Aku Menyayangimu, Karena Allah, Rasul dan NU-ku

Menjadi seorang mahasiswi merupakan salah satu impianku, rasa syukur tersendiri ketika impianku diijabah oleh Allah dengan lolosnya diriku pada salah satu universitas terbaik di Jawa Tengah. Mampu mengalahkan kurang lebih 300 pendaftar, hitung salah satu dosenku saat itu. Kini, hampir dua tahun aku menjadi mahasiswi, empat semester menjadi perantau di Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah. Sejak kakiku menginjak rantauan hingga kini, aku juga menimba ilmu di salah satu pesantren, terlahir dari keluarga yang kental akan Islam, terutama dalam kultur NUnya, mungkin menjadi salah satu sebab alasanku masuk pesantren.

Akan tetapi, pemahaman dan kultur yang melekat dalam diriku tak serta merta kubawa dalam lingkungan kampus. Ajaran Abah Ibu pernah menjadi aktivis saat kuliah, turut berperan membentukku menjadi gadis moderat. Beliau mengajarkanku tentang arti toleransi, ditengah maraknya aliran yang senang menyalahkan bahkan mengkafirkan umat lain yang tak seakidah dengannya. Pernah dulu, ketika beberapa hari sebelum keberangkatan menuju perantauan, abah ngendikan:

“Nduk, nanti kalau di kampus, tidak usah bahas-bahas tentang agama, bahas saja tentang materi-materi kuliah. Ya kalau ada yang nanya, jawab saja secukupnya jika kamu memang tau dasarnya. Tidak usah suka bahas agama yang kamu saja gak tau dalilnya, apalagi sampai debat gak jelas. Teman kuliahmu itu macam-macam, bukan hanya dari kalangan kita, apalagi Jawa Tengah itu beda sama Jawa Timur.”

Pesan beliau bukan tak berarti apa-apa, abah hanya tak ingin aku menjadi mahasiswa yang kolot karena masalah agama hingga berteman hanya dengan yang sama saja. Beliau hanya tak ingin aku sedikit teman, terutama karena perbedaan masalah agama. Ah, Abah Ibuk memang tak pernah menginginkan putrinya sengsara. Meskipun begitu, itu semua tidak menjadi penghalangku dalam memperjuangkan agama, aku tetap mengikuti beberapa organisasi yang sama dengan kulturku.

Asma, salah satu teman kelasku. Meskipun hampir dua tahun kami sekelas, meskipun hampir seluruh mata kuliah kami satu kelompok, tapi hubunganku dengan gadis berjilbab lebar tersebut tidak terlalu dekat. Seperti ada pembatas yang menengahi kami, entah apa itu pun aku tak mengerti. Sedangkan dengan yang lainpun aku cukup dekat.

Hari ini seperti biasa, dalam mata kuliah Asesmen Observasi dan Interview, kami duduk secara berkelompok, presentasi dengan metode SS-IT seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya. Dan seperti biasa, Asma duduk disampingku karena kami satu kelompok. Setelah materi Focus Group Discussion dipresentasikan oleh tim penyaji, dosen memberikan review dan beberapa tambahan materi. Dosen muda dengan jilbab warna biru itu terlihat cakap ketika menerangkan materi. Beliau adalah salah satu dosen favoritku, pembawaannya yang enak ketika mengajar dan  tidak membosankan untuk para mahasiswa selalu membuatku betah mengikuti kuliahnya. Terutama beliau ‘sama’ denganku.

Saat dosen muda itu menjelaskan materi, aku yang sibuk mendengarkan dikagetkan dengan ucapan Asma disampingku.

“Wa, kamu NU banget ya.”

“Eh?” kualihkan pandanganku pada Asma, ternyata dia tetap fokus dengan penjelasan dosen.  Otakku menalar perkataan Asma, tak seperti biasanya dia berucap seperti itu, aku tersenyum tapi tak berniat menjawab ucapannya.

Aku memang NU Asma, tapi bukan berarti aku beda. Aku memang NU, tapi bukan berarti aku berhak membenci, mengolok-olok bahkan mengkafirkan orang yang berbeda denganku. Karena dalam NU aku tumbuh menjadi gadis bertoleransi. Selama kamu muslim, kamu saudaraku. Bahkan Rasulullah mengajarkan untuk selalu mengasihi, sekalipun itu pada orang-orang kafi.. Aku memang NU Asma….

“Aku memang NU Asma, sebab itu Aku menyayangimu, karena Allahku, Rasulku dan NUku. Wawa pulang dulu ya, di pondok ada kegiatan ukhti cantik” ucapku sebagai jawaban sekaligus berpamitan, karena kuliah telah diakhiri oleh Dosenku.

Kakiku melangkah sedikit lebih ringan, senyum tak lepas dari bibirku. Allah menjawab semua pertanyaanku, pembatas hubunganku dengan kawanku kini tersingkap. Mungkin ini yang dulu dikhawatirkan oleh Abah Ibuk, perbedaan akidah yang menyebabkan permusuhan, Na’udzubillah, jangan sampai itu terjadi Gustii. Asma, NUku bukan penghalang persaudaraan ku dengan mu, yakinlah bahwa selamanya kau saudaraku karena Allahku, Rasulku dan NUku.

Catatan Kecil Nahdliyat (Wawa – KMNU Undip)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *