untuk menjatuhkan lawan politik atau untuk menjatuhkan suatu golongan. Politik ayat sering kali terjadi saat menjelang pemilu atau pilkada. Tiap calon dan para pendukung hampir sering membawakan ayat untuk memenangkan ambisi dan pilihannya. Al-Quran “dipaksa”, dicari-cari ayatnya, dipaksa agar ayatnya sesuai dengan nafsunya. Konteks ayat Al-Quran tidak disampaikan sebagaimana mestinya, sehingga banyak sekali ayat-ayat yang tidak tersampaikan maknanya. Lebih bahayanya jika politik ayat ini menyasar pada orang-orang awam yang tidak pernah mempelajari atau membaca tafsir Al-Quran. Ketika mendengar embel-embel ayat dalam ceramah dan ajakan yang berbau politik mereka langsung tertegun dan percaya tanpa mencari tahu dan memahami konteks ayat tersebut. Padahal Al-Quran sama sekali tidak pernah menyebarkan kebencian dan memihak pada salah satu pasangan calon.

Di dalam Al-Quran dengan gamblang Allah berfirman “wa lâ tasytarû bi âyâtî tsamanan qolîlân” yang artinya janganlah kalian jual belikan ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah. Bukan berarti kalau dijual dengan harga yang mahal itu boleh, namun maksud ayat tersebut adalah jangan sampai ayat Al-Quran ditukar dengan dunia yang nilainya rendah.

Termasuk ke dalam politik ayat yaitu menjatuhkan atau mencari-cari kesalahan amalan ibadah orang lain yang tidak sesuai dengan nafsunya. Ayat dipakai untuk mengakomodir nafsunya sehingga merasa paling benar sampai-sampai saudaranya yang muslim dituduh munafik, kafir, dan ahli bid’ah. Politik ayat merupakan hal  yang sangat berbahaya terlebih pada zaman sekarang ini, dimana seseorang dapat dengan mudah dan cepat memperoleh tafsir hoax suatu ayat dari politikus ayat. Hebatnya lagi orang-orang awam turut andil dan bersuara dalam penafsiran ayat.

Sayyidina ‘Ali ra pernah berkata:

“Agama dan dunia tidak akan lenyap, keduanya akan tetap tegak selagi 4 hal ini masih tetap ada
1. Selagi orang kaya tidak bakhil akan hartanya
2. Selagi para ‘ulama mengamalkan ilmunya
3. Selagi orang-orang bodoh tidak takabur terhadap sesuatu yang mereka tidak ketahui
4. Selagi orang-orang fakir tidak menjual akhirat mereka dengan dunia mereka (tidak meninggalkan agama untuk dunia)”

Sudah seharusnya generasi muda Indonesia bersikap kritis dalam menyikapi politik ayat. Sudah seharusnya generasi muda Indonesia faham konteks ayat atau kalaupun belum faham maka bertanyalah kepada ahlinya, yaitu ‘ulama yang benar landasannya, sehingga dapat bijak dalam berpolitik dan menghalau intrik. Jangan sampai menjadi seorang yang fundamentalis yang bertopeng sebagai seorang yang religius namun nyatanya politikus rakus.

Mengutip perkataan Guru Besar asal Syiria, Profesor Bassam Tibi, Pengajar di Universitas Göttingen. Beliau berkata

Though dual in character, the fundamentalist generally tends to be more of a ”homo politicus” than a ”homo religiosus”

Wallâhu a’lamu bis showâb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *