POT (Pengajian Online Taqrib) #3: Basmalah

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Alhamdu lillahilladzi qad ‘allama                             nabiyyahu muhammadan syams ad-dhuha

Tasmiyatal ilaahi fibtidaai                                      kulli amri dzii baalin wal jalaali

Tsumma sholaatullaahi ma’ salaami                      ‘ala nabiyyihi  wa khairi aali

Berkata Pengarang Kitab Taqrib rahimahullah:

Bismillaahirrohmaanirrahiim

Allah memulai kitab-Nya dengan basmalah dan mendidik Nabi-Nya dengan Iqra’ bismi rabbika. Iqra’ bismi rabbika merupakan wahyu pertama yang diterima Rasulullah, sebagai bimbingan kepada Nabi-Nya agar senantiasa menyebut nama-Nya dalam setiap aktifitasnya, memberikan pesan kepada manusia agar memulai setiap aktifitasnya dengan nama Allah sehingga memperoleh keberkahan dari-Nya.Dari-Nya semua yang memiliki permulaan bermula, dengan nama-Nya segala sesuatu harus dimulai dan kepada-Nya segala sesuatu akan kembali.

Pengarang kitab memulai kitabnya dengan basmalah karena ittiba’ kepada akhlak Allah yang memulai kitab-Nya dengan basmalah, mengamalkan hadis Nabi  Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan basmalah maka  terputus keberkahannya” . Melestarikan sunnah salaf as-shaalih yang memulai setiap tulisannya dengan basmalah, serta meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang akan datang kepada hamba-Nya untuk merusak niatnya ketika akan melakukan kebaikan.

Lafadz dan Makna Basmalah

Lafadz dan makna merupakan dua hal yang saling berkaitan yang  tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Lafadz merupakan apa yang diucapkan dari  sesuatu yang terdengar maupun tertulis, sedangkan makna merupakan kandungan dari lafadz dan tujuan yang hendak dicapai dari pengucapan atau penulisan lafadz. Sebagian ulama mengatakan, lafadz dan makna bagaikan ruh dan jasad, oleh karena itu keduanya tidak boleh dipisahkan, karena jika dipisahkan maka tidak akan berfungsi atau mati. Sebagaimana ruh yang bersemayam dalam jasad begitu pula lafadz yang menjadi tempat bagi makna, ia tidak akan berarti apa-apa tanpa makna atau omong kosong, makna pun tidak akan tampak dan terpahami jika tidak ada lafadz. Pemahaman tentang isytiqaq (asal usul kata) merupakan hal penting dalam menetapkan makna, banyak para ulama yang memulai tulisannya dengan menguraikan isytiqaq suatu kata, terlebih ulama-ulama ushul fiqh yang membahas persoalan lafadz secara panjang lebar.

Kalimah basmalah diawali dengan huruf ba’. Ba’ merupakan salah satu dari huruuful jar, yaitu huruf-huruf yang memberikan makna tertentu kepada setiap kata yang berkaitan dengannya. Huruf ba’ ada yang zaidah ada juga yang bukan zaidah, ba’ yang bukan zaidah memiliki makna yang beragam.  Ba’ pada basmalah mengandung kalimat yang  tersimpan, sehingga ketika sesorang hendak melakukan suatu aktifitas dengan membaca basmalah maka di dalam hatinya terlintas abtadiu, aku memulai, aktiftas ini dengan menyebut nama Allah, aku memulai tulisanku (ini) dengan menyebut nama Allah. Suatu aktifitas yang dimulai dengan nama Allah akan memperoleh keberkahan yang sempurna, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam  bersabda “setiap perkara penting (menurut syar’i) yang tidak dimulai dengan ‘bismillaahirrahmaanirrahiim’ maka terputus keberkahannya”.

Para ulama berbeda pendapat dalam menetapkan makna ba’ pada basmalah, sehigga mennimbulkan perbedaan penafsiran makna  basmalah. Ada ulama yang berpendapat ba’ pada basmalah mengandung makna isti’anah yaitu meminta pertolongan, sehingga ketika akan memulai suatu aktifitas, seseorang memunculkan dibenaknya ‘aku memulai aktifitas (ini) dengan meminta pertolongan nama Allah’. Ada juga ulama yang berpendapat makna ba’ yang terkandung dalam basmalah adalah lil mushaahabah yang bertujuan mendapatkan keberkahan dengan diiringinya (disebutnya) nama Allah. Penggunaan  balil mushaahabah lebih sering digunakan dibandingkan lil isti’aanah karena penggunaan ba’ lil isti’aanah akan melahirkan anggapan bahwa nama Allah merupakan alat meminta pertolongan. Imam Al-Alusy dalam kitab tafsir ruuhil ma’aani lebih mengutamakan penggunaan ba’  lil isti’aanah dibandingkan lil mushaahabah, menurut beliau lil isti’aanah lebih tepat dibandingkan lil mushaahabah karena di dalamnya terdapat adab, istikaanah (merendahkan diri), menampakkan kehambaan.[1]

Penulisan kata bismi  tidak diiringi alif berbeda dengan bismi pada ayat-ayat lain yang setelah ba’-nya terdapat huruf alif. Hal tersebut merupakan pertimbangan praktis karena seringnya basmalah untuk ditulis dan diucapkan, demikian mayoritas ulama berpendapat. Masih banyak sebenarnya pembahasan tentang ba’ pada basmalah, seperti mengapa Allah mengawali basmalah dengan huruf ba’ bukan dengan huruf yang lain, namun penulis cukupkan sampai disini.

Kalimah ‘Ism’

Di dalam Islam nama merupakan hal yang penting dan esensial, Allah berfirman “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama semua benda, kemudian memalingkannya  kepada malaikat, lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kalian yang benar!” (al-Baqarah: 31). Andai kata nama tak berarti apa-apa, mungkin Allah tidak akan mengajarkan nama-nama kepada Nabi Adam. Umumnya penamaan sesuatu berkaitan dengan fungsi dan esensi dari sesuatu tersebut, seperti nama Adam yang terambil dari adimil ardh yang artinya muka bumi, karena Nabi Adam diciptakan dari tanah, demikian ulama berpendapat. Nama juga merupakan doa bagi yang memiliki nama tersebut. Orang tua memberikan nama pada anak adalah sebagai doa bagi sang anak.

Nama dalam bahasa Arab berarti ism, yang merupakan kata penyusun kedua dalam basmalah. Kata ism terambil dari kata sumuww yang berarti tinggi dan tampak, karena nama akan membawa sang pemilik nama kepada ketinggian dan eksistensi. Ada juga yang berpendapat  terambil dari kata wasm yang berarti tanda karena isim (nama) merupakan tanda bagi yang dinamai atau sang pemilik nama. Nama merupakan tanda pengenal atau identitas bagi setiap sesuatu yang dinamainya (pemilik nama), misalnya saja ketika seseorang mendengar kata meja maka akan tergambar di dalam benaknya  bentuk fisik dari meja, material-material penyusunnya juga fungsinya secara umum. Menariknya kata Ism pada basmalah disandingkan dengan kata Allah, yang akan memberikan makna tersendiri terhadap para pembacanya sesuai dengan latar belakang dan pengetahuan yang dimiliki para pembacanya.

Kalimat Allah dalam Basmalah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “berfikirlah mengenai ciptaan Allah, jangan berfikir mengenai Dzat-Nya”. Karena melalui ciptaan-Nya, manusia akan sadar  eksistensi-Nya, dan mengetahui sifat-sifat Nya, di dalam ilmu tauhid sering kali para ulama memberikan dalil mengenai wujudullah (eksistensi Allah) dengan wujudul alam (eksistensi alam semesta). Manusia tidak akan pernah mampu berfikir mengenai Dzat-Nya karena keterbatasan akal manusia sebagai seorang hamba. Allah memiliki pengetahuan yang tidak mampu dicapai oleh para nabi-Nya, para nabi dikhususkan dengan pengetahuan yang tidak mampu dicapai oleh para ulama, dan para ulama dikuhususkan dengan pengetahuan yang tidak mampu dicapai oleh orang awam.[2]

Para ulama berbeda-beda dalam memaknai asal-usul kata allah. Kata allah terambil dari kata aliha yang berarti tenang, karena makhluk-makhluk akan merasa tenang dan tentram dengan dzikir kepada-Nya. Sementara ulama ada yang memaknai kata aliha dengan yang dituju, karena Allah merupakan Dzat yang dituju untuk disembah. Ada juga yang berpendapat terambil dari kata walh yang berarti berlindung sehingga makhluk-makhluk-Nya meminta pertolongan/perlindungan kepada-Nya dari segala kebutuhan. Allah merupakan Dzat yang wajib dituju dan disembah oleh makhluk-Nya karena dengan menyembah-Nya, makhluk-Nya akan senantiasa ingat kepada-Nya sehingga memberikan ketenangan dalam jiwa, karena dengan beribadah kepada-Nya, makhluk-Nya akan senantiasa memperoleh inayah-Nya.

Dia-lah Allah yang memperkenalkan dan menamai dzat-Nya dengan nama Allah. Kepada nama Allah, semua nama dan sifat kesempurnaan, Allah nisbatkan. Allah berfirman:

“Dia-lah Allah yang tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dia-lah Allah yang tiada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang memberikan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Mahakuasa, Yang memiliki segala keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka sekutukan. Dia-lah Allah Yang Maha Pencipta, Yang Maha mengadakan, Yang membentuk rupa, Yang mempunyai asmaul husna (nama-nama yangpaling baik). Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana” (Al-Hasyr: 22-24)

Ar-Rahman dan Ar-Rahim

Kata selanjutnya yaitu Ar-Rahman dan Ar-Rahim, yang keduanya terambil dari kata rahima. Kata rahman lebih sangat/mantap dibandingkan kata rahim karena rangkaian huruf yang terkandung  lebih banyak dibandingkan pada rahim, maka selaras dengan kaidah yang berbunyi ziyaadatul binaa’ tadullu ‘alaa ziyaadatil ma’naa (tambahnya huruf menunjukkan tambahnya makna). Kata Ar-Rahman merupakan sifat Allah yang mencurahkan rahmat sementara di dunia, sehingga rahmat Allah meliputi seluruh makhluk-Nya di dunia baik mukmin maupun kafir, sedangkan kata Ar-Rahim merupakan curahan rahmat-Nya yang kekal yaitu rahmat-Nya di akhirat, sehingga hanya makhluk-makhluk yang beribadah kepada-Nya sajalah yang mendapatkannya. Ar-Rahim senantiasa memberi jika diminta dan akan marah jika tidak diminta[3]. Penggabungan kata Allah, Ar-Rahman, dan Ar-Rahim menunjukkan bahwa seseorang yang meminta pertolongan kepada Allah, mula-mula menyebut nama teragung dari Dzat yang wajib wujud-Nya terlebih dahulu,  sebagai tanda kewajaran untuk dimintai. Selanjutnya seseorang menyebut sifat-Nya sebagai pujian kepada Dzat yang dimintai pertolongan dan memang sudah sewajarnya Dzat yang wajib wujud-Nya, yang Maha Penolong disandingkan dengan sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim, karena curahan rahmat yang diberikan-Nya senantiasa tidak pernah terputus.

Seorang ulama berkata:

Laa tas alanna bunayya aadama haajatan         wasal ‘ala alladzi abwaabuhu laa tuhjabu

Allahu yaghdobu in tarakta suaalah                       wa bunayyu aadama in yusal yaghdobu

”Sungguh jangan meminta kebutuhan kepada manusia, tapi mintalah kepada Dzat yang pintu-pintu-Nya tidak pernah tertutup. Allah akan marah jika engkau meninggalkan meminta kepada-Nya, sedangkan manusia jika diminta maka ia akan marah”

Semuanya Dengan Sebab-Ku

Banyak sekali makna-makna yang terkandung dalam basmalah, Sayyidina Ali krw. berkata  Jika aku mau, maka aku berikan kepada kalian seberat delapan puluh unta dari makna bismillahirrohmaanirrohiim”. Dari perkataan Sayyidina Ali tersebut dapat diketahui bahwa amatlah banyak dan luas tafsir dari basmalah. Syaikh Ibrahim Al-Baajuury di dalam kitab haasyiah al-baajuury menjelaskan bahwa makna-makna dalam kitab-kitab Allah terkumpul dalam Al-Quran, makna-makna Al-Quran terkumpul dalam Al-Fatihah, makna-makna Al-Fatihah terkumpul dalam basmalah dan makna-makna basmalah terkumpul pada huruf ba’ nya, sedangkan makna isyaari [4]dari ba’ yaitu bii kaana maa kaana wa bii yakuunu maa yakuunu (dengan sebab-Ku sesuatu yang telah ada itu ada dan dengan sebab-Ku sesuatu yang akan ada itu ada)[5].

Musykilat

Amri dzii baalin

Yang dimaksud dengan amri dzii baalin yaitu perkara-perkara yang tidak termasuk ke dalam kategori haram li dzaatihi, makruh lidzaatihi juga bukan termasuk perkara-perkara yang hina atau rendah, maka haram membaca basmalah pada perkara-perkara yang termasuk ke dalam kategori  haram li dzaatihi seperti membaca basmalah ketika melakukan zina. Demikian halnya makruh membaca basmalah ketika melakukan perkara-perkara yang termasuk ke dalam makruh li dzaatihi seperti melihat farji  (kemaluan) pasangannya. Berbeda dengan haram li ‘aaridh dan makruh li ‘aaridh seperti berwudhu dengan air hasil ghosob, memakan bawang maka membaca basmalah pada hal-hal demikian itu sunnah. Basmalah juga tidak dianjurkan dibaca ketika melakukan hal-hal yang hina seperti membaca basmalah ketika menyapu kotoran, hal itu bertujuan agar menjaga dari berbarengannya nama Allah dengan hal-hal hina.[6]

Muncul pertanyaan “mengapa membaca basmalah dianjurkan ketika akan memasuki WC, padahal WC merupakan sesuatu yang kotor dan hina?” Pada saat seseorang hendak masuk ke WC, basmalah yang ia baca bertujuan sebagai penjagaan dari syaitan sehingga membaca basmalah pada saat masuk WC termasuk  amri dzii baalin

Membaca basmalah sebelum melakukan aktifitas-aktifitas positif menurut syar’I  merupakan suatu keharusan agar mendapatkan berkah yang sempurna. Allah sumber berkah, Allah yang memberkahi segala sesuatu, Allah bebas memberkahi siapa saja dan apa saja yang Ia kehendaki.  Seorang muslim dianjurkan untuk berusaha mendapatkan berkah dari setiap aktifitas yang ia lakukan.  Basmalah merupakan Akhlak Allah yang  Allah ajarkan kepada manusia, sudah selayaknya seseorang berakhlak dengan akhlak-Nya sehingga mendapatkan kucuran rahmat-Nya. (Mochamad Bukhori Zainun, Astroboy)

Wallahu a’lam bi as-showab


[1] Al-Alusi, ruuhul ma’aani, hal.47

[2] Nawawi Al-Bantani, marah labid li kasyfi ma’na quran majid. Hal.3

[3] Ihsan Muhammad Dahlan Al-Jampesi, Siraj At-Thalibin, hal.5

[4] Isyaari berasal dari kata syaara al-‘asal yang berarti mengeluarkan dan mengambil madu dari sarang lebah. Makna isyaari yaitu makna yang dikeluarkan melalui proses pemahaman yang mendalam sehingga diperoleh makna yang mantap

[5] Ibrahim Al-Baajuury, Haasyiah Al-Baajuury, maktabah Imaaratullah, hal.11

[6] Ibrahim Al-Baajuury, haasyiah al-baajuury, hal.10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *