Saya pernah diceritakan oleh salah satu dosen, bahwa beliau pernah menemukan pasien gagal ginjal kronis yang berusia sangat muda, bahkan masih kanak-kanak, yaitu sembilan tahun. Bisa dibayangkan, di usia yang masih sangat muda itu harus melakukan hemodialisis dua kali seminggu.
Tahukah berapa biaya yang harus dikeluarkan sekali cuci darah? Yakni, sekitar Rp 600.000-an, belum lagi ditambah dengan obat dan suplemennya. Jadi, dalam satu bulan bisa dihitung Rp 600.000 x 8. Akan keluar angka yang fantastis bukan? Dalam sebulan penderita gagal ginjal harus mengeluarkan uang segitu banyaknya untuk pengobatan. Uang yang seharusnya bisa digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat, hanya terbuang untuk pengobatan. Selain itu, tubuh yang seharusnya produktif untuk melakukan berbagai macam kegiatan, termasuk di dalamnya ibadah,menjadi tak berdaya akibat sakit yang disebabkan oleh dirinya sendiri, dan akan banyak merepotkan orang-orang di sekitarnya karena penyakit yang dialami.
Beberapa penyakit kronis sekarang ini bukan saja mainannya orang tua, tapi sudah merambat pada usia muda yang masih sangat produktif bahkan pada anak-anak. Hal ini, terjadi karena perilaku hidup yang semakin kurang sehat dan kurang memperhatikan aspek gizi. Kali ini, akan dibahas tentang penyakit Gagal Ginjal Kronis atau biasa disebut dengan Chronic Kidney Disease (CKG) atau Chronic Renal Failure (CRF).
Ginjal merupakan salah satu organ dari banyak organ yang menyusun tubuh manusia. Ginjal seperti sebuah saringan, dimana fungsi utamanya adalah menyaring darah. Setelah di saring, darah yang bersih siap diedarkan ke seluruh tubuh, dan sisa zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh tersebut dikeluarkan melalui urin. Bisa dibayangkan apabila fungsi ginjal mulai terganggu, ginjal sudah tidak bisa lagi menyaring darah. Akibatnya, metabolite waste yang seharusnya dibuang melalui urin malah bergentayangan dalam darah, dan akan menyebabkan banyak gangguan dalam tubuh. Selain sebagai penyaring darah, ginjal juga memproduksi beberapa hormone seperti angiotensin yang fungsinya menjaga keseimbangan elektrolit tubuh, serta eritropoeitin yang berperan dalam pembuatan sel darah merah.
National Kidney Disease Education Program (NKDEP) mendefinisikan bahwa gagal ginjal kronis ditandai dengan GFR Glomelular Filtration Rate atau kecepatan ginjal dalam memfiltrasi darah kurang dari 60 mL/min/1.73 m2 selama tiga bulan atau lebih dan atau albuminuria dengan lebih dari 30 m mg albumin urin dalam satu gram kreatinin urin. Normalnya, GFR sebesar 125 ml/menit/1.73 m2 (Nelms et al. 2010) .
Gagal ginjal dapat disebabkan oleh banyak faktor seperti diabetic nephropathy akibat penanganan diabetes yang tidak baik, hypertensive nephrosclerosis akibat hipertensi yang tidak ditangani dengan baik, dan Membranous nephropathy. Selain itu, gagal ginjal juga dapat disebabkan oleh batu ginjal, infeksi kronis seperti Tuberculosis, gangguan pembuluh darah seperti hipertensi dan nephrosclorosis, lupus, konsumsi obat-obatan yang dipasarkan secara bebas seperti aspirin, acetaminophen, ibuprofen, paracetamol dalam jangka panjang. Hereditas, riwayat keluarga dan etnis juga berpengaruh pada penyakit gagal ginjal kronis ini (Nelms et al. 2010).
Terdapat lima stage, dimana stage pertama dan dua ginjal masih bisa dipertahankan jika ditangani dengan baik. Pada stage dua dan tiga, ada batas merah yang harus diperhatikan, karena pada stage ini GFR melewati 60 ml/menit/1.73 m2, dimana ginjal benar-benar mengalami gagal ginjal yang irreversible. Stage empat yaitu severe stage penurunan fungsi ginjal dimana sudah parah dengan GFR antara 30 sampai 15 ml/min, dan end stage dimana ginjal sudah tidak dapat lagi menjalankan fungsinya, sehingga harus melakukan hemodialisis atau cuci darah secara teratur atau melakukan transplantasi ginjal untuk bertahan hidup (National Kidney Foundation 2004).
Tanda dan gejala awal dari penyakit gagal ginjal kronis ini adalah anorexia (susah makan), lelah, sakit kepala, hipertensi, rasa gatal tetapi tidak tahu tempatnya di mana, peradangan ginjal, mual, muntah, proteinuria (adanya protein dalam urin), dan hematuria (darah dalam urin) (Rolfes et al. 2009). Tanda dan gejala lanjutannya seperti anemia, penyakit kardiovaskular, gangguan mental seperti bingung, mudah marah, mudah mengantuk, abnormalitas hormone, abnormalitas elektrolit, retensi cairan tubuh, metabolit acidosis, KEP (kurang energy protein), menurunnya imunitas, dan renalosteodistropy, dimana tulang lebih mudah patah (DeBruyne & Pinna 2014).
Akibat dari terganggunya fungsi hormone menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit yaitu mengalami hiperkalemia (kadar kalium yang tinggi), hiponatremia (kadar natrium rendah), dan hipokalsemia (kadar kalsium rendah). Oleh karena itu, pada pasien tersebut tidak diperbolehkan mengonsumsi makanan yang mengandung kalium yang tinggi seperti pisang dan air kelapa. Meskipun hiponatremia, pasien gagal ginjal kronis tidak dianjurkan mengonsumsi natrium yang banyak, karena akan menyebabkan hipertensi yang semakin parah. Begitu juga pada kasus hipokalsemia, meskipun kadar kalsiumnya rendah, tidak dianjurkan mengonsumsi makanan yang mengandung kalisum dari susu karena mengandung protein yang tinggi, dimana protein yang tinggi ini akan menambah parah. Batasi juga konsumsi gula, karena akan berakibat pad adiabatic neprophaty yang semakin parah.
Betapa sedihnya jika melihat saudara, teman, orang tua, atau bahkan diri kita mengalami hal seperti itu. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Sebelum terlambat, mari kita berusaha untuk menjaga kesehatan diri sendiri, dan juga awware pada orang di sekitar kita. Makanlah makanan yang bergizi dan seimbang, batasi asupan gula, lemak, dan garam, dan lakukan aktivitas fisik secara rutin. Yuk mari berusaha menjaga tubuh yang telah diamanahkan tuhan pada kita sebaik mungkin. Salam Sehat.
Sumber :
2001. Handbook of Pathophysiology
DeBruyne & Pinna. 2014. Nutrition for Health and Health Care 5th ed.
National Kidney Foundation. Am J Kid Dis. 2004;43(Suppl 1):S16-S41.
Nelms et al. 2010. Nutrition Therapy and Pathophysiology 2nd ed
Rolfes et al. 2009. Understanding Normal and Clinical Nutrition 8th ed.
Contributor : Isna Nur Arifina, Ilmu Gizi IPB, KMNU IP