Mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita tentang judul tembang di atas, Lir-Ilir. Syair ini dikarang Sunan Kalijaga, salah satu anggota Walisongo yang masyhur. Tembang tersebut mendobrak nilai dan budaya. Ditulis beberapa saat setelah nusantara mengalami keterpurukan menyusul runtuhnya kerajaan Majapahit dan dihadapkan pada proses islamisasi. Sang pujangga memulai dengan kalimat:
Lir Ilir, lir Ilir
Tandure wus sumilir
Bangun! Bangunlah!
Tanamannya sudah tumbuh.
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Bagaikan warna hijau yang menyegarkan
Bagaikan pengantin baru.
Lirik tersebut mengajak kita untuk meninggalkan keterpurukan pasca prahara politik nusantara. Menyambut datangnya Islam yang diibaratkan tanaman hijau menyegarkan, damai dan menyejukkan. Serta mengajak kita semua untuk membuka lembaran baru dengan penuh suka cita, layaknya pengantin baru.
Cah angon, cah angon
Penekno blimbing kuwi
Anak gembala, anak gembala
Tolong panjatkan pohon blimbing itu
Lunyu-lunyu yo penekno
Kanggo mbasuh dodot iro
Meskipun licin, tetap panjatlah
Untuk membasuh pakaianmu
Seorang pemimpin diibaratkan seorang penggembala. Ia harus menjadi sosok yang kuat mengarahkan hewan gembalanya agar tidak jatuh pada tempat yang membahayakan.Begitu pula seorang pemimpin. Laksana buah belimbing memiliki lima sisi, seorang pemimpin hendaknya memegang erat-erat lima unsur yang terkumpul dalam rukun Islam. Meski berat dalam mengamalkan rukun Islam, tapi harus diusahakan agar kita bisa membasuh pakaian. Adapun pakaian menurut orang Jawa adalah simbol agama.
Dodot iro, dodot iro
Kumitir bedahing pinggir
Kain pakaianmu, kain pakaianmu
Telah rusak dan robek
Dondomono, jlumatono
Kanggo sebo mengko sore
Jahitlah, tisiklah
Untuk menghadap nanti sore.
Agama kita tidak selamanya berada pada titik baik. Terkadang merosot dan rusaklah norma-norma keseharian. Sehingga perlu kita perbaiki, seperti kita menjahit pakaian yang robek. Perbaikilah agama kita, sebagai bekal kelak kita bertemu kepada Allah SWT.
Mumpung padang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Selagi masih terang rembulannya
Selagi masih luas lapangannya
Yo surako surak hiyo.
Ya bersoraklah, sorak iya.
Selagi masih ada kesempatan, senyampang nafas masih berdetak di jantung, berbahagialah ‘cah angon’ (red; pemimpin yang memperhatikan agama). Kini bangsa kita berada dalam keterpurukan mental, dekadensi moral, ketidakpastian hukum dan ancaman disintegrasi. Banyak pemimpin tidak mampu memberi contoh yang baik. Semoga syair yang ditulis Sunan Kalijaga di atas bisa menjadi pengingat bagi kita semua. (Wawa)
Wallahu a’lam bi as-shawwab.
Dikutip dari Majalah Langitan edisi 52