Awal tahun lalu, saat bencana banjir “mengepung” sebagian wilayah Pulau Jawa termasuk Jawa Barat, saya –yang waktu itu sudah sekitar 1,5 tahun (hampir) selalu bolak-balik Bandung-Cirebon dan Cirebon-Bandung setiap pekan– begitu kelimpungan, betapa tidak, jalan yang biasanya saya lalui 2x setiap pekannya mendadak menjadi begitu sesak karena ada limpahan arus lalu lintas dari jalur Pantura (Subang dan Indramayu). Hal tersebut terjadi karena adanya genangan air banjir yang “memutuskan” jalur pantura. Tak ayal, waktu perjalanan pun meningkat menjadi 2x lipat sehingga mau tidak mau saya harus beralih ke mode transportasi lain yaitu Kereta Api, sebuah mode transportasi yang jarang saya pilih karena beberapa hal. Dari perjalanan dengan Kereta Api inilah, ada satu hal yang ingin saya bagi, semoga bermanfaat.
Waktu itu tanggal 24 Januari, saya bertolak dari Stasiun Hall, Bandung sekitar pukul 06.00. Di perjalanan, di sebuah terowongan yang kalau tidak salah berada di daerah Padalarang, kereta yang saya naiki -selanjutnya disebut Kereta 1– berpapasan dengan kereta lain (tentunya dua kereta tersebut melaju pada jalur rel dan arah yang berbeda), selanjutnya kereta yang berpapasan dengan kereta yang saya naiki disebut Kereta 2. Pada saat dua kereta tersebut berpapasan, saya sedikit teringat dengan Teori Relativitas yang kemudian begitu melejitkan nama Albert Einstein. Einstein dengan teori relativitasnya sedikit banyak telah mengurangi monopoli Isaac Newton pada Mekanika/kajian tentang gerak (Teori Relativitas Newton sendiri menyempurnakan teori yang sebelumnya dikemukan oleh Galileo F. Galilei).
Waktu itu, saya melihat Kereta 2 (seolah-olah) bergerak lebih cepat dari kenyataannya. Loh, gimana sih? Ko bisa???
Jadi, misalkan Kereta 2 bergerak dengan kecepatan/kelajuan 80 km/jam, maka yang tampak oleh saya yang berada di Kereta 1 adalah Kereta 2 bergerak dengan kelajuan yang besarnya lebih dari 80 km/jam.
Hal itu terjadi karena waktu itu kondisi pengamat (saya) dalam keadaan bergerak dengan arah yang berlawanan dengan kereta 2. Lain halnya jika saya mengamati kecepatan Kereta 2 dengan keadaan Kereta 1 diam, maka yang akan saya simpulkan adalah Kereta 2 bergerak dengan kecepatan 80 km/jam. *Bingung yah? maaf, saya juga bingung.hehe
Saya coba ambil contoh lain, semoga bisa memperjelas. Ketika kita menaiki sebuah kendaraan dengan kecepatan yang lumayan tinggi, maka sekilas ada “kerancuan” ketika kita melihat pepohonan di tepi jalan yang kita lalui, apakah kita yang bergerak pergi meninggalkan pepohonan atau pepohonan tersebut yang bergerak meninggalkan kita yang duduk manis di dalam kendaraan dengan kelajuan yang bisa dibilang sama dengan kelajuan kendaraan yang kita naiki? Nah itulah yang dinamakan Relativitas. Jadi, menurut pohon, kitalah yang bergerak namun menurut kita, pohonlah yang sedang bergerak. Lantas mana yang sebenarnya benar-benar bergerak dan mana yang sebenarnya benar-benar diam? Untuk kasus di atas memang sekilas tampak jelas bahwa kitalah yang bergerak dan pohon yang diam, namun teori relativitas menghendaki agar kita juga harus mau menerima jika ada “asumsi” bahwa pohonlah yang bergerak dan kita yang diam. Segala asumsi/pemahaman itu Relatif benar dan dapat diterima selama punya alasan yang kuat, rasional, dan logis, begitu kurang lebih teori relativitas mengarahkan kepada kita.
Lantas, apa relevansinya paparan di atas dengan judul “Mengaji Teori Relativitas”?
Dari teori relativitas tersebut, saya kemudian berpikir bahwa perbedaan yang kita temukan dalam agama yang bersifat furu’iyyah (Cabang atau bukan dalam hal aqidah) adalah sebuah keniscayaan karena ada begitu banyak hal yang membuat penafsiran pesan-pesan dari Al Qur’an dan Hadits berbeda antara satu kelompok dengan kelompok yang lain. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita saling menerima dan menghargai “hasil pengamatan” orang/kelompok lain yang RELATIF berbeda dengan hasil pengamatan kita (atau yang berbeda dengan hasil pengamatan “ilmuwan” yang kita ikuti) karena memang setiap orang dan setiap kelompok diciptakan dan hidup dalam kondisi berbeda yang memungkinkan hasil pengamatannya berbeda satu sama lain.
Selain itu, kondisi ini juga membuat saya ingat dengan pernyataan dosen astronomi saya beberapa waktu yang lalu. Mengetahui latar belakang saya yang NU, Beliau bercerita bahwa “Rif, tahun ini (awal) Ramadhan berbeda lagi”. Dari ekspresi wajah dan tubuh beliau, saya menangkap pesan “Silakan saja mengikuti kelompok mana dalam mengawali Ramadhan, yang jelas karena kriteria penentuan awal bulan hijriah yang masih berbeda membuat awal ramadhan juga RELATIF berbeda”.
Pilihan Tarawih 20 Rakaat RELATIF berbeda dengan tarawih 8 Rakaat
Pilihan membaca Alqur’an dengan Langgam daerah RELATIF berbeda dengan yang memilih dan meyakini Alqur’an tidak bisa dilantunkan dengan langgam daerah.
Bahkan, saya yakin, seyakin-yakinnya, yang saya tuangkan dalam tulisan ini juga RELATIF berbeda dengan pemahaman orang lain. Silakan berbeda selama kita punya dasar atas hasil pilihan kita, silakan berbeda selama masih menghormati pilihan orang lain yang berbeda dengan kita.
*Mohon koreksinya jika ada kesalahan 🙂
Oleh : Mohammad Arief Rizqillah (Pendidikan Fisika UPI / Staff Departemen Nasional Pengkaderan KMNU Nasional)