KH. Taufiqul Hakim: Indonesia Darurat Lima Hal

Jepara, KMNU Online
Senin (4/7) Anggota Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) menyempatkan diri untuk silaturrahmi dengan kiai terkemuka di Jepara; KH.Taufiqul Hakim, pengasuh pondok pesantren Darul Falah Amtsilati Sidorejo, Bangsri Jepara Jawa Tengah. Silaturrahmi ini merupakan program dari KMNU Pusat untuk menyelenggarakan agenda silaturrahmi ulama penjuru negeri se-Nusantara dimana anggota KMNU berasal, untuk pekan libur idul fitri kali ini.

Dalam kesempatan berharga tersebut, Kiai taufiq mengatakan bahwa Indonesia yang kelihatan aman-aman saja saat ini sedang dihadapkan dengan kondisi yang darurat. “Indonesia sedang darurat utama di lima hal, yakni darurat narkoba-miras, darurat radikalisme, darurat korupsi, darurat seks bebas-gay-lesbian, dan darurat tawuran,” ungkap beliau dengan serius.

“Kondisi ini sangat menghawatirkan bila kita tidak mencegah dan menanggulangi permasalahan ummat ini, mengingat sudah meluas di banyak tempat dan generasi” imbuhnya. Beliau menjelaskan dengan rinci penyebabnya, dan salah satunya adalah karena ketidaktahuan masyarakat tentang bahaya kemaksiatan tersebut baik dari segi negara maupun utamanya segi agama.

“Coba lihat kurikulum anak sekolah sekarang. Apa ada satu materi yang menerangkan bahaya 5 hal tersebut di sekolah, dari sejak kecil?” tanya beliau kepada kami. Untuk itu, penemu metode baca kitab kuning cepat yang terkenal dengan nama “Amtsilati” ini mengajak KMNU sebagai perwakilan mahasiswa untuk turut serta dalam penanggulangan lima hal tersebut. Beliau menciptakan 5 buku seri berjudul “Syifa’ul Ummah”, yang isinya beliau karang sendiri dengan metode nadhoman/syair, dalam tiga bahasa (Jawa, Indonesia, dan Inggris), disertai dengan penjelasan, ayat Qur’an dan Hadis nabi yang berkaitan dengan materi tersebut. Beliau berharap KMNU bisa turut mengambil andil untuk menyebarkan buku tersebut.

“Tidak perlu menambah jam pelajaran atau waktu yang lama, cukup dengan membaca nadham/syair 3-5 bait sebelum dan 3-5 bait setelah belajar per hari, seminggu sampai dua minggu khatam sekali. Dengan demikian dalam setahun bisa khatam 20-40 kali, insyallah akan ada manfaatnya,” tutup beliau.

Buku ini bisa digunakan mulai dari SD/MI, MTs/SMP, MA/SMA, Mahasiswa dan umum. Yusuf, salah satu tim silaturrahmi yang juga anggota KMNU UPI berpendapat buku tersebut sangat mudah dipahami, dan berisi pesan-pesan moral yang patut disebarluaskan. (Hasan/ el Naomiy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *