Doa untuk Pemuda: Renungan di Hari Sumpah Pemuda

“Berikan aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia!”

Apakah sekedar kata yang telah terucap dari lisan sang prokalmator? Apakah ini adalah sebuah doa serta harapan yang dipanjatkan untuk para pemuda untuk meneruskan keberlangsungan bangsa yang telah diperjuangkan dengan ikhlas oleh para pahlawannya. Indonesia.

Sudah 88 tahun lamanya sumpah telah didengungkan. Para pemuda bersumpah membela tanah air Indonesia dengan segenap jiwa raga. Di jaman penjajahan sumpah pemuda 28 Oktober 1928 menjadi pemantik pemuda Indonesia untuk melepaskan diri belenggu imperialisme dari tangan Belanda. Terbukti sejak dari awal abad ke 20, pergerakan-pergerakan menjamur dipenjuru dearah untuk menentang penjajahan. Pergerakan-pergerakan ini hampir semua diprakarsai oleh kaum muda. Semangat darah muda yang berapi-api, tekad, dan nyali yang kuat menjadi modal bangsa Indonesia untuk merdeka.

Saat ini impian kaum muda masa itu telah tercapai. Indonesia merdeka, namun apakah Indonesia telah merdeka seutuhnya atau hanya terlilit bentuk penjajahan baru? Korupsi contohnya. Pepatah mengatakan “menggapai sesuatu lebih mudah daripada mempertahankannya”. Founding father negara ini masih mempunyai mimpi yang tersematkan pada nilai-nilai pancasila dan termaktub pada UUD 1945. Semua yang telah diimpikan masih jauh dari realita yang ada saat ini. Masih banyak tantangan bagi bangsa Indonesia untuk menuju merdeka yang sesungguhnya. Lagi-lagi, pemuda menjadi harapan bangsa sebagai tulang punggung perjuangan untuk mengisi kemerdekaan. Akankah doa Soekarno akan terkabul? Ataukah hanya sekedar kata-kata bijak yang menyeru di media-media?

Semangat sumpah pemuda bukan hanya sekedar teks yang dihapal diluar kepala, namun harus menjadi bahan bakar yang membara disetiap dada jiwa-jiwa muda generasi penerus bangsa untuk menyalakan tekad melawan mental malas, mental korup, mental kebergantungan, melawan kemiskinan, melawan kebodohan, dan melawan bentuk penjajahan baru. Terdapat nasihat manarik dari Syeikh Syarofuddin Yahya Al-‘Imrithy:

Idzil fata hasba’ tiqoodihi rufi’ – wa kullu man lam ya’taqid lam yantafi’

Adapun soerang pemuda yang luhur adalah pemuda yang mempunya impian dan tekad, setiap orang yang tidak mempunyai impian maka ia adalah orang yang tidak bermanfaat sama sekali.

Seharusnya pemuda saat ini wajib bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dalam dunia pendidikan sudah tersedia ruang-ruang belajar yang lebih dibanding dengan era dimana sumpah pemuda didengungkan. Seharusnya pemuda saat ini mempunya nalar yang lebih, pikiran-pikiran yang baru untuk masa depan bangsa Indonesia. Tidak hanya berfikir tentang kehidupannya sendiri, memperkaya diri sendiri, menuruti ego namun juga harus berfikir bagaimana menjadi bermanfaat dan dapat berkontribusi untuk menggapai impian bangsa ini.

Hari ini sumpah pemuda kembali mengulang kisahnya. Doa-doa yang terpanjat menjadi harapan baru bagi bangsa Indonesia. Khususnya untuk kaum muda yang mempunyai mimpi besar akan kejayaan Indonesia Raya. (Aswin Arifin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *