Khazanah keilmuan islam memeiliki berbagai macam sumber keilmuan yang berlimpah. Baik dalam bidang ilmu agama, ilmu sosial hingga ilmu alam. Buahnya, banyak sekali kitab-kitab karangan para ulama islam yang sampai saat ini masih menjadi rujukan di berbagai lembaga pendidikan islam, baik yang formal maupun yang informal semisal pesantren. Salah satu kitab tersebut ialah Ta’lim Muta’alim karangan Syaikh az-Zarnuji.
Sang penulis menulis kitab ini karena merasakan keresahan yang sangat besar dalam gejala sosial di masyarakat kala itu. Dikisahkannya bahwa kian banyak orang yang menuntut ilmu, tetapi hanya sedikit yang mendapat kemanfaatannya. Hal yang demikianlah yang membuat sang penulis semakin mantap untuk menulis kitab ini.
Ta’lim Muta’lim berisikan beberapa metode yang digunakan dalam mencari ilmu. Didalam metodenya, niat merupakan elemen pertama yang pertama kali harus ditata. Niat yang baik sejak awal, diharapkan jalan yang akan ditemuh selama menuntut ilmu akan semakin mudah karena sejak awal telah menemukan peta petunjuk tetap selama mengarungi lautan ilmu tersebut. Sepatutnya, orang yang menuntut ilmu itu haruslah dengan niatan : Mengharap Ridho Allah (ibtigho’ mardhotillah), Menghidup-hidupi agama (ihya’ ad-din) (karena agama bisa hidup karena banyak ‘alim yang paham akan ilmu) dan menghilangkan kebodohan (izalah al jahalah).
Setiap keadaan belajar, niat baik merupakan sebuah keniscayaan untuk dihapuskan. Tetapi ada kalanya keadaan memaksa kita untuk melaksanakan niat yang berbeda dari ‘niat murni’ menuntut ilmu itu sendiri. Seperti kisah yang dilalui oleh Imam Ghozali (hujjatul Islam) yang bercerita dalam kitab Ihya Ulumuddin, kitab karangannya, bahwa beliau sudah menuntut ilmu saat kecil, kemudian ayahnya pun meninggal. Lalu beliau dan adik beliau (Imam Ahmad) dititipkan ke teman ayahnya, yang hidupnya pun masih belum berkecukupan. Di saat uang peninggalan ayahnya sudah habis, mereka hanya cukup untuk hidup saja. Kemudian teman ayah beliau tersebut memberi saran agar Imam Ghozali dan adiknya untuk masuk dan belajar di Madrosah Nidzomiyyaah. Madrasah yang saat itu dipimpin oleh Imam al-Haromain. Disana menyediakan tempat tinggal dan makan secara gratis bagi yang ngaji di madrasah tersebut. Akhirnya Imam Ghozali dan adiknya masuk madrasah tersebut, dengan niatan untuk mendapatkan makan serta tempat tinggal. Jadi hal tersebut boleh saja dilakukan, dengan niat seperti itu, hanya saja tidak seterusnya seperti itu. Alangkah baiknya jika dengan tajdidun niat (memperbaharui niat tetapi niatnya baik).
Niat tentu hanya merupakan salah satu jalan saja. Jika hanya berniat tanpa praktek maka akan menjadi hal yang percuma. Harusah kita berani untuk mengarungi kerasnya pusaran proses dalam menuntut ilmu. Ada kalanya dalam perjalanan menuntut ilmu, kita mengahadapi godaan atau gangguan yang bisa membelokkan niat, yang telah menjadi tujuan dan semangat sejak di awal niat. Maka keseriusan dalam hal ini sangat diperlukan agar tak ada pembelokan dan sikap tidak konsisten selama belajar di usia mahasiswa. Caranya supaya hal tersebut tidak terjadi ialah dengan mencari kawan yang selalu paham dan mengingatkan akan tujuan kita, tujuan hidup dan tujuan mencari ilmu.
Tak berhenti disana, di bagian kitab yang lain, Syaikh az-Zarnuji menukil sebuah saran dan perkataan dari Sayyidina Ali, yang merupakan sepupu dan shohabat nabi. Beliau menerangka mengenai enam hal yang wajib dillakukan oleh para pencari ilmu. Sayyidina Ali karromallahu wajhah berkata: “Kalian tidak akan memperoleh ilmu melainkan dengan 6 hal.” Keenam hal tersebut adalah:
- 1. Dzuka’in (cerdas)
Cerdas disini maksudnya adalah memiliki daya pikir dan daya nalar. Selain itu juga, dzuka’in disini memiliki arti waras atau tidak gila
- 2. Hirshin (mahabbah/cinta pada ilmunya)
Beberapa bentuk mencintai ilmu adalah belajar dalam keadaan berwudhu, belajar dengan posisi menghadap kiblat, menghormati guru dan bersungguh-sungguh dalam belajar
- 3. Ishtibarin (sabar)
Menuntut ilmu itu harus dengan sabar, karena ilmu merupakan karunia Allah
- 4. Bulghotin (bermodal)
Modal bisa berupa harta benda yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan dalam menuntut ilmu
- 5. Irsyadi ustadzin (petunjuk guru)
Menuntut ilmu itu harus ada gurunya (salah satunya dengan metode talaqqi), kalau tidak ada gurunya, maka dikhawatirkan gurunya adalah syaithon. Karena guru akan dipertanggungjawabkan kelak.
- 6. Thuli zamanin (waktu yang lama)
Waktu lama disini tidak hanya dimaknai secara kuantitasnya, namun juga secara kualitasnya. Selain itu juga waktu lama bisa dimaknai dengan keisiqomahan dalam belajar.
Metode-metode yang dipaparkan oleh Syeikh Az-Zarnuji dalam kitabnya ini memanglah hanya satu dari sekian banyak metode yang diajarkan oleh para ulama islam. Tetapi alangkah baiknya jika kita mencoba untuk menggunakan ini. Kitab ini telah diajarkan di berbagai lembaga pendidikan islam di indonesia, terutama di pesantren-pesantren. Hal tersebut telah manandakan bahwa metode ini layak digunakan dalam proses kita selama menuntut ilmu. Kelak bukan hanya ilmu yang didapat tetapi kemanfaatan dan berkah dari ilmu juga akan diperoleh. (Arina Rosyidah)
Oleh : Hamim Thohari