KMNU UPI Wakili Panitia Munas dan KMNU Nasional Bersilaturahmi dengan Wakil Rektor UPI

Bandung, KMNU Online

Selasa (03/02) bertempat di Rektorat Universitas Pendidikan Indonesia yang lebih dikenal dengan Gedung Isola, sejumlah rekan-rekan KMNU UPI yang mewakili Panitia Munas 2 KMNU serta KMNU Nasional mengadakan pertemuan dengan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UPI, Bapak Prof. Dr. H. R. Asep Kadarohman, M.Si. dalam rangka silaturahmi dan penyampaian terima kasih atas seluruh bantuan yang telah diberikan pihak universitas sehingga kegiatan MUNAS 2 KMNU berjalan dengan sukses. Dalam pertemuan yang berlangsung hangat tersebut, Bapak Wakil Rektor menyampaikan pandangan-pandangan sekaligus pesan yang disampaikan untuk para pejuang KMNU khususnya KMNU UPI:

KMNU UPI harus bisa berada pada first line dakwah kampus

Sebagai organisasi ekstra kampus, KMNU UPI saat ini berada pada second line dakwah kampus. Namun harapan besar disampaikan Bapak Wakil Rektor, yakni sebisa mungkin KMNU UPI berjuang untuk berada pada posisi first line dakwah kampus. Lebih lanjut, Pa Asep mengungkapkan bahwa kita harus bertekad untuk berhenti merasa rendah diri atau tawadlu yang berlebihan, kita harus merasa mampu dan tampil ke depan. Dengan mengusungnama sebesar Nahdlatul Ulama, beberapa kali beliau menyampaikan pesan untuk KMNU yang intinya “rendah hati boleh tapi jangan sampai rendah diri, rendah hati harus tapi harus pula disertai semangat juang tinggi dan niat semata-mata menggapai ridho Allah SWT”.

Memberi warna-warni dalam dakwah internal kampus

UPI dengan berbagai dinamika kampusnya saat ini terlihat diarahkan pada penyatuan “warna”. Melihat perspektif universitasyang menghendaki keberagaman warna dalam kampus, Bapak Wakil Rektor sangat mengharapkan kader-kader KMNU UPI mulai menyelami dan berinteraksi dalam kondisi internal dakwah kampus. Sebagai salah satu contoh, menjadi tutor mahasiswa baru dalam program Tutorial karena Sering kali didapatkan banyak mahasiswa baru yang mengaji saja belum bisa sehingga kelemahan kondisi tersebut akan menimbulkan kecenderungan sikap dogmatis yang kemudian diarahkan pada “penyeragaman warna” karena pada masa-masa itu mahasiswa juga tengah mencari sebuah “standar kebeneran yang paling bisa diterima dalam rasionalnya”. Dengan masuknya kader-kader KMNU UPI diharapkan mahasiswa baru yang awam mendapatkan pertimbangan dan pengetahuan yang lebih beragam. Kondisi satu warna dalam kampus juga dapat memperlihatkan ukhuwah yang kurang, KMNU UPI diharapkan mengambil peran sebagai peningkat ukhuwah dalam keberagaman.

Lebih lanjut, dalam menyelami kondisi dakwah kampus, Bapak Wakil Rektor menekankan untuk menghindari sikap kontraproduktif. Hindari perdebatan dalam keberagaman. Perdebatan sering kali muncul dipicu oleh perbedaan tingkat ilmu yang dimiliki. Bahkan kerap kali perdebatan dipicu hanya karena keawaman akan keluasan hukum islam sehingga enggan menerima khilafiyyah atau perbedaan. Kewajiban bagi yang sudah mapan ilmu adalah berbagi hal tersebut agar perbedaan menjadi rahmat. Semakin tinggi ilmu seseorang, ia hanya akan dihadapkan pada dua pilihan, jika bijak maka ilmu yang dimiliki mendapatkan barokah dari Allah, jika sombong maka ilmu tersebut tidak akan membawa manfaat.

Tugas kita adalah dalam rangka berdakwah. Dakwah tidak melulu harus dimaknai secara besar, namun terkadang melupakan konsep dakwah yang sederhana, semisal berdakwah untuk diri sendiri. Tidak sedikit yang berlomba-lomba berdakwah bagi jama’ah yang besar, namun menutup mata bahwa dirinya kontra terhadap apa yang disampaikan. Pandangan Bapak Wakil Rektor terhadap konsep sampaikanlah walau satu ayat, sesungguhnya tidak sesederhana itu, diri sendiri pun perlu didakwahi dalam bentuk tafakur. Beliau menyampaikan bahwa ayat Al-Quran itu tidak semata-mata tekstual, jauh dari itu adalah kontekstual. Ayat diturunkan karena konteksnya. Hal tersebutlah yang harus jauh lebih kita fahami. Belajar berbesar hati dalam menghadapi organisasi lain. Tidak semua harus kita ungkapkan dengan lisan, namun harus juga dibarengi dengan dakwah perbuatan.

Membumikan amaliyah NU di Bumi Siliwangi

Setelah mendengarkan penjelasan kegiatan KMNU UPI mengenai kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di luar kampus, Bapak Wakil Rektor berpesan untuk jangan hanya membesarkan masjid di luar kampus, tapi juga besarkanlah masjid di dalam kampus. Pelaksanaan amaliyah-amaliyah NU di lingkungan masjid kampus masih dalam skala yang kecil, hal tersebut dikarenakan kondisi kampus yang sangat mempertimbangkan keberagaman. Bapak Wakil Rektor mengharapkan kader-kader KMNU UPI sedikit demi sedikit membumikan amaliyah-amaliyah NU di lingkungan masjid kampus. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan tentunya diharapkan bersinergi mendorong terciptanya motto kampus yakni ilmiah, edukatif, dan religius. Karena membangun karakter dan sikap idealnya agama tidak cukup hanya dengan diskusi, tapi dengan amaliyah atau pengamalan langsung itu jauh lebih halus dan lebih mengena.

  • Hakikat ibadah amaliyah

Dalam hal amaliyah, Bapak Wakil Rektor menyampaikan pandangannya bahwa amaliyah yang dilakukan pada dasarnya mengandung makna yang dalam dan tidak sebatas ritual belaka. Sebagai penggambaran, beliau mengambil contoh dalam amaliyah wiridan. Sabar merupakan salah satu manifestasi dari wiridan. Dapat kita bayangkan, seseorang yang hingga berjam-jam duduk melaksanakan wiridan menghaturkan puja-puji kehadirat Allah SWT, dan mengulang-ulangnya terus menerus, jauh dari itu sesungguhnya orang tersebut sedang melatih dan menanam kesabaran dalam dirinya. Dengan wiridan pula seseorang memahami diri sebagai seorang hamba yang penuh dengan keterbatasan, hal tersebut berdampak pada sikap menjadi tidak egois dalam diri seseorang. Melalui penggambaran tersebut, Bapak Wakil Rektor menyampaikan pesan tersurat bahwa kita haruslah menjadi seseorang yang pandai bertafakur, mengkaji makna-makna tersirat dari setiap amaliyah yang menjadi tugas dari Allah SWT dan sunnah dari Rasulullah SAW.

Sebagai contoh lain adalah dalam amaliyah shalawat. Shalawat dimaknai sebagai salah satu aktualisasi kecintaan kepada Rasulullah SAW, lebih dari itu sesungguhnya kita tengah menabung kebaikan berlipat untuk diri pribadi. Semakin banyak shalawat yang dihaturkan untuk Rasulullah SAW, maka sesungguhnya semakin berlipat rahmat Allah SWT untuk kita. Kemudian kita bisa melihat konsep ‘the more you give, the more you get’ dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini selaras dengan amaliyah shalawat yang pada intinya mendoakan Nabi demi kebaikan kita. Dapat diambil kesimpulan bahwa, shalawat sesungguhnya pelatihan bagi kita untuk menanam kebiasaan ringan tangan dalam memberi.

Ingin rasanya kami berlama-lama dengan beliau, mendengarkan banyak pesan-pesan yang menggugah, memotivasi, dan mencerahkan yang sesekali diselingi dengan kisah-kisah beliau saat beliau dulu mengaji kitab-kitab kuning, “ngaji koboy” katanya, semacam “santri kalong” mungkin. Bagi kami, waktu yang singkat tadi sudah menunjukkan banyak keteladanan dari beliau, setidaknya beliau sudah berusaha mewujudkan pesan-pesan yang beliau sampaikan di atas dalam pribadinya.

Pertemuan pun diakhiri dengan sesi foto bersama. Sebelum meninggalkan ruangan, Bapak Wakil Rektor kembali memberikan wejangan, kali ini singkat namun begitu mengena “UPI menanti prestasi-prestasi terbaik dari kader-kader KMNU UPI” seraya tersenyum penuh semangat dan tatapan mata “menagih” prestasi dari kami, hati kami yang digambarkan dengan senyum berusaha menjawab “siap pa!”.

Wallahu muwafiq ila aqwamith thariq.(Arifa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *