Bandung, KMNU Online
Sabtu (23/1) Musyawarah Nasional ke-2 KMNU telah terselenggara dengan acara pembukaan, sidang tata tertib, dan laporan pertanggungjawaban Presnas selama satu tahun kepengurusan. Acara di hari kedua dilanjutkan dengan qiyamul lail sampai tiba waktu shubuh. Acara dilanjutkan dengan sarapan bersama dan sambutan dari KH Moch. Mansyur, pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda, Ciumbeluit.
Dalam sambutannya, KH. Moch. Mansyur menyampaikan bahwa perjuangan NU adalah perjuangan kedekatan lillahita’ala. Perjuangan kita adalah untuk ridha Alloh SWT, karena perjuangan kita hanyalah untuk Alloh maka beliau memberikan “dawuh” kepada peserta Munas yang kita minta adalah dari Alloh, agar Alloh yang memberikan jalan dan kemudahan kepada kita. Pesantren yang beliau dirikan merupakan pesantren yang semuasantrinya merupakan anak yatim piatu dan dalam menuntut ilmu di pesantren ini mereka sama sekali tidak pungut bIaya.
“Dahulu pernah ada pemerintah menawarkan dana Rp. 300.000.000 untuk bantuan kepada pondok, tapi syaratnya harus menulis proposal. Saya menolaknya. Kita semua minta itu hanya pada Alloh, doa sepenuh hati kepada Alloh, hingga akhirnya ada donatur yang suka rela memberikan rizki yang jumlahnya lebih dari itu. Santri itu jangan terlalu sering menulis proposal dan mengajukan dana. Minta kepada Alloh, karena meminta kepada Alloh, insyaAllah ada jalan,” tutur beliau.
Dawuh pak Kiai ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh KH. Said Aqil Siradj dalam acara pembukaan Munas sebelumnya di Auditorium FPMIPA UPI yang dengan gaya khasnya, beliau mengatakan, “Kiai sekarang doanya kurang ampuh, karena keseringan menulis dan mengajukan proposal, tidak seperti kiai terdahulu yang sekali doa langsung ces pleng.” Tentu saja kalimat ini ditanggapi dengan gelak tawa dari peserta Munas, karena sadar mahasiswa sekarang lebih sering mengandalkan proposal dalam menyukseskan kegiatan yang akan diselenggarakan dari pada lebih mengupayakan kesuksesannya dengan doa. (Dmitry/ el Naomiy)