Alangkah indahnya seluruh ciptaan-Nya, namun sayang, tidak semua dari kita memahami keindahan itu.
Manusia yang diperkuda oleh lidah untuk mencari berbagai jenis makan, inovasi, dan peradigma teknologi makanan yang dicari ke seantero kota dan desa hanya memenuhi kepuasaan si lidah. Kecenderungan ini membuat makan tidak lagi sejati dengan konteks perut dan kesehatan tubuh, tetapi dipalsukan, dimanipulasi, atau diartifisialkan menjadi urusan kultur dan peradaan, yang biayanya menjadi amat sangat mahal. Budaya gengsi atau makan kekinian atau disebut orang yang tidak ketinggalan jaman menunjukkan makan merupakan bagian dari life style. Seolah-olah ketika kita makan itu dapat menunjukkan kualitas kita, kelas sosial kita, bahkan lambang kesejahteraan kita. Disadari atau tidak hal itu sudah melekat dan ngetren di masa ini.
Meskipun perut tidak pernah protes terhadap apapun yang disajikan kepadanya, hendaknya kita juga memahami perut itu ada batasannya. Sekeras apapun kemauan kita terhadap makanan namun perut menolak, mau apa kita? Itu artinya kita sesungguhnya punya kendali terhadap apa yang kita makan namun kita tidak punya kendali terhadap proses pengolahan makanan tersebut di perut kita. Kita juga tidak pernah bertanya, “wahai perut apakah sebenarnya aku ini dholim terhadapmu karena aku terlalu menuruti lidahku?” mungkin perut akan menjawab “mohon maaf, aku ini hanya sebagai perantara zat-zat pada makanan untuk diberikan kepada tubuhmu, ketika makanan masuk kepadaku, aku wajib mengolahnya karena sudah tugasku melakukan itu, namun aku ini juga makhluk yang bisa rusak kalau terus menerus dituntut untuk bekerja, mohon pengertian tuan akan kekuranganku ini.”
Rosulullah sendiri sudah menyampaikan untuk jangan memenuhi perut dengan makanan karena perut yang terlalu kenyang mudah digoda oleh setan. Makan sampai kekenyangan sungguh bukan ajaran Rosul. Bahwasannya Rosulullah saw sebagaimana yang diriwayatkan oleh keluarganya, beliau saw bertemu Allah (wafat) sedang beliau belum pernah kenyang dari makanan, dan bulan demi bulan berlalu tidak ada api yang dinyalakan didalam rumah-rumah keluarga Nabi Muhammad saw, mereka hanya memakan aswa, kurma, dan air. Sungguh pernah para sahabat mengeluh kelaparan kepada Rosululla saw dan menunjukkan perut mereka serta memperlihatkan satu batu yang dililitkan ke perut agar dapat menahan lapar, lalu Rosulullah saw menunjukkan perut beliau yang mulia serta memperlihatkan ada dua batu disana.
Beliau lebih memilih lapar dari pada kenyang, lebih memilih hidup prihatin dari pada hidup mewah, lebih memilih menjadi seorang Rosul yang menghamba dari pada menjadi Rosul yang menjadi Raja, saw. (Ahmad Fauzi Ridwan/Eff)