Sore itu, aku tergopoh-gopoh menyusuri sebuah koridor, masih berputar-putar di kepalaku berjubel teori yang dijelaskan dosen tadi. Memasuki koridor selanjutnya disitu menyemut berbagai macam orang membuat kepalaku sedikit pening. Pandangan mataku sedikit kabur, mungkin karna lelah seharian terpaku pada layar di depan kelas. Ku coba edarkan pandangan ke semua orang-orang yang berada di koridor itu, mencari-cari dimana orang-orang yang kutuju. Tiba-tiba ada lambaian tangan mengarah kepada ku, dengan senyum simpul memanggilku “dek Farwah, di sini”. Segera saja aku menghampiri gerombolan itu.
Hanya senyum simpul yang ku edarkan, berharap dapat mengurai penatnya hari ini. Setelah beberapa saat berdiskusi “ngalor-ngidul” senjapun mulai merapat. Kami menyudahi diskusi ini. Namun, itu semua belum usai, aku dan salah seorang orang diantara mereka harus menuju suatu tempat untuk merumuskan suatu hal lain. Hmm… hanya bisa menghela nafas panjang. Langkahku mengikuti “mbak” yang saat aku datang melambaikan tangannya. Aku dan si “mbak” menuju sebuah parkiran untuk mengambil sepeda motor. Tentu saja kami cepat bergegas karna memburu waktu sholat maghrib agar kami bisa sholat maghrib di tempat yang akan kami tuju. Ternyata di tengah perjalanan kami dapat kabar kalau tempat yang akan kami tuju masih terkunci. Waduh, bingung juga. Kuda besi kami tetap melaju melewati jalanan desa. Tiba-tiba suara knalpot motor si “mbak” mengagetkanku. Memang knalpot itu lagi kurang sehat, bunyinya sesekal i jadi agak mirip petasan.
Si “mbak” nyeletuk, “hehe…knalpotnya dzikiran dek”.
“Haha…mbak ada-ada saja, knalpotnya alim berarti ya mbak.” Aku menimpali sambil tertawa lepas mendengar celetukan itu.
Benar saja tempat yang kami tuju masih terkunci rapat, gelap pula karana belum ada satupun orang yang menyalakan lampu. Sesaat kemudian langit menumpahkan kegundahannya lewat tetes-tetes hujan. Hawa dingin dan angin yang cukup kencang ikut menemani kami senja itu. Adzan yang berkumandang pun mengisyaratkan pada kami untuk segera menunaikan sholat maghrib sebagai “laporan” kepada sang Illahi Robbi.
“Bagaimana ini mbak?”, tanyaku.
Si “mbak” menjawab “Sholat dulu di mushola kampung aja yuk”.
Walau sempat bingung karena diantara kami berdua tak ada yang membawa payung, akhirnya kami putuskan untuk lari-lari kecil menerobos hujan. Kami menuju sebuah gang tempat mushola perkampungan itu ada. Setelah berwudhu bergantian. Kami mulai sholat maghrib berjamaah tentu saja si “mbak” yang menjadi imam. “Allahu akbar”…rokaat demi rokaat terlewati. Entah, semacam ada ketenangan-ketenangan tersendiri yang kurasa berbeda selama sholat bersama si “mbak”. Hingga usai sholat dan diteruskan dengan membaca dzikir dan doa yang dipimpin si “mbak” dengan ketenangan-ketenangan yang sulit ku terjemahkan. Hingga si “mba” bangkit dan bertakbir lalu segera bersujud. Aku baru tersadar ternyata itu adalah sujud syukur. Dalam penerjemahan akalku yang mungkin masih sempit, si “mbak” mensyukuri sholatnya, mensyukuri waktu yang Allah berikan padanya untuk bisa menunaikan dan mendirikan sholat, mensyukuri jiwa raganya yang masih bisa bersyukur. Sejenak aku merasa “merinding” dan lemas. Ya, betapa aku lupa akan ni’mat-Mu ya Robb, terima kasih ya Robb lewat si “mbak” Engkau sadarkan aku atas kelalaianku selama ini. Ya, aku lalai, aku lalai, aku malu pada-Mu ya Robb.
Kesyukuran pun harus kembali disyukuri…
Mbak, ku dapati syukur dalam sholatmu…
-Farwah-