Kita Mampu Bermedia

Media merupakan alat yang ampuh untuk menyampaikan suatu pesan. Dahulu kalau orang hendak mengirim surat haruslah berwasilah dengan kantor pos. Kalau orang ingin mengungkapkan gagasan haruslah di depan banyak orang. Budaya yang mulai hilang dalam proses perpindahan informasi yaitu penyampaian secara lisan. Tradisi orang zaman dulu dalam menyampaikan informasi lebih cenderung secara lisan dari pada tulisan sebab angka buta huruf masih tinggi.

Peran teknologi saat ini mengubah budaya itu semua. Zaman radio dan televisi kita menjadi penerima pesan saja. Sifat satu arah dari kedua media tersebut menempatkan kita sebagai konsumen informasi. Tanpa bisa mengkritik atau sekedar memberi saran tentang pesan yang telah disiarkan. Kontrol masyarakat menjadi lemah terhadap materi yang disampaikan terlepas dari berita tersebut benar atau salah.

Era digital menjadi batu loncatan budaya dari berbicara menjadi membaca atau menulis. Siapapun dapat bebas berkarya mengunggah apapun. Kita bisa menjadi pembaca sekaligus penulis. Kita bisa membaca berbagai artikel atau berita di berbagai media. Kita juga bisa menulis aspirasi dan berbagi ilmu pengetahuan yang kita miliki. Tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Hal yang krusial tentang media saat ini adalah konten atau isi materi. Kalau kita tidak selektif dan bijak maka dapat terjadi pertikaian antar pengguna media. Rajin membaca akan membuat kita semakin mengerti selain mendapat informasi juga tahu bagaimana menyusun tulisan yang baik dan nyaman dibaca. Membaca dapat meng-upgrade wawasan dan kepekaan kita terhadap permasalahan sosial. Membaca akan menjadi bekal kita untuk membuat tulisan. Semakin banyak bacaan semakin banyak bahan kita untuk menulis.

Menulis dapat melatih kita untuk menyampaikan gagasan yang kita miliki. Menulis juga dapat melatih kita berpikir sistematis agar pikiran kita mudah dimengerti oleh pembaca. Menulis dapat menjadi suatu ukuran sejauh mana kemampuan kita menyerap informasi dan merangkainya menjadi kata-kata untuk disampaikan kembali. (Fathurrohmah)

SEBAB MENULIS LEBIH BERSEJARAH DARI PADA BERBICARA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *