Seringkali kita menemui perbedaan pendapat, terutama di kampus tempat kita menuntut ilmu. Topik perbedaannya beragam, mulai tentang sains, agama, politik dan lain-lain. Hal demikian adalah wajar karena masyarakat kampus merupakan masyarakat heterogen yang memiliki latar belakang etnis budaya dan agama yang berbeda. Perbedaan tersebut juga bisa timbul karena perbedaan sudut pandang masing-masing individu dalam memahami suatu permasalahan. Jangankan di kampus bahkan di dalam keluargapun seringkali terjadi perbedaan pendapat atau pandangan. Sehingga dapat dikatakan perbedaan itu adalah fitrah.
Perbedaan sudut pandang yang ada biasanya menjadi perdebatan yang menarik bagi masyarakat kampus namun tetap dalam lingkup yang harmoni, menjunjung tinggi persatuan dan cinta damai. Walapun begitu seringkali ada orang yang merasa pendapat dan pandangannya paling benar terutama jika sudah menyinggung masalah agama dan politik. Apakah kebenaran itu, sehingga seseorang atau kelompok tidak ingin disalahkan dan menganggap pendapat dan jalannya paling benar?
Sadar atau tidak, kebenaran itu tidak ada. Seluruh manusia mempersepsikan kebenaran menurut ilmu yang diketahuinya, menurut input yang masuk ke dalam akal pikirannya. Bagi sunni, penganut syiah adalah sesat dan menyimpang dari agama, sedangkan bagi penganut syiah, sunni menyimpang dari agama, lahir dari produk politik masa lalu. Sunni dan syiah keduanya benar dan keduanya salah, tergantung dari sudut mana kita memandang.
Apakah Islam agama yang benar? Bagi penganut agama Islam itu sudah jelas, Islam agama yang diridhai Allah, namun bagi nonmuslim? Islam bukan agama yang benar, agama mereka yang paling benar. Bagi penganut ajaran wahabi/salafi, apa yang mereka yakini dan amalkan adalah yang paling benar, sedangkan bagi kelompok di luar mereka, wahabi/salafi adalah ajaran menyimpang dari agama.
Kalau kita mencari kebenaran, maka sampai kapan pun kita tidak akan menemukan kebenaran. Maksudnya, kalau kebenaran yang kita cari adalah kebenaran yang bisa diterima oleh semua orang, kebenaran tanpa ada yang mengingkari atau diingkari oleh orang lain. Tuhan sudah menciptakan manusia beragam maka sudah pasti beragam pula kebenaran yang lahir sehingga tidak seharusnya seseorang memaksakan keseragaman atau kebenaran yang diyakininya.
Kebenaran dalam bahasa Arab adalah Haqq, merupakan nama dari Allah Al-Haqq (Maha Benar), itu sebabnya di dunia ini tidak ada yang benar, sampai manusia menemukan Al-Haqq. Ketika manusia menemukan Al-Haqq maka dia sudah tidak memerlukan lagi pengakuan dari makhluk, tidak memerlukan lagi dukungan atas apa yang diyakininya. Hatinya telah sibuk bersama Allah, dia sudah tidak lagi berada pada level persepsi yang merupakan produk akal. Manusia yang telah bersama Allah tidak akan bisa lagi menemukan kesalahan pada manusia lain, karena dia telah mampu melihat seluruh jalan yang dilalui manusia untuk mencapai Tuhan. Karena telah berada di puncak piramida, maka dia mampu melihat seluruh sisi bangunan, mampu melihat kehadiran dan ketidakhadiran cahaya Allah pada diri masing masing individu manusia.
Pada level ini manusia tidak lagi memerlukan sebab, karena segala sesuatu terjadi semata-mata karena Allah. Tidak lagi terpengaruh oleh benar salah, pahala dan siksa, seperti ucapan ketidakpedulian Rabi’ah al-Adawiyah akan surga dan neraka. Bahkan kehidupan tidak lagi bisa diberi makna, karena mereka telah pasrah dalam genggaman Allah Ta’ala seperti bayi dalam pangkuan Ibu nya, tanpa berdaya apa-apa selain perlindungan dan kasih sayang sang Ibunda. Dalam kondisi ini lah Al-Hallâj berkata, “hidup dan mati bagi ku sama saja”.
Wallâhu a’lamu bis showâb
oleh 🙁ن / arinftma)