Saya teringat satu hadis Rasulullah ﷺ dalam Sunan At-Tirmidzi Bab Fadlailul Anshar (Keutamaan Kaum Anshar) yang kami pelajari secara Muttasil (bersambung sanadnya) hingga kepada penulis dari guru kami Syaikh Muhammad Nuruddin Marbu Al-Banjari Al-Makki. Rasulullah ﷺ suatu ketika menasehati kaum Anshar ketika Fathul Makkah, disebabkan sampai kepada beliau ﷺ berita mengenai adanya pemuda Anshar yang mengkritik diri beliau ﷺ yang membagikan harta rampasan perang yang banyak kepada kaum Quraisy sedang kepada kaum Anshar sedikit.
Rasulullah ﷺ bersabda : “Adakah di antara kalian yang bukan dari Anshar?”, beliau ﷺ memastikan kalau di tempat itu tidak ada orang lain di luar kaum Anshar. Inilah salah satu akhlak nabawi yang harus dilestarikan, menegur orang bukan mempermalukan orang. Jangan menegur seseorang atau kelompok tertentu di depan orang atau kelompok lain agar mereka tidak merasa dipermalukan.
Kaum Anshar menjawab : “Hanya ada kami dan para sepupu kami”
Rasulullah ﷺ : “Sepupu adalah bagian dari kita”
Rasulullah ﷺ melanjutkan : “Sungguh telah sampai kepadaku suatu berita tentang bagian rampasan perang, aku memberikan harta yang banyak kepada kaum Quraisy agar hati mereka takluk dengan Islam, bukan karena aku melupakan dan tidak mencintai kalian wahai Anshar…” sabda beliau dengan suara berat dan tertekan. Terlihat beliau menahan antara tangis, marah, kecewa, dan kesedihan yang amat sangat.
Kemudian Rasulullah ﷺ melanjutkan sabdanya, “wahai Anshar…!!” Suara beliau bertambah tertekan.
Kaum Anshar merasa sangat bersalah, tak kuasa menutupi raut muka yang sedih dan mata yang berkaca-kaca. Siapakah yang tahan melihat wajah Sang Kekasih ﷺ bersedih. Seluruh harta bahkan nyawa bersedia mereka korbankan demi mendukung dakwah Sang Nabi ﷺ agar beliau ridla dan gembira dengan mereka, yang mana puncaknya adalah bersama beliau di surga kelak. Namun, hari ini mereka melukai hati sang kekasih.
Isak tangis perlahan mulai terdengar sedu sedan halus dari kerumunan kaum Anshar.
“Wahai Anshar…!!!” Rasulullah ﷺ kembali memanggil iba.
“Tidakkah kamu ridla, jika mereka pulang ke rumah mereka dengan membawa dunia dan harta sedang kalian pulang ke rumah kalian membawa Rasulullah?!”
Pecah tangis kaum Anshar.
Tersayat hati kaum Anshar.
Ingin rasanya mati saja saat itu, dibanding melihat raut wajah Rasulullah ﷺ dan mendengar kalimat-kalimatnya. Mengapa mereka tak terpikir seperti apa yang diucapkan mereka itu? Suara hati kaum Anshar yang merasa sesal. Diriwayatkan dalam hadis bahwa tak ada satu pun di antara kaum Anshar, baik lelaki maupun perempuannya, kanak-kanak maupun dewasanya, kecuali menangis, menangis, dan menangis.
Tiba-tiba dari salah satu pojok kumpulan Anshar ada yang memecah keheningan dan tangisan, “Wahai Rasulullah… maafkan kami, sungguh ucapan kritikan itu memang diucapkan oleh salah seorang pemuda kami, tapi ketahuilah kami para sepuh tidak ada yang berpikir demikian apalagi berucap seperti itu. Sungguh, kami mencintaimu. Jika nyawa ini taruhannya agar duri tak menusuk kakimu itu pasti kami akan serahkan nyawa ini. Tak ada yang lebih kami inginkan dibanding engkau”.
Akhirnya (dalam riwayat lain) Rasulullah ﷺ berdoa untuk kaum Anshar. Doa tulus seorang kepada yang dicintainya. Doa yang ditulis dengan tinta emas sejarah. Diabadikan dalam kitab-kitab hadis.
اللهم غفر لأنصار، و لأبناء الأنصار، و ﻷبناء أبناء الأنصار، و لنساء الأنصار.
“Ya Allah ampuni kaum Anshar, anak-anak kaum Anshar, cucu dan turunan kaum Anshar, serta seluruh wanita Anshar”
Wahai saudaraku…
Lihatlah para sahabat yang senantiasa berusaha menjaga hati baginda ﷺ . Mendukung dan menyokong syiar beliau ﷺ . Nyawa jadi taruhannya.
Namun…
Lihatlah apa yang kita lakukan sekarang ini. Malam dan hari pertama di tahun baru kita malah mencampakkan syiar beliau dan melukai hati baginda ﷺ. Kita meninggikan syiar para musuh baginda ﷺ. Meninggikan syiar para penghina baginda ﷺ.
Kita malah meniup terompet kemenangan kaum kuffar kafir. Membakar dan membunyikan mercun kekalahan muslimin.
Wahai saudaraku. Ketahuilah, jikalau orang-orang jahiliyah melemparkan kotoran hewan di wajah baginda ﷺ maka sekarang kita umatnya sedang melemparkan kotoran dosa di wajah beliau ﷺ yang suci itu.
Aduhai… celaka diri ini…
Ya Allah… cukup sudah.
Bogor, 31 Januari 2015
@adhli_alkarni