Mukidi, Sang Santri “Islam Ndeso” yang Kaget “Islam Kampus”

Mukidi, Sang Santri “Islam Ndeso” yang Kaget “Islam Kampus”

Alkisah, di sebuah kampus, sebut saja UPJ (Univeristas Para Jomblo) ada seorang manusia biasa bernama Mukidi. Ia adalah seorang santri yang masih polos dan seorang santri ndeso.  Sebagai santri ndeso, diterima di kampus favorit adalah suatu kebanggaan, apalagi UPJ adalah kampus ternama di daerahnya. Seleksi sangat ketat untuk diterima menjadi mahasiswa di UPJ. Mukidi sungguh beruntung diterima di kampus tersebut.

Orientasi perguruan tinggi telah dilaksanakan beberapa minggu lalu, kuliah pun sudah aktif sejak selesainya masa orientasi. Watak Mukidi memang cukup keras, meskipun gayanya juga sangat kocak dan terkesan ngawur, tapi itulah Mukidi, santri ndeso sang mahasiswa legendaris yang nyeleneh. Berbekal ilmu dari Kiai dari desanya, walaupun nyeleneh, ia tetap santun dan taat beribadah, ilmu agamanya juga bagus karena telah ditempa di pesantren di desanya.

Berangkat dari pemahaman ke-Islam-an Mukidi yang ndeso yang apabila ada perbedaan, sang guru selalu mengatakan “jangan kau salahkan mereka, mereka punya pedoman juga, perbedaan itu rahmat ngger”. Namun suasana yang terjadi di kampus megahnya berbeda dengan ademnya Islam ndeso. Mukidi merasa gelisah dengan ajaran Islam di kampus yang ia impikan.

Pagi itu, dengan kesederhanaan dan mata kriyip-kriyip (mata mengantuk) Mukidi mengikuti mata kuliah agama Islam. Pemahaman tentang Islam yang kaku benar-benar Mukidi rasakan di kelas ini. Tak pelak akhirnya Mukidi eyel-eyelan dengan dosen karena berbeda faham dengannya tentang hukum “wanita sholat Jum’at”. Mukidi ngeyel karena sang dosen “mengharamkan” praktek itu, padahal di desa Mukidi, praktek itu benar adanya dengan beberapa penjelasan. Rasa tidak srek Mukidi ke dosen itu ia ungkapkan waktu UAS mata kuliah tersebut. Mukidi masuk terlambat, 20 menit mengerjakan soal kemudian langsung mengumpulkan lalu keluar, padahal masih banyak waktu yang tersisa. Mukidi ingat ekspresi ibu itu saat menyapanya di luar kelas

“Jawabanmu betul betul, tapi terlalu singkat. Kamu lulusan mana?”

“Madrasah (tuuuuuuuuut:sensor) bu”, jawab Mukidi datar.

“O, pantes” jawab ibu itu singkat sambil lalu.

Kampus-kampus umum memiliki kegiatan sejenis bimbingan baca Qur’an. Alhamdulillah, di kampus Mukidi juga diwajibkan bagi mahasiswa baru. Biasanya yang menjadi murobi (mentor) adalah mahasiswa semester 3, 4, atau semester yang lebih tua dari itu. Nasib baik menimpa Mukidi, mengapa? karena mentor Mukidi seorang dosen, bukan mahasiswa. Minggu-minggu awal sih bagus-bagus saja ngajinya. Begitu minggu pertengahan semester pembahasan bukan lagi membahas tata cara baca Qur’an tetapi lebih sering fiqh, ada apa? Singkat cerita, sampailah pada bab niat sholat (usholli) dan do’a qunut pada sholat shubuh. Lah kok oleh mentor kesayangan Mukidi “amalan”nya dari desa itu di anggap bid’ah dan sesat, sontak Mukidi tidak terima.

“Buat apa baca Usholli kalok pulang sholat nyuri sandal, mending nggak baca usholli tapi pulang nggak mencuri”, ungkap murobi itu.

Sontak Mukidi kaget, spontan  dia menjawab “membandingkannya jangan dengan maling geh pak. Kalau sama-sama tidak mencuri baik mana?” balas Mukidi.

“Tapi baca usholli itu tidak diajarkan oleh Nabi, dan menambah sesuatu dalam sholat itu tidak boleh” sang murobi memberi penjelasan.

“Pak, sholatkan dimulai dari takbir. Jadi Usholli kan diluar sholat, kalau sebelum sholat saya boleh benerin baju, membaca Qur’an, bahkan menyanyi juga boleh. Kenapa membaca Usholli tidak boleh? Padahal itu bagus untuk menata hati menyiapkan diri untuk sholat” tegas Mukidi.

“Baiklah, itu memang diluar sholat. Lantas bagaimana dengan do’a qunut?” sang murobi membuka masalah baru. Mungkin menghindari debat lebih jauh dengan Mukidi tentang Usholli.

“Pak, didalam sholat-kan ada yang namanya sunnah hai-at dan ab’ad” Mukidi mencoba menjelaskan. Terjadilah perdebatan lucu (anda tahulah siapa pemenangnya, mentornya seorang dosen dan Mukidi hanya mahasiswa baru yang ndeso. Tapi, sang mentor tidak pernah belajar agama secara khusus dan Mukidi pernah numpang nginep di pesantren beberapa tahun hehe).

Kecewanya Mukidi dengan dosen (murobi) itu membuatnya mengambil keputusan “protes” yang nekat. Mukidi “bolos” saat Ujian Tengah Semester bimbingan membaca Qur’an pada hari minggu di masjid kampus. Ia sengaja jalan-jalan ke pantai (maklum, masih remaja labil). Alhasil nilai bimbingan Mukidi hanya 67.50. Nilai itu adalah nilai terendah di kelompoknya, bahkan mungkin di program studi Mukidi. Padahal, (maaf) jika ditanding lomba baca Qur’an, Insya Allah Mukidi yakin, melawan mentornya pun Mukidi menang tapi ya sudahlah, namanya juga hidup. Beruntung nilai akhir Mukidi  (30% nilai bimbingan Qur’an plus 70% nilai kuliah PAI) dapat A (meski Mukidi tidak tau dari mana, nilai 67.50 plus nilai UAS yang datang terlambat dan pulang pertama kok bisa A). Setidaknya itu jadi pelipur lara bagi Mukidi.

Tulisan ini bukan untuk menghujat atau menghina kelompok lain. Penulis hanya ingin mengajak, ayo kita jadi orang Islam jangan kaku, gumunan, bingungan, protesan, kagetan, dsb. Bagaimana caranya?  Caranya dengan terus ngaji, cari guru yang benar, hargai perbedaan. (Rosihun, Eff)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *