Kajian Kitab Talimul Mutaallim #1: Menghormati Ilmu dan Ahli Ilmu

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt yang mengangkat derajat  manusia dengan ilmu  dan amal. Sholawat  salam  senantiasa terlimpahkan atas  junjungan nabi Muhammad,  sayyidil arabi wal ajami,  keluarga, para sahabat, sumber  ilmu  dan hikmah. 

Banyak penuntut ilmu,  tekun dan rajin  belajar namun tidak  berhasil menggapai manfaat  dan buah manisnya  ilmu, yakni  berupa amal. Untuk  itu pada kesempatan  kali ini kajian  kitab Ta’limul Mutaallim akan  membahas fash atau  subbab tentang  “Menghormati Ilmu dan  Ahli Ilmu.” Seorang murid  atau pelajar tidak  akan mendapat ilmu  dan memperoleh manfaat  ilmu  kecuali dengan menghargai  ilmu dan memiliki rasa  hormat (ta’dzim)  terhadap ahli limu, yaitu para guru dan memuliakannya. Memuliakan ilmu salah  satunya adalah dengan  cara memuliakan guru.  Sayyidinaa Ali pernah  berkata “ Saya menjadi hamba  bagi orang yang  mengajariku satu huruf  ilmu, terserah ia mau  menjualku, memerdekakanku,  atau tetap menjadikanku  sebagai hamba.

Disebutkan dalam untaian kata mutiara: “Maa washola illa  man washola illa bi hurmati”  (Tiada keberhasilan seseorang  dalam  mencapai sesuatu kecuali  dengan menghormatinya dan tiada kegagalannya  selain karena tidak  mau menghormatinya). Rasa  ta’dzim lebih penting  dari pada ketaatan.  Manusia tidak menjadi  kafir karena berbuat  maksiat, akan tetapi  bisa menjadi  kafir karena meremehkan  atau tiada memiliki rasa hormat.

Syair berkata :

Saya berpendapat bahwa hak sang guru adalah hak yang paling hakiki

Yang wajib dijaga oleh setiap muslim

Demi memuliakannya perlu dihadiahkan

Seribu dirham untuk satu huruf pelajarannya

Sungguh orang yang  mengajarkan sepatah ilmu  yang dibutuhkan dalam  urusan agama telah  menjadi orang tua  dalam  beragama.  As-syaikh Imam Sadiduddin  Asy syairozi berkata:  “Barang siapa ingin  anaknya menjadi alim,  maka dianjurkan  suka berbakti kepada  para fuqaha’ atau  ahli ilmu, menghormati  dan memuliakan serta  menghaturkan sesuatu kepada  mereka. Jika ternyata anaknya  belum menjadi alim, maka cucunyalah  kelak yang menjadi alim.

Diantara perbuatan atau  perilaku contoh dalam  menghormati guru adalah  dengan tidak melintas  dihadapannya, tidak  menduduki tempat duduknya,  tidak berbicara kecuali  atas izinnya, tidak  banyak bicara disebelahnya,  serta tidak  menanyakan sesuatu yang  membosankan. Juga hendaklah  mengambil waktu yang  tepat dan bersabar  dalam menunggu  seorang guru. Pada  dasarnya mencari ridho  guru adalah menghindari  murkanya dan menjunjung  tinggi perintahnya selama  tidak melanggar syariat  islam. Nabi Muhammad Saw  bersabda: ”Sungguh seburuk-buruknya manusia  adalah orang yang  membuang agamanya demi  dunia dengan cara mendurhakai Allah Swt.” 

Kaitannya dengan ilmu Mama’, Kiai Abdullah bin Nuh  menyampaikan bahwa mempelajari  ilmu itu hukumnya  ada dua yakni  fardhu  kifayah dan fardhu ‘ain. Hukum mempelajari ilmu fardhu  ‘ain apabila menuntut ilmu agama, seperti ilmu tauhid, ilmu  fiqih,  ilmu tasawuf atau  akhlaq dan ilmu bahasa atau lughah arabiyyah. Mempelajri ilmu yang fardu kifayah adalah segala ilmu pengetahuan baik yang sains dan terapannya atai ilmu pengetahuan sosial dan disiplin ilmu yang terkait dalam suatu wilayah atau quryah tertentu.

Semoga allah menjadikan kita termasuk kedalam golongan ahli ilmu yang dapat memberikan manfaat dalam beramaliah serta menjadikan perbuatan kita sebagai amal yang mutaaddi.

Wallahu a’lam. Allahummanfa’naa bibarakatihim  dan semoga Allah swt memberikan kita  karunia, Fadhal, hidayah,  dan  inayahnya serta menjadikan  kita semua sebagai ahli ilmu yang berakhlakul  karimah dan istiqamah. Amiin. (Akhmad Nur Hijayat)

Divisi Kajian dan Pelestarian Tradisi KMNU IPB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *