Malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang dimuliakan. Rasulullah SAW menganjurkan untuk menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan ibadah dan berpuasa pada siang harinya. Rasululah SAW bersabda:
إذا كانت ليلة النصف من شعبان فقوموا ليلها وصوموا نهارها (رواه ابن ماجه)
“Jika tiba malam separuh Sya’ban maka bangunlah pada malamnya dan puasalah ada siangnya” (H.R. ibn Majah)
Meskipun merupakan hadits ini Dla’if, tetapi tetap diamalkan karena para ulama menetapkan bahwa hadits dla’if boleh diamalkan jika mengandung anjuran atau memuat keutamaan amal dan tidak bertentangan dengan hukum-hukum asal.
Salah satu hadits keutamaan malam Nishfu Sya’ban ada hadits yang secara dhahir (pemahaman sekilas) mengatakan bahwa Allah SWT turun ke langit dunia, langit terdekat dengan bumi. Hadits ini tidak boleh dipahami seperti ini, tidak boleh dipahami dengan makna dhahirnya, karena mengandung penyerupaan Allah SWT dengan makhluk , yaitu perbuatan naik dan turun. Pergerakan naik dan turun, serta seluruh pergerakan hanya berlaku bagi makhluk. Maka tidak mungkin Allah SWT melakukannya. Selain itu, semua pergerakan hanya berlaku bagi sesuatu yang bertempat. Sementara, Allah SWT ada tanpa tempat. Maka, naik dan turun tidak berlaku bagi Allah SWT.
Pemahaman yang benar adalah bahwa Allah SWT memerintahkan para malaikat turun ke langit dunia dan menyeru bahwa Allah SWT akan mengabulkan doa para hamba yang berdoa, mengampuni dosa hamba yang mohon ampun, dan seterusnya.
Imam Syafi’i menyebutkan dalam kitab al Umm, bahwa doa-doa akan terkabul ada lima malam, yaitu malam Jumat, malam Idul Fithr, malam Idul Adlha, malam pertama Rajab, dan malam Nishf Sya’ban.
Doa malam Nishf Sya’ban
Banyak beredar suatu doa nishfu Sya’ban yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW dan para shahabat, namun doa ini tidak benar berasal dari Rasulullah dan para shahabat. Kandungan lain doa ini adalah terdapat suatu kalimat yang bertentangan dengan dasar aqidah ahlussunnah. Dalam doa yang dinisbatkan secara bohong pada Rasulullah itu terdapat lafadh:
اللهم إن كنت كتبتني عندك في أم الكتاب شقيا أو محروما أو مطرودا أو مقترّا عليّ في الرزق فامح اللهم شقاوتي وحرماني وطردي وإقتار رزقي واكتبني عندك من السعداء
Doa ini berisi permohonan kepada Allaah untuk mengubah kehendak-Nya. Pandangan akidah Ahlussunnah, Allah SWT bersifat azali (tanpa permulaan) dan abadi (tanpa akhiran). Tidak berlaku bagi Allah SWT semua bentuk perubahan. Begitu pula sifat Allah, bersifat azali, abadi, dan tidak berubah. Sesungguhnya, perubahan hanya berlaku bagi makhluk, bahkan menjadi ciri utama setiap makhluk.
Begitu pula kehendak Allah SWT, tidak dapat berubah, baik dengan doa, shadaqah, maupun silaturrahim. Rasulullah SAW pernah meminta kepada Allah tiga permintaan, dan hanya dua saja yang dikabulkan. Jikalau Allah SWT mengubah kehendak dan ketentuan-Nya, pastilah Allah SWT akan mengubahnya untuk makhluk yang paling dicintai-Nya, yakni Rasulullah SAW.
Dalam hadits qudsi, Allah SWT berfirman:
يا محمد، إني إذا قضيت قضاء فإنه لا يُردّ
“Wahai Muhammad, sesungguhnya Aku jika telah menentukan suatu ketentuan maka tidak dapat ditolak”
Orang yang mengatakan bahwa Allah SWT berubah, atau sifat-Nya berubah, atau kehendak-Nya berubah, maka ia terjatuh dalam kekufuran. Hendaknya ia segera meninggalkan keyakinan tersebut dan mengucapkan kalimat Syahadatain untuk kembali dalam naungan Islam. Oleh karena itu, tidak mungkin Rasulullah SAW mengajarkan doa di atas tersebut.
Di bawah ini adalah suatu doa yang baik dibaca di malam Nishfu Sya’ban. Meskipun tidak warid dari Rasulullah SAW, tetapi doa ini baik maknanya.
Perbaruan Catatan Malaikat
Allah SWT berfirman dalam surat ad Dukhan:
(وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ * إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ * فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ)
[Surat Ad-Dukhan 2 – 4]
Ayat ini bercerita bahwa pada malam Laylatur Qadr, Al Qur’an diturunkan. Pada malam Laylatul Qadr pula, Allah SWT memperlihatkan kepada malaikat sebagian catatan di Lauh Mahfudh yang berisi seluruh yang terjadi selama setahun hingga malam Laylatul Qadr yang akan datang, meliputi hidup, mati, rizqi, jodoh, sa’adah (mati dalam keadaan Islam), syaqawah (mati tidak dengan Islam), dan lain-lain.
Inilah yang dikatakan sang Tarjumaanul Qur’an, Abdullaah ibn Abbas dan diikuti oleh jumhur ulama. Maka tidak benar dikatakan bahwa malam yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah malam Nishf Sya’ban.
Mari kita perbanyak amal kita di malam Nishfu Sya’ban, kita lepaskan seluruh kemaksiatan. Kemaksiatan yang besar adalah keyakinan yang salah mengenai Allah SWT dan sifat-sifatNya. Semoga kita diberikan kesempatan untuk berjumpa bulan mulia, Ramadlan, dan meninggal di kota yang mulia, Madinah, serta dalam keadaan yang mulia, syahid di jalan Allaah
Aamin Yaa Rabbal ‘Aalamiin, bi Jaahi Thaahal Amiin…
بارك الله فيكم…
Hafidz Ar Rahman