Taubat merupakan sebuah filosofi agung:
“Tidak perlu putus-asa, kita harus merenovasi kehidupan kita. Pandangan kita harus ke depan.”
Tak perlu lagi kita terlalu membawa beban besar dari masa lalu, yang memberatkan, meski tentu kita harus mengambil banyak pelajaran darinya untuk masa depan. Tapi, jangan sampai berhenti di sisi yang berlalu itu dengan terbelenggu rasa putus-harap. Sungguh takan berputus asa dari rahmat Allah kecuali masyarakat yang mengkafiri-Nya.
Taubat merupakan perisai diri yang mengajarkan kita agar terus mengevaluasi pribadi, mendidik kita sikap waspada dan lebih berhati-hati untuk hari-hari berikutnya.
Dan taubat merupakan salah satu sifat yang dicintai Tuhan. Allah Swt telah berfirman:
“Sesungguhnya Allah senantiasa mencintai orang-orang yang sering bertaubat.”
Maka mari kita jadikan taubat sebagai salah satu dari pondasi-pondasi kecintaan kita untuk-Nya.
Taubat menghantarkan kita menuju pintu Dzikir, pintu yang mengetuk hati kita agar senantiasa mengingat-Nya.
Rabb kita yang Maha Memberkati lagi Luhur berfirman dalam Kitab-Nya untuk menjelaskan dan menunjukkan:
“Maka, ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Kupasti senantiasa mengingat kalian!”
Perintah berdzikir/mengingat-Nya merupakan satu kalimat, dimana tegaknya dunia dan kelayakannya bergantung pada kekuatan dzikir.
Dengan berdzikir, kebahagiaan dan ketenteraman jiwa manusia bisa mewujud.
Dan berkat dzikir, hubungan antara Sang Pencipta dan yang dicipta akan semakin kokoh-erat.
Dari jalur dzikir pula, manusia akan sudi tenggelam dalam samudera Cahaya, maka tenggelamlah ia dalam cahaya tersebut.
Dengan perisai Taubat dan Dzikir, tidak akan lagi ia terdampar dalam kerusakan dan kelaliman, takkan pula ia terlena dengan tipu-muslihat dan maksiat. (Roby Ozt/acp)
Sumber Gambar: http://tipstren.pojoksatu.id/wp-content/uploads/2016/03/taubat.jpg