Perencanaan Wilayah sebagai Tanggung Jawab Sosial dan LingkunganPerencanaan Wilayah sebagai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan

Sekilas tentang mata kuliah Kerja Praktek PL 4190 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Bandung. Mata kuliah ini kami dapatkan ketika libur semester genap dari Semester 6 ke Semester 7. Pada kerja praktek kali ini kami berempat mendapat tempat belajar di bagian CSR (Corporate Social Responsibility) Humas Pertamina Balongan. Pada pembelajarana kali ini kami mendapat projek tentang perencanaan ekowisata Mangrove Karangsong sebagai salah satu wujud CSR atau tanggung jawab sosial dan lingkungan. Di sini kami belajar tentang bagaimana merencanakan kawasan pariwisata khususnya yang berbasis ekologi atau lebih dikenal dengan istilah ekowisata, spesifiknya dalam hal penyusunan action planAction plan ini menarik bagi saya karena proses perencanaam yang konprehensif dan partisipatif. Saya dapat belajar banyak dari penyusunan action plan ini karena saya dapat melihat bagaimana proses pengembangan sebuah kawasan wisata.

Pertama adalah proses pembuatan perencanaan tersebut. Dimulai dari depth interview kepada para stakeholder pengembangan pariwisata ini yaitu Dinas Pariwisata, Dinas Perikanan dan Kelautan, Badan Lingkungan Hidup, LSM, masyarakat dan sebagainya. Setelah dilakukan wawancara menyeluruh berbagai stakeholder kemudian dibuatlah suatu analisa yang mengabungkan dengan data sekunder yang telah didapatkan di lapangan meliputi data daya tarik wisata, fasilitas penunjang, infrasruktur dan transportasi, wisatawan, sumber daya manusia dan kelembagaan. Tidak jarang kami pun harus mencari data langsung untuk mendapatkan data tersebut misalnya observasi jumlah pedagang, jumlah akomodasi dan sebaginya. Setelah semua data terkumpul kami menyimpulkannya ke dalam tujuh aspek penyusunan action plan pengembangan ekowisata Mangrove Karangsong Indramayu yaitu aspek pengembangan wilayah, aspek produk dan daya tarik, infrasruktur dan transportasi, pasar dan promosi wisata, sumberdaya manusia, kelembagaan, dan investasi.

Aspek pengembangan wilayah meliputi pembuatan rencana kawasan, detail engineering design, master plan dan perencanaan-perencanaan wilayah yang dibutuhkan lainnya. Pada aspek daya tarik meliputi pengembangan objek dan daya tarik wisata, branding identity dan kualitas produk wisata tersebut. Infratruktur dan transportasi meliputi perbaikan sarana prasarana, transportasi menuju dan keluar objek wisata. Aspek promosi dan pasar pariwisata meliputi pembuatan paket wisata, wisata terpadu, pameran, launching website dsb. Aspek sumberdaya manusia terdapat pelatihan dan pemberdayaan masyarakat lokal, pembuatan lembaga pendidikan kepariwisataan. Aspek kelembagaan terdapat peningkatan kordinasi lembaga dan peraturan insentif serta disentif dalam pengelolaan pariwisata. Aspek investasi meliputi kerjasama di bidang investasi oleh berbagai sektor, pengembangan prosedur dan kelembagaan investasi yang efektif dan terpadu. Ketujuh aspek tersebut kemudian diturunkan menjadi program, jangka waktu, instansi yang bertanggung jawab dan sumber dana.

Dari penyusunan action plan ini akan dapat digunakan sebagai pedoman para stakeholder dalam bertindak dan mengambil keputusan dalam mengelola dan mengembangkan pariwisata Desa Karangsong sebagai wujud tanggung jawab sosial dan lingkungan (Corporate Social Responsibility) yang dilakukan oleh PT Pertamina RU VI Balongan. Sekian cerita singkat dari saya tentang perjalanan pembuatan action plan dan pembelajaran perencanaan wilayah dan kota khususnya bidang kawasan pariwisata Pantai Desa Karangsong Kabupaten Indramayu.

(Zainal Ibad ’12/KMNU ITB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *