oleh : Arief Rizqillah
“Kuu lihat ibu pertiiiiwi
Seeedang bersusah hati
Aaair matanya berliiiinang
Mas intannya terkenang
. . .
Kiiini ibu sedang lara
Meeerintih dan berdoa ”
Waktu ku kecil, aku berpikir keras
Siapa sih ibu Pertiwi?
Kasian sekali
Ku tanya emak, beliau hanya tersenyum bahagia
Ku tanya bapak, beliau malah menepukku banga
Ku tanya kakak, dia malah tersenyum meledek
Ku tanya adik, ah dia baru bisa berceloteh tak jelas
Lalu aku kecil kemudian bertekad untuk menjaga ibu Pertiwi
agar beliau tak bersusah hati lagi
Agar beliau tak lara lagi
Tapi kini giliran aku yang tersenyum, meringis lebih tepatnya
Itu juga kalau aku udah tau siapa ibu Pertiwi, ujarku lirih
Setelah besar,
Lalu aku berjumpa ibu Pertiwi
Pada
Hutan gunung sawah lautan
Pada
Simpanan kekayaan
Aku kembali tersenyum, kembali meringis
Terlalu naif cita ku sewaktu kecil
Bisa apa aku menjaga ibu Pertiwi?
Agar tidak hancur
Agar tidak rusak
Agar tetap lestari
Dan agar tidak bersusah hati
Serta agar tidak lara
Ah peduli apa pikirku,
Yang penting aku berusaha sebisa ku
Dan
Aku kembali bernyanyi
“Kuu lihat ibu pertiiiiwi
Kaaami datang berbakti
Liiihatlah putra-putrimu
Menggembirakan ibu
Ibu kami tetap cinta,
Putramu yang setia
Meeenjaga harta pusaka
Uuuntuk nusa
daaan bangsa”
(Arief/Fela)