Al hamdu lillaah wa ash sholaatu wa as salaamu ‘alaa Rasuulillaah
Kiswah Kubro merupakan suatu majelis ta’lim yang dirintis oleh KMNU UGM yang berperan dalam penguatan para mahasiswa dalam memahami ahlussunnah dan membentengi mereka dari pengaruh ideologi-ideologi di luar ahlussunnah. Pada perkembangannya, KISWAH KUBRO tidak hanya menjadi hajat pribadi KMNU UGM, melainkan menjadi hajat bersama dengan KMNU UNY dan BKI LPP , serta manfaatnya dirasakan oleh lebih banyak mahasiswa.
Kegiatan Kiswah Kubro ini diisi oleh Syekh al Habib Thariq Ghannam al Hasani, seorang guru besar di Jam’iyatul Masyari’ dan berperan sebagai kepala bagian pendidikan di Jam’iyah tersebut. Jam’iyatul Masyari’ sendiri merupakan yayasan pendidikan Islam yang besar dan terkemuka di Beirut, Lebanon yang didirikan oleh Syekh Abdullah al Harari al Abdari, seorang Muhaddits daratan Syam. Kegiatan yang berlangsung dari pagi hingga malam ini, beliau menyampaikan ta’lim kepada peserta Kiswah Kubro dengan didampingi seorang lulusan Global University Lebanon yang berdiri di bawah Jam’iyatul Masyari’, yaitu ustadz Budi yang bertugas sebagai penerjemah selama ta’lim. Keseharian beliau dicurahkan untuk dakwah ahlussunnah, khususnya di pondok pesantren Syahamah Jakarta, cabang dari Jam’iyatul Masyari’.
Syekh Thariq di awal ta’lim menegaskan bahwa dibutuhkan niat yang tulus ikhlas dalam menjalani rangkaian kegiatan Kiswah Kubro karena kegiatan ini tidak lain adalah kegiatan belajar tentang agama Islam yang wajib untuk dipelajari dan harus fokus dalam mendengarkan pelajaran. Beliau mengingatkan bahwa setan sangat benci ketika umat Islam mempelajari agamanya karena dengan ilmu agama umat Islam akan kuat dan mengetahui cara mengalahkan setan. Oleh karena itu, beliau mengajak para peserta untuk selalu fokus dalam belajar dan tetap semangat meskipun harus berlelah-lelah. Beliau mengutip kalimat yang indah:
التعب في الطاعة راحة
“Lelah dan letih karena ketaatan akan mendatangkan kesejahteraan di akhirat.”
Syekh Thariq kemudian menyampaikan ta’lim tentang dasar-dasar akidah ahlussunnah. Agama Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Tidak ada agama yang akan diterima, diridloi, dan diperintahkan Allah untuk diikuti selain Islam. Islam adalah agama yang dibawa oleh seluruh para nabi dan rasul. Kufur adalah dosa yang paling besar. Orang yang kufur dan mati tanpa memeluk Islam tidak akan diampuni oleh Allah dan akan dikekalkan dalam siksa neraka. Pelaku dosa-dosa yang lebih kecil dari kufur dan mati tanpa taubat bisa saja Allah akan mengampuninya.
Inilah makna ayat: إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء , sedangkan ayat والفتنة أشد من القتل bukanlah fitnah dalam arti merusak hubungan 2 orang atau mengadu-domba kedua orang itu. Makna fitnah di sini adalah kekufuran. Jadi, kekufuran itu lebih buruk dari pada membunuh.
Rasulullah bersabda:
يخرج من النار من قال لا إله إلا الله وفي قلبه وزن ذرة من إيمان
Maknanya: “Akan keluar dari neraka orang yang mengatakan “Laa ilaaha illallaah” dan dalam hatinya terdapat iman sebesar biji dzarrah sekalipun”
Adapun makna kalimat “laa ilaaha illallaah”, syekh Thariq menyampaikan 2 makna: (1) Tiada pencipta selain Allah dan (2) Tiada yang berhak disembah selain Allah.
Maksud makna pertama adalah bahwa hanya Allah yang dapat menciptakan, yaitu mengadakan sesuatu dari tiada menjadi ada. Allah yang menciptakan semua benda, sifat-sifat benda dan perbuatan-perbuatan benda. Yang dikatakan benda adalah segala sesuatu yang memiliki bentuk dan ukuran, baik yang ukurannya kecil maupun yang besar, baik benda yang bisa dipegang (benda katsif) maupun yang tidak dapat dipegang (benda lathif). Ini semua adalah ciptaan Allah. Begitupun perbuatan benda yang meliputi perbuatan dhahir seperti naik, turun, bergerak, diam, dan seterusnya serta perbuatan bathin seperti niatan di dalam hati, pikiran-pikiran, juga diciptakan Allah. Sifat-sifat benda seperti warna, bentuk, rasa, menempati suatu tempat, semua ini juga ciptaan Allah.
Dari sini, disimpulkan bahwa Allah tidaklah sama dengan benda katsif dan lathif, tidaklah memiliki ukuran dan bentuk, tidaklah melakukan perbuatan yang dilakukan benda, dan tidak pula memiliki sifat yang sama dengan sifat benda. Syekh Thariq mengajarkan pada para peserta suatu perkataan penting dari para ulama seperti imam Ahmad ibn Hanbal:
مهما تصورت ببالك فالله لا يشبه ذلك
“Apapun yang kamu bayangkan dalam benakmu, Allah tidak serupa dengan-Nya.“
Kemudian ketika membaca al Qur’an atau hadits dan kita menemukan ayat atau hadits mutasyabihat dan seakan-akan memberikan makna bahwa Allah memiliki keserupaan dengan makhluk seperti bahwa Allah itu ada di atas Arsy, di langit, atau di segala arah, atau bahwa Allah memiliki anggota badan, maka harus diyakini bahwa ayat dan hadits itu tidak bermakna demikian. Tidak boleh sedikitpun menyerupakan Allah dengan makhluk. Dalam hal ini, syekh Thariq mengajarkan perkataan ulama:
آمنت بما جاء عن الله على مراد الله، وآمنت بما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله.
“Saya beriman pada apa yang datang dari Allah sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Allah, dan saya beriman pada apa yang datang dari Rasulullah sesuai yang dimaksudkan Rasulullah.”
Sebagian orang mendapatkan musibah dalam agamanya dan meyakini bahwa Allah ada di atas Arsy, memiliki tangan, kaki, mata, dan lain-lain, serta naik-turun dari dan ke langit pertama. Perbedaan ini adalah perbedaan dalam hal ushul (pokok-pokok) agama dan ini tidak diperkenankan dalam agama. Bahkan orang yang meyakini demikian telah keluar dari Islam. Ini tidaklah sama dengan perbedaan dalam hal furu’ (syariat) agama seperti perbedaan antar ulama tentang batalnya wudlu orang yang bersentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan ajnabi (bukan mahram).
Sedangkan penjelasan makna “laa ilaaha illallaah” yang kedua, adalah bahwa hanya Allah yang berhak untuk disembah.Penyembahan atau ibadah sendiri adalah puncak dari ketundukan dan perendahan diri. Maka tidak benar apa yang dikatakan orang Wahabi, bahwa memanggil Rasulullah setelah beliau wafat, seperti mengucapkan “Yaa Rasuulallaah” atau “Yaa Muhammadaah“, adalah suatu bentuk penyembahan. Begitu pula tidak benar bahwa ziarah kubur, tabarruk, tawassul, dan istighotsah adalah suatu bentuk penyembahan. Tidak ada unsur penyembahan sedikitpun pada saat seseorang memanggil, ziarah, tabarruk, tawassul, dan istighotsah pada seorang nabi atau wali.
Di akhir sesi, syekh Thariq mengakhiri ta’lim dengan memperingatkan semua peserta untuk menghindari kekufuran. Kufur ada 3 sumber, yakni ucapan (kufur qauli), perbuatan (kufur fi’li) dan keyakinan (kufur i’tiqadi). Banyak sekali contoh kekufuran. Namun dapat disarikan dengan satu kaidah: “Semua ucapan, perbuatan dan keyakinan yang menunjukkan penghinaan, cacian dan pelecehan kepada Allah, Rasulullah, malaikat, kitab, hukum-hukum Islam serta syiar-syiar Islam adalah kekufuran.” Hendaklah kita semua mengerahkan segala daya dan upaya untuk selalu memegang teguh aqidah Islam ahlussunnah wal jama’ah, serta menghindari kekufuran bagaimanapun bentuknya.
Wallaahul muwaffiq ilaa aqwamith thariiq…
(Hafidz ar Rahman – KMNU UGM)
Kabar gembira, bagi teman-teman semua yang belum bisa hadir atau ingin mengulang pelajaran dari Syaikh, kami mengahdirkan rekaman ceramah beliau. Silahkan download dan nikmati kesejukan ilmu Ilahi.
File 1:https://drive.google.com/open?id=0B4DkEO2yDsN8aG5fUm9WbWJxZ1E&authuser=0
File 2: https://drive.google.com/open?id=0B4DkEO2yDsN8WW90QUM1bm16UjA&authuser=0
File 3: https://drive.google.com/open?id=0B4DkEO2yDsN8YnViTW9iSHo5S2s&authuser=0
File 4: https://drive.google.com/open?id=0B4DkEO2yDsN8NHVhemNWUC04TVk&authuser=0
File 5: https://drive.google.com/open?id=0B4DkEO2yDsN8eTduN29PYkNyazQ&authuser=0
File 6: https://drive.google.com/open?id=0B4DkEO2yDsN8eTgtbUtSZ2xvZ0U&authuser=0
File 7: https://drive.google.com/open?id=0B4DkEO2yDsN8T1c0eXFhOHNlZjg&authuser=0