Subhanallah, Sungguh besar tak terhingga seluruh ciptaan Allah SWT dan semuanya mengandung untaian hikmah bagi manusia agar mampu bertasbih atas Kekuasaan-Nya serta tidak sombong atas dirinya sendiri. Anugerah yang diberikan oleh Allah bukan hanya semata-mata bermanfaat untuk dinikmati, melainkan terdapat pula pengetahuan arif yang tersembunyi di balik seluruh ciptaan-Nya. Tak lain agar manusia juga mampu membuka mata bahwa semua hal di sekelilingnya mengandung pesan moral terhadap manusia. Suatu kesalahan besar bila manusia menganggap sesuatu dalam hukum Islam yang secara baku diharamkan dan dianggap najis sehingga apa yang ada pada dirinya layak dijauhi bahkan tak dipelajari oleh manusia.
Salah satu dari pembahasan di atas yang masyhur ialah anjing. Anjing dijelaskan dalam hukum Islam jelas oleh ulama dikatakan haram dagingnya serta najis mughaladhah, niscaya dengan ketetapan tersebut pastilah sebagian besar manusia terutama umat Islam menjauhinya. Akan tetapi, Syekh Nawawi Al-Bantani Al-Jawi dalam kitabnya Kasyifatus Saja Syarh Safinatin Najah justru melihat dan mengamatinya dengan seksama dengan perspektif yang lain, sehingga lahirlah kesimpulan yang mengesankan tentang sikap anjing tersebut. Beliau mampu menguak filosofi sifat-sifat anjing yang ternyata sangat terpuji dan perlu diteladani oleh manusia. Beliau menyebutkan setidaknya ada sepuluh sifat anjing yang terpuji dan patut diketahui oleh manusia.
Pertama, perut anjing senantiasa tidak dalam keadaan kenyang (lapar). Hal ini menegaskan bahwa sifat itu merupakan ciri-ciri sifat orang-orang sholeh.
Kedua, anjing tidak tidur kecuali hanya sebentar. Kebiasaan ini merupakan kebiasaan para ahli tahajjud.
Ketiga, ketika ia diusir bahkan sampai seribu kali dalam sehari, ia tidak akan pergi dari pintu tuannya (tempat ia berjaga). Ini merupakan sifat orang-orang yang bersungguh-sungguh atau setia.
Keempat, ketika ia mati, ia tidak meninggalkan warisan apapun. Sifat ini merupakan sifat orang-orang yang zuhud.
Kelima, ia rela ditempatkan di tempat yang paling rendah. Sifat ini merupakan sifat dari orang-orang yang ridho atau ikhlas.
Keenam, ia melihat pada setiap orang yang memperhatikannya hingga memberikan sesuap makanan. Ini merupakan budi pekerti atau akhlak oramg-orang miskin.
Ketujuh, ketika ia keluar dan dilempari debu, ia tidak marah dam tidak dendam. Hal ini merupakan sifat dari orang-orang yang berbelas kasih.
Kedelapan, ketika tempat tinggalnya telah ditempati hewan lain, maka ia justru berpindah ke tempat yang lain, ini merupakan sifat orang-orang terpuji.
Kesembilan, ketika diberikan kepadanya hanya sesuap makanan, maka senantiasa menrima dan memakannya. Hal ini merupakan sifat dari orang-orang qana’ah.
Kesepuluh, kemanapun anjing tak pernah membawa bekal. Ini merupakan tanda-tanda dari sifat orang-orang tawakal.
Paparan syekh Nawawi tersebut menunjukkan bahwa kita sering dibutakan oleh kenyataan lahiriyah pada kasat mata, sehingga kita lupa bahkan mata kita tertutup olehnya, padahal di balik itu semua tersimpan berbagai ilmu dan hikmah yang tak terukur oleh mata atas kebesarannya. Subhanallah.
Wallahu a’lam
Ahmad Nur Shobah
(Kajian Kitab Kasyifatus Saja Syarh Safinatin Najah)