Kuala Lumpur, KMNU Online
Tepat setelah terpilih menjadi Ketua Umum KMNU Malaysia pada Musyawarah Besar (Mubes) II KMNU International Islamic University Malaysia (IIUM) Sabtu lalu (02/04), Nur Alfin Mubarok segera melakukan konsolidasi dengan PCINU Malaysia. Hal pertama yang ia lakukan adalah bersilaturrahim ke Al-Ustadz Lingling Sibromilisi, Ketua Syuriyah PCINU Malaysia dan Al-Ustadzah Mimin Mintarsih, Ketua Muslimat Malaysia.
“Memang kami kesini diundang untuk menghadiri cukur rambut cucu salah satu pengurus Muslimat. Tapi selain itu, kami sebagai pengurus baru meniatkan juga untuk ‘sowan’ dan meminta nasihat beliau berdua sebagai orang tua kami,” tutur Alfin.
“Secara implisit beliau berdua ingin agar KMNU lebih aktif, mampu menjalankan peran diri sebagai seorang mahasiswa dan kader NU, serta mampu saling bekerja sama dan merekatkan persatuan antar warga NU khususnya yang ada di Malaysia,” imbuh Alfin mengutip nasihat beliau berdua.
Ditanya tentang program kerja ke depan, salah satu kader terbaik KMNU Malaysia ini secara diplomatis menyatakan, “Sebenarnya kami sedang memikirkan beberapa detail program yang akan kami jalankan. Insya Allah, dalam minggu-minggu ke depan, akan kita kumpulkan pengurus dan kita susun sebuah road-map satu tahun kepengurusan.”
Selain itu, “Hal yang harus menjadi perhatian dan pekerjaan rumah untuk kami adalah pergantian nomen klatur KMNU IIUM menjadi KMNU Malaysia,” tutur sang Ketua yang sedang duduk di semester 2 jurusan Fiqh dan Usul al-Fiqh International Islamic University Malaysia ini. Pergantian ini, lanjutnya, dengan sendirinya berkonsekuensi pada perubahan distribusi susunan kepengurusan, wilayah kerja, target dan cara untuk mencapainya.
Hal ini diamini oleh Ketua KMNU IIUM demisioner, Muhammad Robi Ulfi Zaini Tohir. “Tentu perubahan ini akan menjadikan dan mengharuskan kita semua pengurus KMNU Malaysia untuk berfikir lebih luas dan integral lagi, yang asalnya IIUM-Oriented menjadi Across Malaysia-Oriented,” terang pria asal Banten ini.
Robi juga mengharapkan agar pengurus baru mampu menjalin kerja sama dengan organisasi-organisasi lain namun tetap tidak kehilangan jati diri sebagai warga Nahdliyyin. “Itu (kerja sama dengan organisasi lain) jelas dan justru menjadi tantangan kehidupan sosial kita, karena kita di sini tidak hidup sendiri namun juga berdampingan dengan orang lain yang punya pendapat lain.” (Aziz)