Rindu kami, Ya Nabi

Ya Nabi

Ya Nabi

Ya Nabi

Dengan penawar apalagi kami mengobati rindu padamu

Telah kami baca seluruh kisah-kisah hikmah

telah kami baca segala puji-pujian untukmu

namun rindu ini tak pernah pungkas

rindu ini tak pernah usai

Ya Nabi

Ketika kami baca sebuah riwayat

dimana engkau mengkhaatirkan keadaan kami kelak di akhirat

dimana engkau menangis sebelum wafatmu

memikirkan dalam mengenai kami umatmu

Ya Nabi

Pantaskah kami menerima air matamu

pada nasehat-nasehatmu saja kami masih durhaka

pada amalan-amalan darimu saja kami berpaling

pada teladan-teladanmu kami bahkan membangkang

Ya Nabi

Pantaskah kami

menerima pembelaanmu

ilmu kami bahkan tak sampai seujung kuku

kami begitu angkuh

Kami tak mampu menjadi sejuknya rimbun pepohonan

Kami tak mampu menjadi birunya lautan

Kami tak mampu menjadi jernihnya air

Kami tak mampu menjadi ritmisnya gerimis

Kami tak mampu menjadi hangatnya mentari

Kami

Tak mampu menjadi apa-apa

Ya Nabi

kami sungguh tak pantas menerima air matamu

kami sungguh tak layak menerima pembelaanmu

Ya Nabi

sebab ketidakpantasan ini

sebab ketidaklayakan ini

Kami mengharap syafaatmu dalam perjalanan panjang hidup kami

Kami mendamba syafaatmu dalam perjalanan panjang akhirat kami

Sebab tubuh-tubuh kami berlumur dosa

Sebab hati kami kadang begitu gulita

Engkaulah Ya Nabi

Engkau dan syafaatmu adalah penyambung segala doa

Ya Nabi

dengan kata apalagi kami sampaikan rindu padamu

Trini N. Cahyani

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *