Dilatih Public Speaking, Peserta Beasiswa Al-Iman Belajar Unjuk Gigi
Jakarta Ahad KMNU Online (8/11), penyelenggara Program Beasiswa Alumni Ikatan Mahasiswa Nahdliyyin (Al-Iman) mengadakan halaqah perdana untuk peserta beasiswa dengan materi pelatihan public speaking. Halaqah ini dimulai pukul 09.30 WIB dengan diawali kajian Kitab Taqrib oleh Abdulloh Rifqi Jauhari selaku Prenas III KMNU Nasional. Materi yang dibahas adalah bab thaharah yang merupakan hal mendasar yang harus dipahami oleh seluruh umat islam dalam beribadah. Beliau juga menjelaskan tentang pentingnya belajar agama dari guru yang sanadnya jelas bersambung hingga Rasulullah saw. “Belajar agama tidak seperti belajar akuntansi atau statistika yang boleh dipelajari secara otodidak. Belajar agama harus ada gurunya, harus ada sumber yang jelas”, terang beliau mengawali materi.
Kegiatan inti berupa materi tentang public speaking disampaikan dengan sangat menarik oleh Siti Nur Laela. Acara dibuka dengan game yang unik dengan peserta berjumlah 12 orang yang tampak antusias mengikuti pelatihan. “Public speaking indentik dengan rasa grogi dan takut, hal itu ternyata wajar terjadi pada banyak orang”, ujar perempuan asal Kebumen ini.
Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa ada empat kunci public speaking yang disingkat ABIL, yaitu Allah, Berani, Ilmu, dan Latihan. Dalam kategori Ilmu, terdapat tiga pilar utama yaitu visual, voice, dan verbal. Dari tiga pilar tersebut, yang terpenting adalah visual dengan persentase 55%, kemudian voice 38%, dan verbal 7%. “Orang-orang hebat yang sering kita lihat di televisi, yang sering berpidato, memimpin rapat dan berani bertanya atau menyampaikan pendapat di depan umum adalah orang-orang yang lebih banyak berlatih berbicara di kamar atau tempat-tempat tertentu. Mereka percaya bahwa sekadar pemahaman saja tidak cukup, mereka perlu ketekunan dan kesungguhan dalam berlatih public speaking.”
Meski telah memiliki background ilmu public speaking dari KAHFI School, di awal pembicaraanya, perempuan yang kerap dipanggil Ella ini menyatakan bahwa dirinya juga merasa grogi. Menceritakan rasa grogi kita di hadapan orang bisa jadi justru akan mengurangi rasa grogi itu sendiri. Usai penyampaian materi, acara dilanjutkan dengan diskusi halaqah yang dipandu oleh Fauziyah sebagai perwakilan dari Tim Beasiswa. Pada sesi ini, tiba giliran para peserta beasiswa Al-Iman untuk berlatih berbicara di depan umum. Mereka diminta menyampaikan isi tulisan yang telah ditugaskan seminggu sebelumnya yaitu tentang Beasiswa Idaman yang berisikan target pencapaian dalam program beasiswa Al- Iman. “Adik-adik ini begitu luar biasa, saya harap program ini bisa terus dikembangkan agar ke depan bisa menjadi media untuk mencetak kader-kader IMAN yang semakin berkualitas”, tandas Fauziyah mengakhiri pembicaraan.
Acara yang digelar di selasar gedung B kampus PKN STAN ini ditutup dengan doa pada pukul 12.30 WIB. (Kurnia Adhanti)